Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kutukan Satria


__ADS_3

"Rahasia," jawab Satria dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, dia teringat begitu bahagia dan senang saat ini.


"Dasar kau, udah kayak orang gila aja senyum-senyum sendiri," cicit Satya saat melihat sang kakak tak berhenti tersenyum sambil memakan gorengan yang tadi disiapkan oleh Fatimah.


"Bodoh," sahut Satria acuh, dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh sang adik, yang terpenting saat ini adalah dia merasa bahagia karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Faris untuk mendapatkan cinta Zia, meskipun Faris tidak mengatakan secara langsung tapi Satria sudah berpikir dan yakin jika Faris pasti akan menyetujuinya dan mendukung niat baiknya.


"Dasar aneh," Satya kembali meledak tingkah sang kakak yang memang benar-benar aneh saat ini, Satya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang kakak, yang dia tahu saat ini adalah sang kakak bersikap aneh setelah pergi tadi siang.


"Sudah, jangan terus-terusan mengatakan kakakmu! Mungkin saja dia sedang bahagia karena telah mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dan saat ini belum waktunya kita untuk tahu," Selasa papa yang memang selalu bijak dalam bersikap, berbeda jauh dengan mama Nia, jika saja dia ada di sini saat ini, bisa dipastikan kalau mama Nia pasti akan memaksa Satria untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan penyebab dirinya tersenyum seperti itu.


Jika para laki-laki sibuk dengan urusan mereka masing-masing masih berada dalam satu ruangan yang sama, maka beda halnya dengan para wanita yakni Mama Nia, Fatimah dan Bik Mina yang tengah sibuk membuat rendang sesuai dengan niat awal mama Nia yang ingin memasakkan rendang untuk sang Papa.


"Kalian hanya perlu memberitahuku saja apa yang harus aku lakukan, tidak usah membantuku!" Larang mama Nia ketika Fatimah atau Bik Minah hendak membantunya memasak rendang, seperti yang diketahui banyak orang bahwa memasak rendang bukanlah hal yang mudah ada banyak kesulitan yang harus dilakukan karena memasak rendang butuh kesabaran ekstra menunggu rendang itu benar-benar matang dan siap untuk dihidangkan.


"Baik, Ma," sahut Fatimah yang langsung menghentikan gerakan tangannya. Meskipun sebenarnya Fatimah sudah greget melihat Mama Nia yang melakukan banyak kesalahan saat memasak rendang, tapi larangan dari Mama Nia membuat Fatimah diam dan hanya bisa memberitahukan apa yang harus dilakukan Mama Nia tanpa bisa membantunya.


"Akhirnya, selesai juga," seru Mama Nia saat dia berhasil membuat satu porsi rendang daging dan kini telah meletakkannya di atas meja.


Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah mama Nia, Fatimah tidak lagi bisa diam saat melihat Mama Nia begitu bahagia karena berhasil memasak satu porsi rendang.


"Sekarang ayo mandi dan kita akan makan bersama nanti!" Sambung Mama Nia penuh semangat dan Fatimah juga Bik Mina hanya bisa mengikuti perintah Mama Nia.

__ADS_1


"Siap, Mama," sahut Fatimah.


"Bibik juga, bersiap-siaplah! Bibik juga harus ikut makan nanti," seru Mama Nia saat melihat sang Bibik hanya diam sambil tersenyum menyaksikan Mama Nia.


Fatimah, Mama Nia dan Bibik langsung masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap makan malam bersama.


"Papa, Satria, Satya, ayo makan!" ajak Mama Nia sebelum dia sampai di meja makan dan melihat para lelaki sedang asyik mengobrol di ruang keluarga.


"Fatimah mana, Ma?" Tanya Satya saat ia tidak melihat Fatimah di ruang makan.


Perlahan tapi pasti Satya mulai terbiasa dengan kehadiran Fatimah, rasa benci yang pernah dia rasakan entah pergi ke mana? Yang Satya tahu saat ini Fatimah adalah istrinya.


