Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Sikap Baik Fatimah


__ADS_3

Makan malam telah usai, kini Satya duduk di balkon kamar menikmati suasana malam yang semakin sunyi, tampak bintang dan rembulan tak muncul menghiasi dunia, hanya ada angin dan hawa dingin yang semakin menusuk ke dalam tulang, tapi hal itu tidak mengganggu aktivitas Satya yang tengah duduk termenung memikirkan setiap hal yang telah terjadi dalam hidupnya.


"Angin malam bukanlah hal yang baik untuk kesehatan Mas Satya," suara Fatimah terdengar mengusik ketenangan Satya yang tengah menikmati suasana malam.


Fatimah mengulurkan satu jaket tebal ke arah Satya yang memang hanya memakai baju tidur biasa yang diyakini Fatimah pasti akan terasa dingin karena angin yang berhembus sedikit lebih kencang dari biasanya.


"Dan ini teh hangat untukmu." Fatimah kembali memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh setiap orang saat mereka berada di luar rumah saat malam hari dan hawa dingin tengah menguasainya.


"Kenapa kamu masih bersikap baik padaku?" Pertanyaan yang sebenarnya sangat lucu atau bahkan pertanyaan yang memang tidak seharusnya ditanyakan oleh Satya.


"Seorang istri pasti akan bersikap baik kepada suaminya, siapapun itu, tak terkecuali denganku, tidak peduli sikap sang suami baik atau buruk pada istrinya tapi kewajiban seorang istri harus tetap bersikap baik dan menjalankan semua tugas-tugasnya, dan itulah yang aku lakukan saat ini," jawab Fatimah sambil menyeruput susu hangat yang kini ada di tangannya. Fatimah mengatakan semua yang ada di hatinya itu sambil menikmati hawa dingin yang mulai menusuk ke dalam kulitnya meskipun dia sudah memakai baju yang cukup tebal tapi rasa dingin malam ini tak bisa menghilang begitu saja.


"Kenapa kamu mau menikah denganku? Padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu dan kamu belum pernah mengenalku lebih dekat," Satya tidak mungkin mengusir Fatimah ataupun menyuruhnya pergi dan tidak duduk di sampingnya, karena Satya sadar sekalipun dia menikahi Fatimah dengan niat ingin balas dendam, tapi Fatimah tetaplah istrinya dan dia punya hak jika hanya duduk di sampingnya saat ini.


"Aku hanya ingin berbakti pada pada ibu, selama ibuku merasa bahagia aku apapun akan aku lakukan dan aku tidak akan pernah peduli dengan apa yang akan terjadi akibat dari keputusanku itu,"jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Fatimah terlihat semakin cantik saat tersenyum, dia tidak pernah marah ataupun terlihat emosi menghadapi sikap Satya yang terkadang memang keterlaluan.


"Bagaimana jika ternyata kamu menikahi seorang laki-laki yang telah beristri, karena kamu tidak bertemu dengannya dan kamu tidak pernah mengenalnya sebelumnya," Satya kembali bertanya.

__ADS_1


"Ibuku sangat menyayangi diriku, dan aku yakin dia tidak akan pernah memilihkan pasangan hidup yang buruk untukku, karena setiap Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya, dan hal itu adalah keyakinan yang tak bisa menghilang bahkan aku selalu memegang keyakinan itu hingga saat ini, tidak peduli bagaimana sikapmu saat ini, aku kan tetap percaya jika pilihan ibuku adalah pilihan yang terbaik dan aku yakin kamu tidak akan terus bersikap seperti ini dan kamu pasti akan berubah suatu saat nanti," tutur Fatimah yang cukup membuat hati Satya terenyuh.


Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Satya maupun Fatimah keduanya hanya diam dan terus menatap langit yang terlihat sedikit gelap karena mendung menyelimutinya.


"Hujan," seru Fatimah saat merasakan tetes demi tetes air yang turun dari langit.


