
"Maafkan Ibu, Nak, karena keinginan Ibu kamu harus menikah dengan orang yang belum kamu kenal sebelumnya," Ibu Halimah sadar jika apa yang dia lakukan tidak bisa di beli arkan sepenuhnya, tapi apa yang dia lakukan demi masa depan Fatimah.
"Sudahlah Ibu, semua ini sudah takdir, lebih baik sekarang kita fikirkan bagaimana caranya Ibu bisa sembuh dan sehat seperti dulu," ujar Fatimah.
"Ibu baik-baik saja, Nak, kamu jangan khawatir! apa lagi jika melihatmu bahagia, Ibu akan semakin baik," ujar Ibu yang membuat Fatimah tersenyum senang, melihat Ibunya tersenyum membuat Fatimah merasa bahagia dan senang, semua beban dalam hidupnya seolah terangkat hanya karena senyum sang Ibu.
Fatimah berhasil meyakinkan sang Ibu jika dirinya baik-baik saja, karena itulah sang Ibu pamit pulang dengan kelegaan hati yang terpancar jelas di wajahnya.
"Sayang, aku antar Ibu pulang dulu ya, apa kamu mau ikut?" tawar Satya sebelum pergi mengantar sang Ibu mertua untuk kembali pulang.
"Tidak Mas, aku tunggu di sini saja," jawab Fatimah melengkapi drama tanpa skenario yang di buat oleh Satya.
"Kamu yakin sendirian di sini tidak apa-apa?" sekali lagi Satya memastikan jika Fatimah baik-baik saja sendirian di apartemen yang baru dia tempati.
"Mas Satya tenang saja, aku bukan anak kecil yang akan menangis saat di tinggal sendirian di rumah," sahut Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Apa tidak lebih baik Satya temani Fatimah saja? Ibu bisa pulang sendiri kok," ujar Ibu Halimah mencoba menolak tawaran sang menantu yang akan mengantarnya, menurut Ibu Halimah akan lebih baik jika menantunya itu menemani sang Puteri di apartemen yang merupakan tempat baru untuknya.
"Tidak Ibu, Fatimah akan merasa tenang jika Mas Satya yang mengantar Ibu sampai rumah," sahut Fatimah.
"Kalau begitu kamu hati-hati di sini sendirian!" pesan Ibu Halimah sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Fatimah.
"Ibu yang harus hati-hati di jalan," sahut Fatimah seraya melambaikan tangan menyahuti ucapan sang Ibu.
Fatimah kini benar-benar sendirian, Satya sudah pergi mengantar sang Ibu.
"Ya Tuhan, semoga setelah ini semuanya masih baik-baik saja," Fatimah mengungkapkan harapan yang tersembunyi di dalam hatinya, kemudian pergi masuk ke dalam kamar.
Cukup lama Satya pergi, dia bahkan Fatimah yang menunggunya sampai tertidur di sofa yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Sedang Satya yang sengaja mengulur waktu tidak segera pulang malah pergi ke cafe yang tidak jauh dari apartemen miliknya.
'Apa yang aku lakukan ini salah? aku menikah hanya karena dendam padahal pernikahan merupakan sesuatu yang sakral,' malaikat baik dalam diri Satya sedang berbicara menghasut fikirannya.
'Kamu tidak salah Satya, semua yang kamu lakukan benar, Fatimah pantas mendapatkan balasan seperti saat ini, jangan menyerah! buat dia semakin sengsara!' kali ini setan yang mengalir dalam diri Satya berbicara.
Satya merasa bingung sendiri dengan bisikan-bisikan yang cukup membuatnya bingung hingga suara seorang gadis mengejutkan lamunannya.
"Hay Satya, apa kabar?" sapa seorang gadis berpenampilan menarik dan sangat cantik dengan rambut panjang yang tergerai indah.
"Farah," lirih Fatimah saat melihat Farah, gadis yang pernah mengisi hatinya namun pergi karena harus mengejar karir di luar negeri.
