
"Bukankah kamu sudah berpamitan padaku tadi?" sahut saat ia merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Fatimah.
"Pamitan itu harusnya seperti ini," ucap Fatimah Soraya meraih tangan kanan setia kemudian mencium punggung tangannya.
"Aku masuk dulu Mas, hati-hati di jalan!" Pamit Fatimah yang langsung berjalan meninggalkan Satya yang justru mematung menatap kepergian Fatimah dengan perasaan yang tak bisa dia gambarkan ataupun dia jelaskan.
"Assalamualaikum," ucap Fatimah saya berdiri di depan pintu menunggu sahutan dari dalam rumah.
"Waalaikum salam," sahudziyah yang memang sedang menunggunya sejak tadi, mendengar ucapan Fatimah membuat Zia merasa senang dan langsung berlari ke arah pintu dan segera membukakan pintu untuk Fatimah.
"Apa suamimu sudah pergi?" tanya Zia saat dia tak melihat Satya di samping Fatimah.
"Dia sudah pergi, "jawab Fatimah yang kini berjalan mengikuti langkah Zia masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di kursi yang ada di sana di samping Zia.
"Bagaimana kehidupan setelah berumah tangga?" tanya Zia setelah dia melihat Fatimah sudah duduk dengan nyaman di sampingnya.
Mendapat pertanyaan yang hampir sama dengan apa yang ditanyakan oleh teman-temannya di kamar tadi membuat Fatimah kembali terdiam dan bingung untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah dan jawabannya pasti tak memerlukan pikiran.
"Fatimah, are you okey?" Zia kembali bertanya saat melihat Fatimah tak kunjung menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh keduanya.
"Eh, iya, Neng," sahut Fatimah gugup.
"Apa kamu punya masalah Fatimah?" Zia mencoba mencari tahu alasan Fatimah terdiam.
__ADS_1
"Tidak ada, Neng, aku hanya merasa tidak enak badan tadi," elak Fatimah yang tidak mungkin mempercayai ucapannya.
"Kalau kamu masih merasa tidak enak badan, lebih baik sekarang kamu istirahat saja!" ujar Fatimah yang tak ingin melihat sang sahabat semakin sakit karenanya.
"Aku masih ingin mengobrol Neng, lagi pula cuma gak enak badan, gak bakal ngaruh sama kekuatan yang aku punya," sahut Fatimah sambil tersenyum ke arah Zia, mencoba meyakinkan Zia jika saat ini dia baik-baik saja.
"Kamu yakin?" sekali lagi Zia mencoba meyakinkan Fatimah, jika saat ini dia baik-baik saja.
"Tentu saja, Neng Zia jangan khawatir! semua pasti baik-baik saja," ujar Fatimah yang kini kembali tersenyum ke arahnya, agar Zia bisa percaya dan tidak terus mendesak Fatimah agar Zia tak lagi mendesaknya.
Keduanya saling mengobrol mengenang masa lalu dan menceritakan kembali apa yang sudah pernah terjadi hingga suara Farz yang entah sejak kapan datang ikut bergabung dengan Zia dan Fatimah.
"Loh, bukannya Mas Fariz masih praktek di rumah sakit Buya?" tanya Fatimah ketika mendengar Fariz yang menjawab jika dirinya juga sibuk mengurus tokoh barunya.
"Pantas saja Mas Fariz sangat jarang ada di pesantren, ternyata Mas Fariz punya kegiatan yang sungguh menguras waktu dan tenaga," sahut Fatimah dengan rona kebahagiaan yang tak lagi bisa dia tutupi, bercerita tentang masa lalu dan semua hal yang pernah di lewati bersama selama di pesantren membuat Fatimah merasa jauhlebih baik dan bahagia, meski hanya bercerita dan tak bisa mengulang waktu, tetap saja Fatimah masih merasa bahagia karenanya.
