
"Sakit," jawab Fatimah polos, dan hal itu membuat Satya merasa semakin bersemangat untuk melanjutkan apa yang baru saja dia lakukan.
" mungkin awalnya kan terasa sakit, tapi setelah itu kamu akan merasakan hal yang berbeda jadi aku minta padaMu Bersabarlah sedikit!" ujar saatnya yang cukup membuat hati Fatimah sedikit tenang bagaimanapun juga apa yang dilakukan saat dia saat ini adalah haknya dan aku harus memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri untuk melayani suami ku.
"Maaf, a~ eumm," Fatimah yang merasa bersalah dengan apa yang baru saja dilakukan mencoba meminta maaf tapi kata-katanya terpotong karena saat dia langsung mumpungkan bibir Fatimah dengan bibirnya.
"Eummm, ehh," lenguhan dan cerita yang terbungkam samar-samar terdengar dan ruangan itu, menandakan jika penghuni yang ada di ruangnya sedang melakukan olahraga malam, olahraga yang akan menghasilkan sebuah keringat dan benih janin yang akan terus tumbuh dalam perut Fatimah.
__ADS_1
" Bagaimana? Apa kamu masih merasa sakit seperti tadi?" Pertanyaan yang seharusnya tidak diucapkan oleh Satya saat ini walau begitu saja menyapa telinga Fatimah yang kini Tengah menikmati indahnya sebuah surga dunia, sebuah kenikmatan yang kebanyakan orang dambakan dan Kebanyakan orang agung-agungkan di dunia, Fatimah merasa melayang jauh di atas awan merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, meski sedikit terasa sakit tapi rasa nikmat yang dirasakan jauh lebih besar dari pada rasa sakit yang memang masih terasa dalam tubuhnya.
" Terima kasih karena kamu telah menjaganya selama ini dan terima kasih karena kamu membiarkan aku menjadi yang pertama dan terakhir yang bisa menyentuh dan menikmati apa yang kamu miliki saat ini, setelah ini dan seterusnya Kamu adalah milikku dan jangan pernah berpikir untuk pergi ataupun meninggalkanku Apapun Yang Terjadi, biarkan benih itu tumbuh dan tetaplah berada di sisiku, sayang" sebuah kata manis bernada ancaman terdengar jelas di telinga Fatimah, Satya mengatakannya sambil mengecup lembut pucuk kepala Fatimah dan mengusap pipinya dengan sangat sangat lembut terlihat jelas seutas senyum bahagia dan rasa lega di wajah tampan milik Satya, Apa yang dilihat Fatimah saat ini belum pernah dilihatnya sebelumnya, Satya yang biasanya menampakan wajah datar atau dingin atau bahkan ekspresi marah yang sering sekali dilihat kini jauh berbeda, Satya terlihat begitu bahagia dan lega, dia menatap Fatimah penuh cinta dan kasih sayang jauh berbeda dari sebelumnya.
" Tidurlah dulu! Kamu harus mengumpulkan banyak tenaga untuk menemaniku bermain lagi nanti, " ujar Satya sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Fatimah yang kini terkejut sambil melototkan mata mendengar pesan dari Satya yang terlihat tanpa berjalan menjauh masuk ke dalam kamar mandi tanpa ada rasa bersalah Ataupun dosa sedikitpun.
Fatimah yang merasa sedikit takut dan lelah dengan apa yang baru saja dia dengan kini beringsut di balik selimut menyembunyikan seluruh badannya dan menyisakan kepala mencoba memejamkan mata mengistirahatkan diri agar Satya tidak meminta menemaninya bermain kembali.
__ADS_1
"Ternyata dia terlelap dengan cepat, aku kira dia masih terjaga dan menungguku, " gumam Satya yang baru saja selesai membersihkan dirinya dan Dini bersiap untuk melakukan salat malam lebih awal.
Awalnya Fatimah hanya mencoba untuk tidur hingga pada akhirnya dia terlelap dengan sendirinya tanpa dia sadari, Fatimah yang biasanya menjalankan salat malam di sepertiga malam kini tidak bisa bangun karena dia baru terbangun setelah mendengar suara Adzan Subuh berkumandang, sedang Satya yang terlelap di Sampingnya terlihat masih damai dalam tidurnya, tanpa banyak berpikir lagi Fatimah memilih untuk segera menjalankan kewajibannya kemudian berencana membangunkan Satya agar dia juga bisa menjalankan kewajibannya setelahnya.
"Mas, bangun!" Lirih Fatimah mencoba membangunkan Satya sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya agar dia terbangun.
Satya yang semalam tidur terlambat merasa begitu lelah dan mengantuk juga enggan untuk membuka mata, hingga suara lembut Fatimah mampu menyadarkannya jika saat ini Satya tidak sendirian di kamar itu, ada Fatimah di sampingnya dan Satya langsung mengingat apa yang baru saja terjadi semalam sesaat setelah dia terbangun.
__ADS_1
"Kenapa Sayang? apa kamu menginginkannya lagi? hm?" pertanyaan tidak masuk akal terdengar di telinga Fatimah yang reflek langsung mundur seribu langkah mencoba menjauh dari Satya yang terlihat menggodanya.