Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Belajar Memakai Sarung


__ADS_3

"Apa aku secantik itu?" tanya Fatimah ketika Satya tak berhenti menatapnya.


Mendengar suara Fatimah membuat Satya terkejut dan langsung melepas pelukannya, Satya juga menjauhkan diri dari Fatimah.


"Siapa yang cantik? tidak ada yang cantik di sini," seru Satya yang kini sudah duduk di sisi tempat tidur dengan jarak yang cukup jauh.


"Sejak tadi kamu menatapku dengan lekat, aku juga mendengar jika kamu memujiku cantik tadi," Fatimah menjelaskan semua yang dia tahu dan dia dengar.


"Benarkah? jika kamu mendengarnya berarti telingamu masih normal," sahut Satya yang langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Fatimah yang kini tersenyum manis ke arah Satya.


"Itu artinya kamu memang memujiku cantik," Fatimah yang merasa belum mendapat jawaban yang dia inginkan kembali mengulang apa yang dia dengar sambil melempar pertanyaan ke arah Satya yang justru mengedikkan bahu acuh, dia malah masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri karena hari sudah sore.


"Fatimah!" suara Satya kembali terdengar setelah lima menit dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, ada apa, Mas?" sahut Fatimah seraya berjalan mendekat ke arah Fatimah.


"Ambilkan baju ganti untukku!" titah Satya.


"Baik, Mas," sahut Fatimah yang langsung berjalan mendekat ke arah lemari dan mengambil baju ganti untuk Satya.


"Mas Satya, di lemari tidak ada celana, hanya ada sarung, apa Mas Satya mau memakainya?" tanya Fatimah, di rumah Fatimah memang ada baju Satya beberapa hari yang lalu, tapi entah mengapa bajunya sekarang tidak ada, mungkin asisten rumah tangganya belum selesai mencuci bajunya.


"Apa tidak ada yang lain selain sarung Fatimah?" sahut Satya yang terdengar kurang menyukai pertanyaan Fatimah.


"Tidak ada, Mas, mungkin masih di cuci atau mungkin belum di setrika sama asisten rumah tangga di sini," jelas Fatimah.


"Jangan ke mana-mana! tunggu aku selesai mandi!" titah Satya.


Fatimah yang mendengar perintah Satya hanya bisa diam dan duduk di kursi sambil menatap kosong ke arah bakas yang ada di samping tempat tidur.

__ADS_1


"Oh ya, aku punya ponsel di nakas," lirih Fatimah seraya berjalan mendekat ke arah nakas dan mengambil kardus berisi ponsel yang pernah Ibunya berikan, satu tahun yang lalu, ponsel itu menjadi ponsel yang paling canggih dan paling bagus, hadiah karena Fatimah mendapat juara satu dari sang Ibu.


"Karena terlalu banyak masalah aku sampai lupa pada ponsel yang pernah aku simpan," lirih Fatimah yang kini mengecash ponsel yang memang sengaja di matikan.


"Fatimah!" panggil Satya sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi dan tak melihat Fatimah.


"Iya, aku di sini Mas," sahut Fatimah yang memang berada di samping nakas dan berjongkok meraih colokan untuk mengecash, karena itulah Satya tak bisa melihat Fatimah.


"Aku sering lihat santri wanita memakai sarung, apa kamu bisa memakai sarung?" tanya Satya.


"Bisa, memangnya kenapa?" sahut Fatimah.


"Aku tidak bisa menggunakan sarung dengan baik, ajari aku pakai sarung!" jawaban Satya cukup membuat Fatimah melongo karenanya.


"Kamu tidak bisa pakai sarung?" Fatimah mengulangi ucapan Satya.


"Iya, kenapa? aneh?" ujar Satya yang merasa jika Fatimah menatapnya dengan tatapan aneh.


"Bukankah kita hanya di wajibkan menutup aurat? aku bisa pakai celana panjang atau apapun yang penting bisa menutup aurat, lagi pula aku tidak pernah dengar seorang laki-laki harus memakai sarung saat menjalankan kewajibannya," Satya menjelaskan pendapatnya.