Faris yang mendengar pujian dari Fatimah hanya mampu tersenyum dengan hati terlaris, seandainya saja dulu dia mengikuti kata-kata Zia, bisa dipastikan jika Fatimah saat ini sudah menjadi istrinya bukan malah menjadi istri orang lain meski mereka sering mengobrol hanya lewat surat dan jarang sekali ketemu tapi kepribadian Fatimah yang sering ia dengar dari Zia dan dia lihat sendiri saat ini membuat rasa penyesalan yang dulunya tak pernah singgah kini mulai hinggap dalam hatinya.
Ddddrrttt ... drrtt ... ddddrrttt ....
Getar ponsel yang ada di saku Fatimah membuatnya teralihkan rumah dengan gerakan cepat Fatimah mengambil alih ponsel yang sebenarnya sejak tadi tidak begitu dihiraukan olehnya kemudian mulai menatap nama yang tertera dalam ponselnya.
'suamiku?' batin Fatimah membaca nama yang tertera di dalam ponsel yang tengah menyala, dia tidak pernah menyimpan nama suamiku dalam ponselnya dan tidak pernah ada nama itu di kontak ponselnya, hingga dia mengingat jika Satya tadi sempat memasukkan nomornya sendiri ke dalam ponsel Fatimah, dan dia juga memberi nama nomornya sendiri.
__ADS_1
'kenapa Mas satya menamai kontaknya dengan nama suamiku?' batin Fatimah masih saja merasa heran dengan apa yang baru saja dia lihat, pasalnya sikap Satya sangat jauh berbeda dengan nama yang ada di kontak itu, bahkan Satya tidak pantas disebut suami oleh Fatimah, karena sampai detik ini Satya belum menjalankan tugasnya sebagai suami secara sempurna.
"Fatimah! Kenapa malah bengong? memangnya telepon dari siapa?" tegur Zia yang sekali lagi merasa aneh dengan sikap Fatimah.
"Ini telepon dari Mas Satya," jawab Fatimah dengan senyum yang kini dia tunjukkan kepada Zia.
"Kenapa tidak langsung dijawab? Sudah jangan melamun cepat jawab ponselnya sebelum getarannya berhenti!" titah Zia yang kini semakin merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Fatimah, Zia mengenal begitu lama Fatimah, bukan hanya sehari atau dua hari bahkan dia sudah mengenal Fatimah lebih dari tiga tahun, karena itulah Zia sangat mengerti dengan apa yang telah dilakukan oleh Fatimah hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.
Fatimah yang mendengar perintah Zia langsung mengangkat teleponnya berdiri dan dan sedikit membungkukkan badan, memberi isyarat jika dia pamit untuk pergi keluar sebentar.
"Ada apa, mas?" tanya Fatimah sesaat setelah sambungan telepon tersambung.
"Kamu ingin membeli berapa bungkus bakso?" Jawab Satya yang memang saat ini tengah berada di warung bakso yang di maksud oleh Fatimah.
"Apa Mas Satya saat ini ada di warung bakso?" bukannya langsung menjawab Fatimah justru balik bertanya pada Satya.
"Iya, cepat katakan kamu ingin membeli berapa tanah seru "titah Satia yang tak ingin membuang-buang waktu atau mengulur waktu untuk menunggu ataupun menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh Fatimah.
"Aku ingin membeli tiga puluh bungkus," jawab Fatimah, anggota kamarnya berjumlah dua puluh lima orang dan keluarga Ummah empat orang, Fatimah sengaja membeli lebih karena dia menggenapkan pesanannya.
"Apa tiga puluh bungkus itu cukup tanda tanya atau kamu ingin membeli lebih banyak dari itu?" tawar Satya yang berpikir jika anggota kamar Fatimah jauh lebih banyak dari angka yang baru saja dia sebutkan.
"Cukup Mas, jangan membeli lebih dari itu karena aku takut terbuang sia-sia!" Pesan Fatimah sebelum akhirnya Satya mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
Baru beberapa menit berlalu setelah Satya memutuskan sambungan teleponnya, terdapat satu notif pesan masuk ke dalam ponsel Fatimah.