
"Boleh, tapi aku ingin berbicara dengan ibu," jawab Satia yang memang ingin menanyakan keadaan sang ibu, karena sejak saat pertama Ibu Halimah siuman Satya sama sekali belum menyapanya.
"Kalau begitu aku siapkan makanannya dulu ya Mas." Ujar Fatimah yang langsung mengambil satu kantong plastik penuh makanan yang dibawa oleh Satya ke arah sofa panjang yang ada di ujung ruangan. Sedang Satya langsung duduk di samping Ibu Halimah.
"Bagaimana keadaan ibu saat ini? apa masih ada yang yang sakit?" tanya Satya penuh perhatian dan ketulusan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Apa dokter Faris sudah mengatakan semuanya Padamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Satya, Ibu Halimah justru balik bertanya kepada Satya yang kini tersenyum dan mencoba memberikan kekuatan kepada sang ibu mertua.
"Satya, apa yang sudah kamu dengar dari Faris adalah alasan utama aku menjodohkan kamu dengan Fatimah," jujur Ibu Halimah, dia merasa selama dia masih memiliki waktu untuk mengatakan semua kebenaran kepada Satya, dia akan mengatakannya, karena saat ini hanya Satya satu-satunya orang yang paling bisa dipercaya oleh ibu Halimah.
"Maksud ibu apa?" Tanya Satya yang sangat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ibu Halimah.
"Aku menerima permintaanmu yang ingin menikah dengan Fatimah karena aku sudah tahu jika apa yang terjadi padaku hari ini pasti akan terjadi cepat ataupun lambat, penyakit yang tidak bisa aku hentikan dan tidak bisa aku obati juga tidak bisa sembuh dengan mudah membuatku berfikir keras bagaimana cara agar Fatimah tetap aman dan bisa hidup dengan orang-orang yang menyayanginya," tutur Ibu Halimah.
Mendengar penuturan Ibu Halimah membuat hati Satya semakin tersayat, bagaimana mungkin dia punya niat buruk terhadap Fatimah yang sebenarnya mungkin sudah lupa dengan kejadian itu, padahal ibu Halimah menaruh harapan lebih dan besar pada dirinya untuk menjaga dan membahagiakan Fatimah setelah kepergiannya nanti.
"Ibu, jangan pesimis! Yakinlah jika Ibu pasti akan sembuh dan ibu pasti bisa melewati semua ini, yakinlah jika pada akhirnya ibu akan kembali seperti sedia kala, dan masih memiliki waktu untuk melihat Fatimah bahagia,"ujar Satia yang kini masih berusaha meyakinkan sang Ibu jika dia bisa sembuh Dan dia tidak lagi pesimis akan penyakit yang memang berbahaya itu.
__ADS_1
"Satya, setiap makhluk yang bernafas pasti akan kembali kepada sang pencipta, meski kita tidak pernah tahu kapan di mana Dan seperti apa kita akan kembali nanti, tapi saat itu pasti akan datang, siap atau tidak kita akan tetap melewatinya," sahut Ibu Halimah dengan senyum lembut menenangkan hati yang terlihat di wajahnya, Ibu Halimah memang lancar dalam berbicara tapi suaranya begitu lemah dan terdengar lirih, meski begitu saat dia masih bisa mendengar dan mengerti maksud dari ucapan sang ibu mertua.
"Apa Fatimah sanggup hidup tanpamu Bu? sedang aku tahu dia begitu menyayangimu," sebuah pertanyaan muncul di benak Satya dan tanpa menunggu lama lagi diam langsung mau mengatakan apa yang ada dalam benaknya kepada Ibu Halimah.
