Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kabar Ibu Halimah Sakit


__ADS_3

Matahari terasa semakin terik, cahaya yang semakin terang juga membawa hawa panas yang kini semakin masuk ke dalam kulit, Fatimah yang memang sejak tadi dia mematung menatap langit dan beberapa pemandangan yang ada di bawahnya kini merasa terusik karena hawa panas yang mulai menusuk ke dalam kulit, dengan langkah pelan dan pasti Fatimah kembali masuk ke dalam rumah berniat untuk membersihkan diri dan menunaikan salat Dhuha yang selalu dia kerjakan hampir setiap hari.


Tok ... tok ... tok ...


"Iya, siapa?" Ujar Fatimah saat mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Ini saya non, Bik Mina" saat seseorang yang memang sejak tadi menutupi itu dengan tergesah-gesah.


"Ada apa, Bik?" Tanya Fatimah sesaat setelah dia membuka pintu kamar yang sejak tadi tertutup rapat.


"Ada seorang laki-laki paruh baya katanya sopir pribadi dari keluarga nona datang ke sini dan dia juga bilang jika ada kabar penting yang harus Nona dengar," jawab Bik Mina dengan ekspresi wajah bingung yang kini terlihat jelas di depan mata Fatimah.


"Sopir keluarga aku? Kenapa mencariku? apa dia mengatakan sesuatu Bik?" Bukannya langsung keluar dari kamar dan menemui sang sopir, Fatimah di depan pintu kamar sambil terus bertanya pada Bik Mina.


"Maaf Non, Bibik tidak tahu apa yang terjadi dan maksud dari kedatangan sabar pribadi keluarga Nona," jawab Bik Mina yang memang belum sempat menanyakan apapun pada orang yang mengaku sabagai sopir pribadi dari keluarga Fatimah.


Mendengar jawaban Bik Mina yang diyakini Fatimah jika apa yang dikatakan nya memang benar, membuat Fatimah di depan pintu langsung menutup pintu dan berjalan turun ke lantai bawah menuju ruang tamu untuk menemui seseorang yang mengaku sebagai sopir dari keluarganya.

__ADS_1


"Pak Yusuf, ada apa?" Fatimah tidak bisa menahan diri saat melihat Sopir pribadi keluarganya yang bernama Yusuf sedang duduk di ruang tamu menanti kehadirannya.


"Maaf mengganggu Non, saya ke sini diutus oleh Bik Husna, Bu Halimah sedang sakit dan ingin bertemu dengan Nona," jelas Pak Yusuf yang langsung mengatakan apa tujuannya datang ke rumah Fatimah saat ini.


"Apa? Ibu sakit? sejak kapan? apa sakitnya parah? atau bagaimana?" tanya Fatimah dengan ekspresi wajah penuh kecemasan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Nona Fatimah bisa melihatnya sendiri bagaimana keadaan Nyonya Halimah, maaf, karena saya tidak bisa menjelaskan seperti apa keadaannya saat ini," jujur sang sabar yang memang tidak tahu bagaimana keadaan Ibu Halimah yang sebenarnya, dia hanya mendapatkan perintah dari Bik Husna untuk menjemput Fatimah dan memberitahukannya bahwa sang ibu sedang sakit.


"Baiklah, tunggu aku di sini sebentar!" pesan Fatimah yang langsung berjalan dengan langkah yang lebar masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan beberapa barang yang perlu dibawa.


"Ayo, berangkat Pak!" Ajak Fatimah yang kiri merasa begitu khawatir dengan keadaan sang Ibu hingga dia lupa untuk berpamitan dan memberitahukan kepergiannya.


"Ini sudah cepat Non, bapak tidak berani mempercepat laju mobil ini lebih dari sekarang, bahaya Non," jawab sabar yang memang tidak pernah berani melajukan mobilnya lebih dari batas kecepatan rata-rata.


