
Fatimah yang mendengar perintah Satya merasa gugup, tangannya sedikit bergetar, pasalnya ini pertamanya kalinya dia menyentuh seorang laki-laki, sejak kecil Fatimah yang hidup di pesantren tak pernah bersentuhan langsung dengan laki-laki kecuali jika itu muhrim, dia hanya bersalaman atau mencium punggung tangan sang suami, tapi saat ini dia harus menyentuh tubuhnya, hal yang belum pernah dia lakukan.
"Jangan cuma diam Fatimah! pijit punggungku!" Satya kembali memberi perintah, rasanya menjengkelkan, hanya di suruh mijit saja Fatimah diam dan tak langsung melakukannya.
Perlahan tapi pasti Fatimah mulai menggerakkan tangan memijit punggung Satya yang terlihat putih milis tanpa cacat.
"Jangan lembek! sedikit lebih keras! pikiranmu tidak terasa," protes Satya saat merasakan sentuhan tangan Fatimah, sebenarnya saat ini Satya tengah melawan hasratnya yang tiba-tiba muncul saat Fatimah mulai menyentuh punggung Satya, tangan yang lembut membuat sesuatu yang tertidur kini bangun dan berdiri tegak tanpa bisa di kendalikan.
'Sial, kenapa aku masih saja memiliki hasrat pada gadis menyebalkan ini? ingat Satya! kamu menikahinya hanya karena ingin membalas rasa sakit hatimu karena dia telah menolakmu dulu!' batin Satya yang merasa jika apa yang terjadi pada dirinya adalah hal yang salah dan tidak bisa di benarkan.
"Hentikan! pijatanmu sungguh payah, wanita kok gak bisa mijit," seru Satya seraya memberi kode agar tangan Fatimah menyingkir dari punggungnya.
Fatimah hanya diam melihat sang suami yang kini berdiri melenggang pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
'Kenapa dia marah-marah terus? apa salahku? tidak bisakah dia bersikap sedikit lebih lembut padaku?' batin Fatimah kembali berbicara.
Fatimah merasa ada yang janggal dengan pernikahannya, bagaimana mungkin Satya tidak menyentuhnya sama sekali, dia bahkan bersikap begitu bh uruk, dan selalu berkata kasar pada Fatimah, apa sebenarnya tujuan Satya menikahinya?
Fatimah terus saja berfikir, dia berjalan menuju balkon kamar, duduk di ayunan kayu panjang yang dulu sering dia gunakan untuk tidur, rasanya sangat melelahkan memikirkan semua yang terjadi, Fatimah benar-benar tak bisa mengerti apa tujuan Satya menikahinya, ingin sekali dia bertanya, tapi keberanian dalam dirinya masih belum terkumpul, Fatimah masih takut untuk membicarakannya.
Berbeda dengan Fatimah yang tengah berfikir keras dengan sikap Satya yang sangat berbeda dengan laki-laki kebanyakan saat mereka sudah menikah, Satya justru sibuk bermain solo di dalam kamar mandi, ge gengsi dan rasa bencinya lebih besar dj bandingkan perasaan yang lain hingga dia memilih bermain solo dari pada bermain bersama sang istri.
'Sial, ternyata Fatimah memiliki daya pikat begitu kuat, hanya di sentuh seperti itu saja sudah membuat si joni bangun,' batin Satya menggerutu mengingat hasratnya yang langsung memuncak saat Fatimah menyentuh punggungnya.
"Ke mana Fatimah?" lirih Satya saat melihat kamar yang sepi tak berpenghuni.
__ADS_1
Saat ini Satya memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu hingga dia bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuhnya.
Satya yang tak melihat keberadaan Fatimah memilih untuk pergi ke balkon, mencari udara segar lebih baik dari pada berdiam di dalam kamar, Satya memang mengambil cuti selama empat hari, dia mengerjakan semua pekerjaan kantor lewat email yang di kirim para karyawannya.
"Kenapa dia malah tidur di luar?" gumam Satya saat melihat Fatimah justru tertidur di balkon.
Sekilas Satya melihat ke arah Fatimah kemudian dia kembali berjalan masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Fatimah yang seharusnya di pindahkan atau di bangunkan dan di suruh pindah.
Satya yang melihat keberadaan Fatimah di balkon membuat Satya menguringkan niatnya, dia memilih melanjutkan pekerjaan di sofa, meski sedikit jenuh karena berada di dalam kamar terus, bagi Satya itu jauh lebih baik dari pada mengerjakan di balkon tapi ada Fatimah di sana.
