Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Rencana Fatimah


__ADS_3

Malam yang seharusnya terasa dingin kini berubah menjadi hangat, rasa nyaman yang belum pernah di rasakan Satya sebelumnya kini mampu membuatnya semakin nyenyak dalam tidur, tak ada lagi mimpi buruk yang dulu pernah dia rasakan, yang ada hanya kenyamanan dan mimpi indah yang kini hadir dalam hidup Satya.


"Kenapa Mas Satya selalu saja memelukku setiap kali tidur di sampingku?" gumam Fatimah saat merasa sulit untuk bergerak karena Satya sedang memeluknya dengan cukup erat.


"Mas, bangun!" kali ini Fatimah tidak tinggal diam seperti sebelumnya, dia memilih untuk langsung membangunkan Satya karena jam di dinding sudah menunjukkan waktu sholat yang artinya Fatimah harus segera bangun, jika tidak, maka bisa di pastikan Satya dan dirinya akan telat menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Mas!!" sekali lagi Fatimah mencoba membangunkan Satya yang terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.


"Mas Satya!!" kali ini Fatimah membangunkan Satya sambil menggoyang tubuhnya agar Satya bisa bangun.


"Hmm," sahut Satya yang justru mempererat pelukannya, bukan melepaskan pelukan.


"Sudah waktunya sholat, ayo bangun!" tegur Fatimah sambil menggoyang tangan Satya yang melingkar indah di perutnya.


Satya tidak menjawab panggilan Fatimah, dia memilih menyingkirkan tangannya kemudian beralih memeluk guling yang berada di sampingnya.


"Lah, tumben banget susah di bangunin," gumam Fatimah saat melihat Satya justru begitu kembali terlelap membuat Fatimah heran, pasalnya sejak keduanya bersama Satya adalah orang yang selalu lebih dulu bangun di bandingkan dengan Fatimah yang terkadang lebih lambat bangunnya.


"Mas Satya tidak sholat?" tegur Fatimah sambil menggoyangkan lengan Satya kemudian menempelkan telapak tangannya ke arah dahi, bagaimana pun juga Fatimah khawatir, perubahan yang di tunjukkan oleh Satya terjadi karena dia sedang sakit.


"Tapi suhu tubuhnya normal," lirih Fatimah yang mampu di dengar Satya yang kali ini tidak terlalu lelap dalam


tidurnya.


"Sholat saja dulu, setelah kamu sholat bangunin aku lagi, aku masih ingin tidur," sahut Satya dengan nada lirih juga dia membalas ucapan Fatimah.


Mendengar jawaban saat dia membuat dahi Fatimah mengkerut dia semakin heran dengan apa yang dia lihat saat ini, tapi Fatimah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya itu, dengan langkah lebar Fatimah meninggalkan Satya yang kembali terlelap. Menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim kemudian kembali membangunkan Satya setelahnya.

__ADS_1


Kali ini Satya begitu mudah dibangunkan, tidak seperti tadi.


"Mas, aku ke dapur dulu." Pamit Fatimah melangkah keluar kamar menuju dapur untuk memasak bersama Bik Mina.


"Wah rajin sekali, kamu mau ke mana sepagi ini Fatimah?" tanya Satria saat dia keluar dari dapur dengan secangkir kopi di tangannya.


"Eh Kak Satria, dari mana kamu?" bukannya menjawab Fatimah malah balik bertanya.


"Aku baru selesai buat kopi, kamu sendiri mau kemana?" Satria kembali bertanya karena merasa jika pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari Fatimah.


"Aku mau bantuin Bibik Mina," jawab Fatimah singkat sambil tersenyum ke arah Satria.


Satria tersenyum mendengar jawaban Fatimah, jika bukan adik iparnya, Satria pasti sudah menggoda Fatimah dan merayunya agar mau menjadi kekasihnya, sungguh fikiran Satria tidak bisa menjauh dari Fatimah, ingin rasanya Satria memiliki Fatimah.


"Astaghfirullah," spontan Satria saat menyadari jika otaknya perlu di ruqyah agar tidak terus-menerus merencanakan hal buruk untuk merebut Fatimah dari Satya yang merupakan adiknya sendiri.