"Mungkin dia masih bersiap di kamar, setelah membantu Mama memasak tadi dia pergi ke kamar untuk bersiap-siap," jawab Mama Nia.


"Kamu mau ke mana Satya?"tanya Mama Nia saat melihat Satria berbalik arah, bukannya berjalan menuju ruang makan tapi dia berbalik arah berjalan ke arah yang lain.


"Aku mau nyusul Fatimah dulu Ma." Jawab Satya acuh, dia tidak peduli lagi dengan apa yang akan dipikirkan oleh sang ibu, papa dan juga Satria tentang sikapnya yang saat ini perlahan berubah dari cuek mulai perhatian pada Fatimah.


"Astaga, nggak bakal ilang tuh istri, mau makan aja pakai cari-cari dulu, makan tinggal makan aja Kali Sat," celetuk Satria yang kini merasa memiliki kesempatan untuk meledek Satya yang sejak tadi meledeknya.


"Biarin istri-istri gue kenapa loe yang sewot?" sahut Satya seolah tidak perduli dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satria, dia terus saja berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak turun untuk ikut makan bersama?" Tanya Satya sesaat setelah dia sampai di kamar dan melihat Fatimah yang tengah berdiri di depan lemari kaca dan tengah membenahi kerudungnya.


"Aku masih membenarkan kerudung Mas, setelah ini aku akan turun dan ikut makan bersama yang lain," jawab Fatimah.


"Ayo turun dan makan!" Satya tidak banyak bicara dia langsung menari tangan Fatimah dan mengajaknya turun ke lantai bawah dan berjalan beriringan dengan tangan yang masih bergandengan menuju ruang makan.


"Hadeuch, ini bukan jalan raya kali, jalan aja pakai gandengan," Satria kembali mengejek Satya saat melihat sang adik menggandeng mesra tangan istrinya.


"Kalau iri bilang, tidak perlu ngeledek tinggal cari aja pasangan dan loe gandeng sendiri kak, harus ngejek gue," sahut Satya yang cukup membuat Mama Nia dan juga Papa menggelengkan kepalamu lihat kelakuan dua bocah yang memang seringkali saling meledek sejak kecil, dan kebiasaan itu masih saja sering mereka lihat sampai saat ini meskipun keduanya telah beranjak dewasa tapi sikap kekanak-kanakan yang sepertinya melekat dalam diri mereka tidak bisa hilang begitu saja.


"Sudah-sudah, jangan saling meledak terus! Lebih baik sekarang kalian makan dan coba masakan mama! Rendang daging buatan Mama Nia ini pasti akan terasa sangat enak," salah Mama Nia yang tidak ingin melihat kedua putranya terus saja saling meledek.


"Apa segini cukup, Mas?" Tanya Fatimah sambil menunjukkan nasi yang sudah ada di atas piring.


"Cukup," jawab Satya, dengan gerakan yang begitu lihai Fatimah mengambilkan lauk untuk Satria dan meletakkannya tepat dihadapan Satya.


"Ish Papa dan Satya enak, makan ada yang ngambilin, lah aku, makan ambil sendiri," gumam Satria saat memperhatikan sang mama dan Fatimah tengah melayani Satya dan papa.


"Aden mau makan berapa banyak?" Bik Mina yang merasa kasihan dengan apa yang baru saja dikumamkan oleh Satria langsung menawarinya makanan dan hal itu cukup membuat semua orang di ruang makan tertawa karenanya.


"Makanya kalau mau ada yang layanin cari istri Kak, jangan kertas aja loe pantengin!" Sahut Satya yang merasa menang dengan apa yang baru saja terjadi, dia bisa meledek sang kakak dan tertawa sepuasnya melihat apa yang terjadi pada sang kakak.

__ADS_1


"Dasar adik durhaka, aku kutuk jadi batu baru tahu rasa kau," ujar Satria dengan bibir yang mulai manyun, merasa jengkel dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang adik


__ADS_2