
"Ibu, aku mohon makanlah!" Sudah sekian kali Fatimah meminta dan memohon kepada ibu Halimah agar dia mau memakan makanannya, tapi apa yang dia dapat hanya sebuah penolakan.
"Sudahlah Fatimah, jangan memaksa ibu untuk makan!" Sahut Ibu Halimah yang lihat semakin lemah.
"Tapi Ibu harus makan, biar cepat sembuh," ujar Fatimah dengan ekspresi wajah membelas dia terlihat memohon dan berharap Ibu Halimah mau mengikuti keinginannya untuk makan.
"Fatimah, dengarkan Ibu! umur setiap orang sudah diatur oleh sang pencipta, jika suatu saat nanti sudah tiba waktunya ibu akan pergi, maka ingatlah satu hal! Kamu harus tetap melanjutkan hidupmu! Jangan pernah terpuruk ataupun terlalu memikirkan ibu! Cukup doakan dan lakukan semua ajaran baik yang pernah kamu dapatkan di pesantren, agar ibu bisa hidup tenang bahagia di alam kubur nanti," pesan Ibu Halimah yang cukup membuat Fatimah terpukul karenanya.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja Ibu Halimah katakan membuat mata Fatimah sejak tadi memelas kini terlihat sembab karena sebuah air mata yang perlahan menetes tanpa bisa dibendung olehnya.
"Ibu, aku akan melakukan yang terbaik untukmu agar Ibu bisa sembuh, aku mohon jangan pernah katakan itu lagi! Karena aku yakin Ibu pasti bisa sembuh, kumohon padamu ibu, bertahanlah!" Bukannya menerima pesan dari sang ibu dengan penuh lapang dada, Fatimah justru meminta sang Ibu agar tetap bertahan dan tidak mengatakan hal yang baru saja dikatakan olehnya.
"Ingatlah Fatimah jika setiap makhluk hidup yang bernafas di dunia ini pasti akan kembali kepada pemiliknya, jangan pernah mencintai seorang hamba melebihi cintamu kepada sang pencipta karena tak ada yang kekal di dunia ini! Kamu tidak boleh terpuruk jika suatu saat nanti Ibu telah tiada! Tetaplah menjadi Fatimah seperti saat ini! Tersenyum dan berbahagialah, Nak! Karena jika nanti kamu berbahagia dan tersenyum maka ibu akan tersenyum dan bahagia, meski raga Ibu ada di samping, tapi percayalah jika ibu selalu ada di hatimu, bahkan ibu jauh lebih dekat dari itu," jadi bu Halimah mencoba memberi kekuatan kepada Fatimah, semua pesan yang baru saja dia katakan kepada Fatimah dan Satya merupakan pesan terakhir yang Ibu Halimah harap bisa dimengerti dan dilaksanakan oleh keduanya, bukan maksud ibu halimah mendahului takdir, tapi apa yang terjadi padanya cukup membuat Ibu Halimah mengerti jika saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku mohon padamu, Ibu, bertahanlah!" Fatimah terdengar tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja dikatakan oleh ibu Halimah, pelukan hangat penuh kasih sayang dan rasa takut kehilangan yang terasa begitu besar dalam diri Fatimah kini juga ikut dirasakan oleh ibu Halimah, tapi Ibu Halimah tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam dan menikmati pelukan hangat penuh kasih sayang sang Putri tanpa bisa berbicara sepatah katapun padanya.
__ADS_1
Ibu Halimah terlihat semakin lemas tak berdaya jangankan mengangkat tangan untuk mengusap lembut kepala Fatimah, bahkan Ibu Halimah terlihat terbaring lemas tanpa bisa berjalan sedikitpun, mata Ibu Halimah yang terbuka kini perlahan menutup seolah terlihat tenang dan damai dalam tidurnya, tangan Ibu anime yang sejak tadi ikut memeluk Fatimah kini perlahan turun menandakan jika sang empu tak lagi memiliki kekuatan untuk mengangkatnya.
"Ibu," lirih Fatimah saat merasa sang Ibu tidak lagi merespon pelukannya.
"Bangun, Bu!" Sekali lagi Fatimah mencoba membangunkan sang Ibu agar beliau bisa kembali memeluk Fatimah, tapi apa yang dilakukan oleh Fatimah sama sekali tidak berpengaruh dan ibu Halimah masih saja tetap terlihat lemah dan lemas.
"Ibuuu!! aku mohon!!! Bangunlah!!" Suara Fatimah sedikit naik satu oktaf dari yang tadi mencoba membangunkan sang ibu yang kini tetap menutup mata seolah tak mendengar dengan teriakan Fatimah.
__ADS_1
"Ada apa, Fatimah?" tanya Satya saat mendengar Fatimah sedikit berteriak di ruangan yang sejak tadi sunyi dan sepi, Satya baru saja selesai membersihkan tangan di kamar mandi dan mendengar teriakan Fatimah membuatnya berlari meninggalkan niatnya untuk buang air kecil yang sejak tadi ingin dia lakukan.