Siang terus berganti hingga malam tiba, Satya yang terlalu lelah baru bangun setelah Fatimah membangunkannya.
"Mas Satya bangun!" suara lembut Fatimah menyapa telinga Satya yang tengah lelap dalam tidurnya.
"Hm," sahut Satya yang langsung membuka mata, dan wajah Fatimah tepat berada di hadapannya saat itu, Satya yang baru bangun reflek memundurkan wajah menjauh karena merasa jika jarak di antara keduanya terlalu dekat.
"Sudah waktunya sholat, Mas Satya tidak bangun? Fatimah sudah menyiapkan air hangat untuk mandi," Jawab Fatimah.
Meski dalam lubuk hatinya paling dalam Fatimah merasa jika pernikahannya ini terasa aneh dan tidak wajar, tapi Fatimah tetap berusaha memenuhi semua kewajibannya.
Tanpa menjawab ucapan Fatimah, Satya langsung berdiri dan melenggang pergi meninggalkan Fatimah yang kini berdiri mematung di tempatnya, tapi satu menit kemudian Fatimah sadar jika dia harus memberitahu sesuatu pada Satya.
Tok ... tok ... tok ....
"Mas Satya!" panggil Fatimah mencoba memanggil Satya.
__ADS_1
"Hm," sahut Satya singkat.
"Baju gantinya sudah aku siapkan, Mas bisa memakainya setelah mandi, aku meletakkan baju gantinya di atas kasur, Mas bisa memakainya nanti," jelas Fatimah.
"Iya," sahut Satya singkat, sungguh dia laki-laki yang menyebalkan, sudah susah payah Fatimah menyiapkan air hangat dan baju untuk Fatimah, bukannya berterima kasih atau sedikit memberi pujian untuk Fatimah agar dia merasa senang, Satya malah terlihat acuh dan kurang perduli dengan apa yang di katakan Fatimah.
"Aku mau bantu Ibu nyiapin makan malam. Mas mau di masakin apa?" tanya Fatimah yang masih berusaha bersabar dengan apa yang sudah di lakukan oleh Satya.
"Terserah," jawaban yang sungguh menyebalkan kembali terdengar, kali ini Fatimah merasa malas untuk meneruskan percakapan, dia memilih langsung pergi ke dapur tanpa berbicara lagi pada Satya yang justru mandi dengan tenangnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
'Dasar laki-laki tidak punya perasaan, jawabnya singkat dan tidak berterima kasih pula, untung saja aku masih punya seribu kesabaran untuk menghadapinya,' batin Fatimah, sekali lagi dia hanya bisa menggerutu dalam hati tanpa berani mengungkapkannya.
Usai bersiap keduanya kini duduk berdampingan di ruang makan, menikmati makan malam yang sudah di siapkan.
"Sayang!" nada suara Satya terdengar lembut dan sangat romantis, berbeda jauh dengan nada suara dia saat berada hanya berdua dengan Fatimah di dalam kamar.
"Fatimah!" kali ini suara sang Ibu yang terdengar memanggil Fatimah yang justru tak merespon panggilan Satya.
"Iya, Ibu," sahut Fatimah menghentikan gerakannya menyuapkan nasi ke dalam mulut.
"Suamimu sedang memanggil, kenapa kamu diam saja?" ujar Ibu Fatimah.
"Maaf, aku terlalu serius menikmati makanan ini, jadi tidak dengar," jawab Fatimah sambil menggaruk lehernya yang tertutup kerudung meski tidak gatal.
"Sayang, tolong ambilkan minum! tanganku kotor," pinta Satya dengan senyum manis yang justru membuat Fatimah muak, rasanya dia ingin muntah melihat sikap manis Satya yang Fatimah mengerti jika suara itu di buat-buat.
__ADS_1
Satya memang memiliki kebiasaan makan dengan tangan jika dia sedang makan dengan menjadi tanpa kuah seperti saat ini, Fatimah dan Ibunya memasak ayam panggang lengkap dengan sambal pedas yang terasa begitu nikmat, masakan di rumah Fatimah terasa lebih enak dari pada masakan di rumah Satya, selama ini Mama Satya jarang memasak, padahal masakan Mama Satya jauh lebih enak dari masakan asisten rumah tangga di rumah Satya, tapi Papa Satya selalu melarang Mamanya masak dengan alasan Papanya tidak ingin sang Mama merasa capekcapek, padahal pekerjaan sang Mama hanya bersantai dan pergi berbelanja kalau sudah bosan di rumah.