"Ayo masuk!" ajak Satya, entah sejak kapan dia mulai memikirkan Fatimah dan kesehatan Fatimah yang pasti akan terganggu jika dia tetap ada di balkon.


Fatimah yang mendengar ajakan Satya langsung berjalan mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu kaca besar penghubung antara kamar dan balkon, tak lupa Fatimah juga menutup rapat tirai agar tak terlihat dari luar.


"Selama ini aku merasa tidak tega melihat kamu tidur di sofa, jadi biar aku yang menggantikan kamu tidur di sofa dan kamu bisa tidur di atas kasur," jawab Fatimah sambil tersenyum meski hatinya tengah terluka, ada banyak tanya yang muncul di benak Fatimah saat melihat apa yang di lakukan oleh Satya.


Mendengar jawaban Fatimah membuat hati setia semakin terenyuh, dia tidak pernah menyangka jika Fatimah akan berpikir seperti itu, Satya benar-benar merasa jika balas dendam yang akan dia lakukan pasti akan gagal karena kelembutan hati dan sikap Fatimah padanya.


"Naiklah!" titah Satya.


"Maksudnya?" Fatimah yang tidak mengerti dengan perintah yang diberikan oleh Satya memilih untuk bertanya dari pada mengikuti perkiraan hatinya yang bisa berujung sebuah kesalahan dan hukuman yang tidak diinginkan oleh Fatimah.

__ADS_1


"Hari ini aku akan tidur di kasur dan kau ku izinkan tidur di sampingku," Satya yang mengerti jika Fatimah tidak mengerti dengan perintah yang dia berikan memilih untuk menjelaskannya dari pada memperpanjang kebodohan Fatimah yang tidak mengerti perintah yang diberikan padanya.


'kenapa aku seperti seseorang gadis ja**ng? ucapan Mas Satya terdengar seperti seorang laki-laki yang menuruti keinginan seorang gadis ja**ng yang ingin tidur bersamanya,' batin Fatimah yang merasa jika saat ini dirinya terlihat seperti seorang ja**ng yang tengah meminta atau merayu seorang laki-laki untuk tidur bersamanya.


"Tunggu apa lagi? Cepat naik nanti istirahat!" Sekali lagi Satya memberi perintah kepada Fatimah yang hanya diam mematung di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.


"I~iya sebentar," sahut Fatimah yang langsung berjalan mendekat ke arah Satya setelah mendengar perintah Satya dengan nada yang sedikit lebih tinggi, Fatimah meletakkan bantal dan selimut yang tadi dia bawa kemudian berdiri hendak meninggalkan kasur tempat tidur, tapi langkahnya terhenti karena suara Satya kembali terdengar.


"Kamu mau ke mana lagi?" Tanya Satya saat melihat Fatimah hendak pergi.


"Aku mau ganti baju Mas," jawab Fatimah yang memang sejak tadi berniat meletakkan bantal yang selimut di sofa kemudian pergi pengganti baju panjangnya dengan baju tidur yang dia bawa dari rumahnya.


"Tumben ganti baju? Biasanya juga tidur pakai baju itu," gumam Satya yang tak didengar oleh Fatimah karena dia bicarakan sudah berada di ruang ganti baju.


Kali ini fatimah berganti baju dengan durasi tang sedikit lebih lama, semua itu terjadi bukan karena Fatimah kesulitan memilih baju ganti, tapi Fatimah sedikit kesulitan merapikan rambut yang sudah berubah bentuk akibat perhatian sang Mama mertua.


"Kenapa jadi makin ribet ya? tapi kalau aku biarkan pasti terlihat jelek," gumam Fatimah sambil merapikan rambutnya, jika biasanya rambut fatimah yang panjang lurus akan di kuncit kuda, kini rambutnya berubah di gerai indah membuat kecantikan Fatimah semakin terpancar.

__ADS_1


__ADS_2