
"terima kasih pak Santo,"ucap Fatimah setelah dia mengambil ID card yang disadarkan oleh pak Santo kemudian dia melanggar pergi meninggalkan mobil dan masuk ke dalam kantor yang terlihat begitu megah di hadapannya.
Sesuai dengan instruksi sang Mama mertua, Fatimah langsung berjalan menuju resepsionis yang memang ada di sana.
"Permisi, mbak," siapa Fatimah sesaat setelah dia sampai di dalam kantor Satya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" sahut seorang gadis yang terlihat begitu cantik dengan dandanan natural tapi terlihat elegan.
"Maaf mengganggu, saya ingin bertemu dengan Mas Satya," tutur Fatimah dengan nada lembut dan penuh kesopanan dia berucap.
"Maaf apa anda sebelumnya sudah membuat janji?" Tanya sama resepsionis yang memang bertugas untuk menanyakan hal itu setiap kali ada orang yang mencari Satya.
"Tidak, tapi saya punya ini, kata Mama Nia saya bisa masuk dan menemui Mas Satya kalau menunjukkan ini padamu," tutur Fatimah dengan ekspresi wajah polos dan kata-kata lugu yang cukup membuat sang resepsionis percaya dan yakin jika Fatimah mengenal keluarga Satya, meski begitu sang resepsionis tidak pernah menyangka ataupun berpikiran jika yang ada di hadapannya saat ini adalah istri sah dari Satya pemilik perusahaan tempat dia bekerja saat ini.
"Baiklah, mari ikut saya! Biar saya antar mbaknya ke sana." Ucapkan resepsionis dengan tutur kata lembut dan ramah menyambut kedatangan Fatimah dan mengantarkannya menuju ruangan Satya.
Tok ... tok ... tok ....
Sang resepsionis tidak begitu saja masuk ke dalam ruangan Satya, dia mengetuk pintu dan berucap sopan jika ada seseorang yang ingin menemui Satya saat ini.
"Permisi, Tuan, ada kamu yang ingin menemuimu," tutur sang resepsionis Yang masih berdiri tegak di depan pintu, sedang Fatimah sibuk memperhatikan setiap sudut di ruangan itu.
"Tunggu sebentar!" sahut asisten pribadi Satya.
"Mbaknya bisa tunggu di sini! Saya tinggal dulu. Mungkin pak Satya sedang ada rapat penting atau sedang mendiskusikan sesuatu dengan rekan kerjanya di dalam, nanti kalau urusannya sudah selesai mbaknya bisa masuk setelah pintu ini dibuka dari dalam," sang resepsionis menjelaskan apa yang terjadi dan memberi arahan agar Fatimah tetap diam menunggu Satya yang mungkin sedang sibuk di ruangannya.
"Terima kasih, Mbak," sahut Fatimah yang langsung duduk di kursi yang sudah disediakan oleh resepsionis tadi.
__ADS_1
Fatimah yang memang memiliki kesabaran ekstra, menunggu dengan sabar Satya yang tak kunjung keluar dari ruangannya, hingga seperempat jam lamanya Fatimah menunggu tanpa ada kepastian, dan akhirnya pintu yang sejak tadi ditunggu telah terbuka melegakan hati Fatimah yang sejak tadi menunggunya.
"Nyonya," sapa asisten pribadi Satya, saat pesta pernikahan Satya dan Fatimah memang tak banyak orang yang di undang, hanya beberapa orang yang memiliki posisi penting yang di undang.
Fatimah tersenyum menanggapi panggilan asisten pribadi Satya yang baru saja dia dengar.
"Apa Mas Satya ada?" tanya Fatimah.
"Ada, masuklah!" sahut asisten pribadi Satya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Permisi Tuan, Nyonya Fatimah datang," ujar asisten pribadi Satya yang kini berdiri di belakang Fatimah.
Terlihat ada beberapa orang yang sedang berada di hadapan Fatimah tengah duduk berhadapan, seorang gadis dengan pakaian yang cukup minim dan menampakkan beberapa bagian yang harusnya di tutupi.