"Tidak ada, jika aku memintamu membuatkan camilan, apa kamu mau membuatnya?" tanya Satria mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja, kak Satria mau di buatkan apa?" Jawab Fatimah.


"Kalau aku memintamu membuatkan gorengan, apa kamu bisa?" Satria kembali bertanya memastikan jika Fatimah mampu membuatkan apa yang dia inginkan saat ini.


"Bisa, aku akan membuatkannya untuk Kak Satria." Sanggup Fatimah dengan senyum manis yang justru membuat Satria semakin mengagumi adik iparnya itu.


"Baiklah, aku akan menunggu gorengan yang kamu buat di tapi kolam renang." Pesan Satria sebelum dia pergi meninggalkan Fatimah yang masih berdiri di tempatnya.


'tumben sekali Kak Satria meminta kau membuatkannya camilan, biasanya dia lebih suka membeli camilan dari luar, kamu juga Kak Satria menghabiskan waktu di tepi kolam biasanya juga dia lebih memilih jogging keliling kompleks dari pada hanya berdiam diri di rumah,' batin Fatimah langsung dipenuhi dengan pertanyaan saat melihat perubahan sikap dari kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Bik Mina!"suara Fatimah yang dipenuhi dengan keceriaan terdengar, mengusik Bik Mina yang kini tengah memasak air.


"Nona Fatimah," sahut Bik Mina, sejak ada Fatimah di rumah ini Bik Mina merasa senang karena dia memiliki teman untuk memasak dan mengobrol setiap kali dia berada di dapur, tak jarang pula Bik Mina malah di suruh istirahat oleh Fatimah sedang pekerjaan di dapur bisa beres dengannya.


"Nona mau masak apa?" tanya Bik Mina saat melihat sang majikan mengambil penggorengan dan beberapa baskom yang tersimpan di lemari.


"Kak Satria minta di masakin gorengan Bik," jawab Fatimah dengan penuh semangat dan senyum ramah.


Fatimah memang gadis yang penuh semangat dan senyuman, menyejukkan hati siapapun yang memandang.


"Kok tumben minta di masakin gorengan sama Nona?" tanya Bik Mina yang justru merasa aneh dengan permintaan Satria pada Fatimah.


"Aku sendiri juga gak tahu Bik, tadi enggak sengaja ketemu Kak Satria di ruang tengah," tutur Fatimah.


"Oh," sahut Bik Mina.


"Kalau begitu biar Bibik saja yang buat," ujar Bik Mina yang mengerti jika Fatimah yang membuatkan gorengan dan memberikannya langsung pada Satria dan Den Satrya tahu, bisa terjadi keributan di rumah ini.


"Tidak usah Bik, tadi Kak Satria minta aku yang buatin," tolak Fatimah yang tidak ingin merepotkan Bik Mina tanpa mengerti maksud dari Bik Mina yang tidak ingin terjadi pertengkaran di pagi hari Fatimah menolak tawarannya.


Sejenak Bik Mina diam sambil berfikir merangkai kata yang tepat agar Fatimah mengerti dengan maksud ucapannya.


"Begini Nona, jika Den Satya tahu kalau Nona membuatkan camilan untuk Den Satria dan memberikannya langsung, Bibik khawatir akan terjadi pertengkaran di pagi hari, jadi biarkan Bibik yang membuat dan memberikannya," jelas Bik Mina.


"Begini saja Bik, biarkan aku yang membuat gorengan ini, karena aku juga akan membuatkan Mas Satya gorengan nanti yang akan mengantar gorengannya ke Kak Satria Bibik, sedang aku akan ke kamar memberikan gorengan dan kopi untuk Mas Satya, bagaimana?" Fatimah memberikan solusi yang menurutnya jauh lebih baik, karena jika Fatimah membiarkan Bik Mina yang memasak maka dia melanggar ucapannya sendiri yang mengatakan jika dia bisa membuatkan gorengan untuk Satria dan dia akan membuatnya sendiri, dengan begini Fatimah bisa tetap menepati ucapannya membuatkan gorengan untuk Satria.


"Bibik setuju Non," jawab Bik Mina yang merasa jika ide Fatimah adalah ide yang paling tepat untuk di pilih.

__ADS_1


__ADS_2