Selama ini Satya memang selalu memakai celana panjang saat dia menjalankan kewajibannya, semua itu di lakukan bukan tanpa alasan, Satya yang memang sibuk dengan segudang aktifitas merasa lebih praktis saat dia menggunakan celana panjang, meski dulu Satya pernah belajar memakai sarung, tapi dia sudah lupa sekarang, karena kejadian itu sangat lama sekali.


"Kenapa diam? apa yang aku katakan salah?" sambung Satya saat melihat Fatimah masihp diam mematung tak menjawab setiap ucapannya.


"Tidak, kamu memang benar, tunggu di sini! aku akan tunjukkan cara memakai sarung," sahut Fatimah yang memang sering memakai sarung saat berada di pesantren, bagi kebanyakan santri memakai sarung bukanlah hal yang sulit, bahkan sebagian besar santri lebih suka pakai sarung dari pada bawahan panjang atau rok panjang.


"Begini caranya," Fatimah menunjukkan cara memakai sarung dan Satya hany memperhatikan apa yang di lakukan oleh Fatimah.


"Jangan lepas di sini!" spontan Fatimah sambil menutup mata setelah melihat Satya melepas handuk yang menutupi bagian inti dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Buka matamu!" titah Satya sambil tersenyum lucu menatap ke arah Fatimah yang memejamkan mata.


Fatimah membuka mata dengan perlahan, dia takut Satya tidak memakai apapun, sungguh bayangan kotor itu tiba-tiba membayangi fikirannya yang polos.


"Kenapa nutup mata?" tanya Satya saat melihat Fatimah sudah membuka mata.


"Tidak apa-apa," jawab Fatimah yang kini merasa malu dengan pemikirannya sendiri, dia yang berfikir jika Satya tidak memakai apapun ternyata memakai boxer pendek.


"Apa kamu kira aku tidak memakai apapun, hingga kamu menutup mata untuk menghindar," Satya mencoba menebak apa yang tengah Fatimah fikirkan hingga dia menutup mata seperti tadi.


"Tidak, siapa juga yang mikir kayak gitu, jangan kepedean!" sahut Fatimah yang tak ingin Satya tahu apa yang baru saja dia fikirkan.


'Dasar fikiran kotor!' batin Fatimah mengutuk dirinya sendiri yang langsung berfikiran kotor, padahal Satya tidak seburuk itu.


"Apa memakai sarung seperti ini sudah benar?" Satya yang tak ingin memaksa Fatimah memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kata kamu tadi tidak bisa memakai sarung, tapi kenapa sekarang kamu bisa memakainya dengan rapi?" tanya Fatimah yang justru curiga pada Satya karena dia bisa memakai sarung dengan sangat rapi.


"Aku punya IQ tinggi Fatimah, jadi aku bisa belajar secepat kilat jika aku ingin mempelajarinya dengan sungguh-sungguh," ujar Satya yang kini malah terlihat menyombongkan diri di hadapan Fatimah, sedang Fatimah hanya diam menanggapi kesombongan Satya.


"Aku pergi ke dapur dulu. Apa Mas Satya ingin sesuatu? atau mau di masakkan sesuatu?" tanya Fatimah sebelum dia pergi meninggalkan Satya di kamar.


"Buatkan aku kopi susu seperti biasa," pinta Satya.


"Baiklah, tunggu di sini!" sahut Fatimah menyanggupi permintaan Satya.


Fatimah melangkah menuju dapur membuat kopi yang di minta oleh Satya.


"Sudah bangun, Nak?" sapa Ibu Halimah sesaat setelah Fatimah sampai di dapur.

__ADS_1


"Sudah, Bu," jawab Fatimah dengan senyum yang selalu di tunjukkan pada sang Ibu.


Fatimah langsung membuatkan kopi untuk Sarya dan berjalan kembali ke kamar tanpa sepatah katapun.


__ADS_2