"Apa masih ada yang perlu di bicarakan lagi?" bukannya menyahuti ucapan sang asisten pribadi, Satya justru melayangkan sebuah tanya pada seorang gadis yang duduk di hadapannya.
"Silahkan!" sahut Satya.
Dengan angkuhnya gadis itu berjalan dan melempar senyum tipis sebagai sapaan pada Fatimah yang justru membalasnya dengan senyum ramah, sungguh tidak seimbang.
"Daniel!" panggil Satya pada asistennya yang bernama Daniel.
"Iya, Tuan," sahut Daniel.
"Keluarlah!" titah Satya.
"Baik, Tuan," sahut Daniel yang langsung pergi meninggalkan ruangan Satya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Satya sesaat setelah dia melihat Daniel keluar dari ruangannya.
"Aku membawakan makanan untukmu, tadi Mas Satya belum sarapan, jadi aku memutuskan untuk membuatkan makan siang untukmu," jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Duduklah!" titah Satya yang langsung duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan, Satya memberi isyarat agar Fatimah mendekat dan duduk di sampingnya.
Fatimah membuka kotak makan meletakkannya di harapan Satya. Terlihat beberapa potong ayam bakar lengkap dengan sambal dan nasi berada di wadah yang berbeda, tampilan makanan yang dibawa oleh Fatimah begitu menggiurkan apalagi aromanya menggugah selera, dan mengajak siapapun yang menciumnya untuk memakan bahkan melahap habis ayam bakar itu.
"Khem," suara seorang laki-laki yang cukup membuat Satya merasa cukup terganggu dengan kehadiran orang lain di ruangan pribadinya.
"Astaga, kenapa kamu selalu menggangguku sih, Kak" keluh Satya yang merasa jika sang kakak selalu saja datang di waktu yang amat sangat tidak tepat.
"Wah kamu salah Satya, aku selalu datang di waktu yang amat sangat tepat, sudah aku duga jika Fatimah pasti akan mengirimkan makanan untukmu, karena tadi kamu tidak sempat makan dan karena itulah aku sengaja datang ke sini untuk melihat apakah dugaan itu benar atau salah, dan sesuai dengan dugaanku Fatimah datang itu artinya aku bisa makan gratis hari ini," ujar Satria tanpa rasa bersalah dia berkata seenaknya sendiri.
"Makanya nikah Kak, jadi ada yang merawatmu dan tidak perlu mengganggu istri orang lain," sahut Satya yang memang benar-benar merasa jengkel dengan kedatangan Satria saat ini.
"Sudah, jangan bahasa apapun saat ini!" tegas Satria.
"Fatimah, adik iparku yang baik bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian dan bolehkah aku mencicipi makanan yang kamu buat itu?"Satria yang mengerti sifat baik Fatimah, dan sangat yakin jika Fatimah tidak akan menolak permintaannya, memilih meminta izin kepada Fatimah dari pada meminta izin kepada Satya yang jelas akan menolaknya.
Sejenak Fatimah terdiam memikirkan apa yang akan dia lakukan, apa dia bisa mengiyakan? atau dia harus menolak, Fatimah menoleh ke arah Satya yang justru terlihat tidak terganggu dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Satria.
"Boleh, lagi pula makanannya ada banyak kok, cukup untuk kita semua," jawab Fatimah, makanan yang dia bawa juga cukup banyak.
Mendengar jawaban Fatimah, Satya langsung mengambil beberapa potong ayam dan nasi yang menurutnya cukup untuk mengisi perutnya yang tengah lapar, kemudian memakannya dengan acuh, tanpa memperdulikan Satria yang hanya di sisakan dua potong ayam dan sedikit nasi.
"Maaf Kak, nasi dan ayamnya tinggal ini, Kakak tidak apa-apa, Kan?" tanya Fatimah yang merasa tidak enak hati dengan apa yang di lakukan oleh Satya.
__ADS_1