
Faris memeriksa keadaan Ibu Halimah, mencoba mencari tahu bagaimana keadaan Ibu Halimah saat ini.
"Bagaimana Mas Faris? apa sekarang Ibuku sudah baik-baik saja?" Fatimah terlihat begitu tidak sabar menunggu jawaban Faris yang sedang memeriksa keadaan sang Ibu.
Faris yang memeriksa Ibu Halimah merasa bingung untuk menjelaskan keadaannya yang memang sedang tidak baik-baik saja, sedang Satya yang melihat Fatimah memanggil Faris dengan sebutan Mas dan berada di samping Faris membuatnya cemburu, meski di sisi lain Satya sadar jika saat ini Fatimah berada di sana karena merasa sangat khawatir dengan apa yang sedang dialami oleh sang ibu, tapi rasa cemburu itu tetap saja datang kembali bertengkar dengan Fatimah.
'sabar! Kamu harus bersabar Satya! Fatimah berada di sampingnya dan memanggil Mas bukan karena dia suka atau mencintai Faris, saat ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu ataupun marah karena kedekatan Fatimah dan Faris,' batin saat yang mencoba menguatkan dirinya sendiri yang memang tak bisa menghilangkan rasa cemburu yang masih saja menguasai hatinya.
"Semua akan baik-baik saja, kamu hanya perlu berdoa agar ibumu segera sembuh!" Jawab Faris yang mencoba tersenyum meski sebenarnya meski sebenarnya dia merasa sedih dengan keadaan yang ada di hadapannya.
"Syukurlah jika Ibu memang baik-baik saja," sahut Fatimah terlihat merekah di wajahnya, sedang Faris mencoba memberitahu sesuatu pada Satya agar dia ikut bersamanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu jika ada sesuatu yang gawat kamu bisa menghubungi lewat ini," pesan Paris sebelum dia meninggalkan Fatimah yang kini beralih duduk di samping sang ibu yang telah membuka mata.
"Emm, Fatimah!" lirih Satya mencoba mencari alasan untuk keluar dari ruangan sang Ibu dan mengikuti langkah Faris yang terlebih dulu keluar dari ruangan.
"Iya, ada apa Mas?" Sahut Fatimah yang langsung menoleh ke arah Satya yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin aku beli aku keluar dulu ya." Pamit Satya.
"Baiklah, jangan terlalu lama!" Sahut Fatimah yang memang merasa kesepian dan jika harus berada sendiri di ruangan itu, meskipun sang Ibu sudah siuman, tetap saja rasanya akan lengkap jika Satya juga ada di ruangan itu.
"Siap, Ibu, aku pergi dulu." Kali ini Satya berpamitan kepada sang ibu yang hanya memejamkan mata sebentar kemudian kembali membuka mata memberi tanda jika dia mengizinkan Satya pergi dari ruangan itu.
'syukurlah Fatimah tidak mencurigaiku, memangnya ada apa dengan Faris tanda tanya kenapa dia hanya memanggilku apa ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku?'berbagai pertanyaan muncul di benak Satya, dan pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang diyakini setia hanya farislah yang memiliki jawaban itu.
Satya terus saja melangkah mengikuti langkah Faris yang kini berada di hadapannya menuju ruangan Faris Yang ternyata berada dekat dari ruangan Ibu Halimah.
"Ada apa, dokter Faris?" tanya Satya sesaat setelah dia masuk ke ruangan Faris dan duduk tepat di hadapannya.
"Ibu Halimah, kenapa dengan ibu mertuaku?" Sahut Satya yang merasa heran dengan sikap Faris saat ini, kenapa dia harus mengatakan keadaan ibu mertuanya itu kepada Satya bukan mengatakannya langsung kepada Fatimah.
"Sebenarnya keadaan ibu Halimah tidak baik-baik saja, keadaannya semakin drop dan semakin parah dari sebelumnya, aku mah bukan Tuhan yang menentukan kematian seseorang, tapi melihat kasus yang terjadi pada ibu Halimah membuatku mengingat beberapa kasus yang sama, kebanyakan dari mereka memiliki umur tidak panjang, aku mengatakan ini semua padamu karena aku tidak akan pernah tega mengatakannya kepada Fatimah, meski aku tahu sebenarnya ini adalah tugas dokter, tapi tetap saja aku tidak mampu mengatakan semua ini kepada Fatimah, karena itulah aku berpikir untuk mengatakan semua ini padamu dan aku harap kamu bisa mengatakannya kepada Fatimah," jujur Faris tentang keadaan ibu Halimah yang sebenarnya.
Satya memang tidak pernah tahu penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh sang ibu mertua, karena itulah dia merasa terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Faris.
__ADS_1
"Apa Fatimah sudah tahu penyakit apa yang di derita oleh ibunya?" Tanya Satya yang memang tidak pernah tahu tentang mertuanya itu.
"Menurut sepengetahuanku, Fatimah sudah tahu apa yang diderita oleh ibunya, dan aku yakin dia mengerti dengan ucapanku saat ini, cara menyakiti ibunya memang bukan penyakit biasa," jelas Faris.
"Baiklah, aku akan memberitahukannya nanti jika keadaan Fatimah jauh lebih baik dari sekarang," jawab Satya yang memang membutuhkan waktu yang tepat untuk mengatakan semua yang sebenarnya terjadi kepada Fatimah saat ini.
"Aku pamit dulu, terima kasih sudah merawat Ibu mertuaku," ujar Satya sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan ruangan Faris.
"Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang dokter untuk merawat setiap pasien yang datang ke rumah sakit ini, jadi tidak perlu berterima kasih padaku," sahut Faris yang memang merasa tidak pantas untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari satya yang memang memiliki hati yang murni seluas samudra.
"Apapun alasannya aku tetap berterima kasih padamu, Dan aku harap kamu masih bisa merawat ibu Halimah dengan sangat baik agar dia bisa memiliki setitik harapan untuk sembuh," ujar Satya yang kali ini terdengar begitu tulus dari dalam hatinya.
Dengan langkah pelan dan pasti Satya berjalan keluar dari ruangan Faris menuju kantin untuk membeli sesuatu karena tadi ia berpamitan pada Fatimah keluar dari kamar kena rasa sesuatu yang harus ia cari, dan Saty memutuskan untuk membeli beberapa makanan juga cemilan dan tak lupa air minum untuk Fatimah nanti.
"Bagaimana keadaan ibu saat ini?" tanya Satya sesaat setelah dia sampai di samping tempat tidur Ibu Halimah, hal pertama yang saat dia lakukan adalah menanyakan keadaan sang ibu mertua kemudian memberikan satu kantong plastik yang penuh dengan makanan dan juga minuman yang sempat diberikan oleh Satya.
"Kenapa Mas Satya memberikan begitu banyak makanan untukku? Aku tidak mungkin menghabiskannya sekarang, Mas," ujar Fatimah yang memang merasa jika makanan dan juga minuman yang baru saja di belikan oleh Satya terlalu banyak sangat tidak mungkin untuk dihabiskan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu bisa menyimpannya nanti, sekarang lebih baik kamu makan dulu nasi itu! Aku tahu kamu belum makan siang bukan," sahut Satya yang tidak ingin Fatimah telat untuk makan siang.
"Bagaimana kalau kita makan bersama?" Tawar Fatimah yang sangat mengerti jika Satya juga belum makan apapun karena tadi Fatimah berjanji untuk mengiri makanan ke sana.