Fatimah yang mendengarkan jawaban sang sopir yang memang benar adanya memilih untuk diam dan membaca banyak sholawat agar keadaan sang Ibu bisa jauh lebih baik, dan tidak terjadi apa-apa padanya.


'Ibu, sebenarnya ada apa lagi denganmu? Semoga kau baik-baik saja,' batin Fatimah terus saja baru jam sekaligus berdoa agar keadaan sang Ibu baik-baik saja dan tidak terjadi apapun padanya.

__ADS_1


Perasaan Fatimah begitu campur aduk adalah rasa senang karena akan bertemu dengan ibunya, adalah khawatir dan cemas yang tidak menjadi satu, sungguh Fatimah tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada sang ibu, mengingat apa yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu keadaan ibunya yang begitu hingga membuatnya terpaksa untuk menikah dan meninggalkan pesantren, Fatimah berharap kabar ibunya sakit kali ini tidak separah dengan kabar yang pernah dia dengar waktu itu.


"Loh, kenapa kita tidak ke rumah pak?" Fatimah kembali bertanya ketika dia menyadari jika mobil yang sedang ditumpangi berbelok ke arah yang lain bukan ke arah rumah Fatimah.


Fatimah seperti tidak berbicara ataupun menjawab pertanyaan Fatimah kemudian lebih banyak diam dari pada terus bertanya tapi sang sopir tidak punya jawabannya.


Mobil terus melaju menuju rumah sakit di mana Ibu Halimah pernah di rawat dulu, jantung Fatimah seketika pada tak pakai itu kencang saat mengingat beberapa waktu yang lalu, di mana dia harus pulang dan melihat sang ibu yang tergeletak lemah di atas brankar rumah sakit, tanpa banyak berfikir Fatimah langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui sang Ibu.


Belum jauh Fatimah melangkah dia baru mengingat jika dirinya tidak tahu di mana ruangan sang ibu dirawat.


"Pak Yusuf! Ibuku dirawat di mana?" Seketika langkah Fatimah terhenti dan dia langsung menoleh ke belakang dengan sedikit berteriak dia menanyakan di mana ruangan sang ibu kepada sang sopir.


"Ruang anggrek nomor dua, Non," jawab Pak Yusuf, dia memang tidak tahu bagaimana keadaan Bu Halimah saat ini, dan sakit apa yang tengah diderita oleh Bu halimah, tapi setidaknya Bik Husna sudah memberitahu di mana letak ruangan Bu Halimah dirawat.


"Terima kasih, Pak," ucap Fatimah kembali berbalik arah dan berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan Bu Halimah dirawat.


"Ibu," lirik Fatimah saat dia berada di depan ruangan sang ibu, tanpa terasa dan tanpa diperintah air mata yang sejak tadi entah ada di mana kini mulai mengalir tanpa bisa dihentikan, ingatannya tertuju ke beberapa waktu yang lalu saat dia baru pulang dari pesantren dan melihat sang Ibu tergeletak lemah seperti saat ini kembali muncul, ada rasa sesal yang tak bisa dia ucapkan tapi Fatimah tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini dia menikah dan ikut suaminya juga karena perintah dari sang ibu, karena itulah hanya air mata yang mampu melukiskan bagaimana perasaan Fatimah saat ini.

__ADS_1


Langkah yang tadinya lebar kini berubah menjadi pelan, sungguh Fatimah tidak menyangka jika dirinya akan melihat keadaan Ibu Halimah seperti ini lagi, tergolek lemah di atas brankar rumah sakit dengan infus dan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya, sungguh jika saja Fatimah bisa memindahkan penyakit itu dan rasa sakit yang diderita oleh sang ibu maka dia akan memintanya, agar sang ibu bisa sembuh dan kembali seperti sedia kala, tapi takdir berkata lain apa yang diinginkan oleh Fatimah tidak akan pernah terjadi karena itu adalah hal yang mustahil, kini Fatimah hanya bisa menegaskan air mata sembari membuka pintu dan menemui sang ibu yang terlihat tidak sadarkan diri.


__ADS_2