"Iya, aku Farah, bagaimana kabarmu?" sahut Farah yang langsung duduk tanpa di perintah oleh Satya.
Farah merupakan pacar Satya, keduanya terpisah karena Farah memilih mengejar karirnya, di antara keduanya belum ada kata perpisahan.
"Aku baik, apa kamu masih suka diam di cafe ini dengan secangkir kopi pahit saat ada masalah?" tanya Farah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Satya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Farah, hubungan mereka sudah terjalin selama dua tahun, karena itulah Farah sangat mengerti dengan kebiasaan Satya.
"Kamu masih ingat dengan kebiasaanku?" ujar Satya.
"Tentu saja, aku bahkan masih ingat saat pertama kali kita bertemu dan pertama kali kita jadian," sahut Farah, Sarya hanya tersenyum menanggapi ucapan Farah.
"Kenapa kamu kembali ke indonesia?" pertanyaan yang cukup membuat hati Farah sedikit tercubit.
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu?" sahut Farah.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan pertanyaan yang baru saja aku katakan?" Satya terdengar membingungkan.
__ADS_1
"Tentu saja, harusnya kamu bertanya Kapan kamu kembali? bukannya kenapa," Farah menjelaskan tutuk kesalahan Farah.
"Kapan kamu kembali?" Satya kembali bertanya, kali ini Satya bertanya dengan pertanyaan yang sesuai keinginan Farah.
"Kamu banyak berubah Satya," Farah yang geram dengan ucapan Satya memilih untuk mengabaikan pertanyaan Satya dan mulai mengkritik perubahan sikap Satya.
Satya tersenyum menanggapi kritikan Farah, bagi Satya saat ini Farah sudah menjadi masa lalunya, Tak ada niat untuknya merajut kembali sebuah hubungan yang telah lama kandas, Satya memang menikahi atas dasar dendam, tapi dia bukanlah tipe laki-laki yang suka mendua atau mempermainkan hati seorang wanita, Karena itulah dia tidak terlalu memperdulikan kehadiran Farah.
"Aku berubah?" Satya mengulangi perkataan Farah.
"Iya," sahut Farah cepat.
"Bukan aku yabg berubah, tapi keadaan yang sudah berubah," jawaban yang sungguh membuat Farah kembali mengingat jika dirinyalah yang pergi dan membuat Satya berubah seperti saat ini.
"Maaf, aku pergi bukan untuk laki-laki lain, atau meninggalkanmu begitu saja, kau tahu kan Satya, aku pergi demi karir dan impian yang selama ini aku impikan," Farah kembali menjelaskan penjelasan yangs ebenarnya sudah di jelaskan dulu, penjelasan yang tidak dapat di terima oleh Satya.
"Aku tidak ingin mengulang sebuah pertengkaran, jadi jangan ungkit sesuatu yang sudah terkubur dan tak mungkin untuk di gali atau bahkan di keluarkan lagi," tegas Satya.
Farah seketika terdiam mendengar penjelasan Satya, dia memang salah tak mendengarkan ucapan Satya dulu, padahal Satya adalah orang yang selalu mendukung bahkan memenuhi semua kebutuhan Farah, tapi keserakahan mampu menghapus segala kebaikan yang pernah Satya berikan.
"Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" Satya kembali bertanya saat melihat Farah diam tanpa kata.
"Jika tidak ada, aku pergi dulu." Pamit Satya.
"Satya," suara lirih Farah yanh memanggil namanya membuat langkah Satya terhenti.
"Izinkan aku memperbaiki segalanya, aku ingin kembali seperti dulu bersamamu," pinta Farah dengan ekspresi wajah memelas, jika saja Farah mengatakannya beberapa tahun yang lalu mungkin Satya akan luluh dan menerima Farah lagi, tapi sekarang sudah terlambat, hati Satya sudah membeku dan tak ingin mengulangi sesuatu yang sudah berakhir.
Tanpa jawaban ataupun kata, Satya melangkah pergi meninggalkan Farah yang masih diam menatap kepergian Satya, sungguh Farah menyesal karena pernah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Satya.
__ADS_1