"Nak, Fatimah adalah gadis yang Ibu yakini memiliki iman yang kuat, jadi ibu yakin jika Fatimah pasti bisa melewati semua ujian ini, Ibu hanya minta padamu, temani, lindungi dan sayangi Fatimah sepenuh hati, Ibu pasrahkan Fatimah sepenuhnya padamu, jaga dia dari orang-orang yang berniat jahat padanya, hanya kamu Satya satu-satunya harapan ibu, dan ibu hanya percaya padamu," tutur Ibu Halimah sambil memegang tangan Satya sang menantu mencoba memberitahukan kepadanya, jika Ibu Halimah makan pergi dengan tenang setelah mendengar Satya bersedia melakukan apa yang baru saja diminta olehnya.
"Baiklah ibu, aku akan berusaha sebisa mungkin menjalankan apa yang engkau inginkan, aku akan berusaha mewujudkan semua harapan yang telah Ibu sandarkan padaku, semoga takdir merestui harapan ibu dan niat baikku," ujar Satya yang kini semakin yakin akan melupakan dendam yang pernah menjadi tujuan utama dirinya menikahi Fatimah.
"Amin," sahut Ibu Halimah malam ini setiap kata yang muncul dari bibir Satya.
"Serius sekali, apa yang kalian bicarakan?" suara Fatimah mengejutkan Satya dan Ibu Halimah yang sedang serius berbincang.
"Sudah," jawab Fatimah singkat.
"Baiklah, kalau begitu Satya makan dulu." Pamit Satya yang kini berdiri melangkah menuju sofa di mana beberapa makanan sudah di siapkan oleh Fatimah.
"Kamu juga harus maka! aku tahu kamu juga belum makan," ujar Satya penuh perhatian membuat Ibu Halimah merasa semakin yakin jika Satya pasti bisa menjaga dan menyayangi putrinya sepenuh hati.
__ADS_1
Mendapat perlakuan manis dari Satya membuat Fatimah tersenyum senang, semakin hari Satya semakin manis dan perhatian dengan Fatimah, karena itulah Fatimah merasa sangat bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini.
"Mas beli makanan ini di mana?" Tanya Fatimah saat melihat sebungkus nasi padang berada di hadapannya.
"Di kantin," jawab Satya santai sambil melihat ke arah Fatimah dengan senyum manis yang semakin membuat saat ya terlihat semakin mempesona.
"Kenapa senyum-senyum Mas? Apa ada yang lucu denganku?" Tanya Fatimah saat melihat saja yang terus saja tersenyum tanpa dia tahu apa penyebabnya.
"Tidak ada, kamu hanya terlihat cantik siang ini, karena itulah aku jadi ingin tersenyum saat melihatmu," jawab Satya dengan senyum yang masih saja menghiasi wajahnya.
"Sejak kapan Mas Satya suka menggombal seperti itu?" Bukannya merasa senang atau tersanjung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satya, Fatimah justru bertanya alasan Satya yang terkesan menggombal saat ini.
"Sejak sekarang, kenapa? Kamu suka ya?" Jawab Satya yang kini justru tersenyum dengan senyum genit yang semakin membuat Fatimah heran dengan sikap Satya yang tiba-tiba berubah.
"Mas," lirih Fatimah dengan ekspresi wajah penuh keheranan dia menatap ke arah Satya yang masih saja tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Hm, kenapa?" dua kata yang keluar dari bibir Satya semakin membuat Fatimah melotot melebarkan mata merasa aneh dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satya.
__ADS_1
"Are you okey?" Tanya Fatimah dengan bahasa Inggris yang belum pernah dia gunakan pada Satya.
"IM okey, why?" Satya yang kini juga menggunakan bahasa Inggris mengimbangi pertanyaan dari Fatimah, tapi mendengar jawaban dari Satya membuat bibir Fatimah terbungkam, percuma saja dia bertanya tentang keanehan yang terlihat dalam diri Satya saat ini karena orang yang ditanya oleh Fatimah terlihat enggan untuk menjawabnya, jadi Fatimah memilih untuk diam dan mulai memakan makanan yang tadi dibawa oleh suaminya itu dari pada terus bertanya tapi yang di tanya tak kunjung menjawabnya.