Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Bertemu Ummah


__ADS_3

"Kenapa kamu baru datang ke sini sekarang, Fatimah?" ujar Zia yang kini tengah memeluk Fatimah, keduanya memang sangat dekat dan sering sekali menghabiskan waktu bersama bahkan terkadang keduanya terlihat seperti kakak beradik.


"Aku baru sempat ke sini sekarang Neng, setelah pesta pernikahan kemarin suamiku mengajakku pindah ke apartemen, jadi aku sangat sibuk dan belum sempat ke sini," jelas Fatimah.


"Apa kamu mau ke kamar dulu atau mau langsung bertemu ummah?" tanya Zia, biasanya para santri yang sudah menikah dan berkunjung ke pesantren mereka akan menemui ummah dan meminta doa padanya.


"Kayaknya aku mau nyapa teman-teman dulu Neng, baru setelah itu aku mau sowan ke Ummah," jawab Fatimah yang memang tengah merindukan suasana pesantren.


"Baiklah, aku tunggu kamu di ruang tamu. Jangan lupa panggil aku jika kamu sudah selesai bertemu dengan teman-teman di kamar!" pesan Neng Zia.


"Iya, Neng, aku pasti akan manggil Neng Zia kalau sudah selesai," jawab Fatimah dnegan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Aku beneran nunggu kamu di ruang tamu Fatimah," sekai lagi Zia berpesan dnegan nada sedikit mengeras karena dia sudah berjalan sedikit menjauh dari Fatimah.


"Tenang saja, aku pasti akan memanggil Neng," sahut Fatimah yang kini langsung berjalan menuju kamarnya.


Pandangan Fatimah selalu tertuju pada beberapa titik tempat di mana dia dulu sering menghabiskan waktu saat masih menjadi santri, rasanya waktu begitu cepat berlalu, Fatimah merasa jika dia begitu merindukan suasana tenteram dan tenang di pesantren, di mana dia bisa mendapat sejuta kasih sayang dan perhatian dari orang-orang yang ada di sekitarnya, rasanya Fatimah ingin tinggal dan tak ingin kembali ke apartemen milik suaminya, apartemen yang lebih mirip kuburan bagi Fatimah, hidup dengan Satya yang selalu bersikap dingin padanya bukanlah pilihan yang baik, jika saja Fatimah bisa memilih, dia pasti akan memilih bersama Fariz yang memang selalu bersikap lembut di tambah Zia yang selalu saja baik padanya.


"Assalamualaikum," sapa Fatimah sesaat setelah dia sampai di dalam kamar.


"Fatimah," sahut semua orang yang ada di dalam kamar.


"Bagaimana kabarmu?" tanya teman kamar Fatimah.

__ADS_1


"Kalau malam pertamamu bagaimana? apa semuanya sama seprti yang di ceritakan teman-teman kita yang sudah menikah? atau kamu dan suamimu punya cara sendiri untuk menghabiskan malam pertamamu?" sela satu santriwati yang memang suka mendengar cerita malam pertama yang biasa di ceritakan oleh santri yang baru saja menikah dan datang berkunjung.


Fatimah yang sejak awal tudak pernah tahu bagaimana malam pertama yang sesungguhnya hanya bisa diam seribu bahasa, bahkan Fatimah masih saja bingung dengan sikap Satya yang dingin padanya, sangat jauh berbeda dengan suami yang biasa di ceritakan oleh teman-temannya.


"Fatimah! apa semuanya baik-baik saja?" teman Fatimah kembali bertanya.


"Eh, iya semuanya baik-baik saja kok," jawab Fatimah.


"Eh bagaimana ceritanya?" teman Fatimah masih saja memaksa Fatimah untuk bercerita.


"Aku malu dan aku tidak bisa menceritakannya pada kalian bisakah kita membahas hal yang lain?" jawab Fatimah.


Semua teman-teman Fatimah terdiam Untung saja mereka tidak memaksa Fatimah untuk menceritakan hal yang memang belum pernah terjadi dalam rumah tangganya, Fatimah lebih senang menceritakan hal yang lain kepada teman-temannya daripada hal yang berhubungan dengan kontak fisik dengan sang suami.


Satu tradisi lagi di pesantren tempat Fatimah menimba ilmu, biasanya santri yang sudah menikah dan berkunjung ke pesantren pasti akan membawakan sesuatu untuk teman-temannya di sana Fatimah yang tadi memang lupa untuk membelikannya kini menawari teman-temannya makanan yang mereka inginkan.


"Apapun yang ingin kamu berikan pasti kami terima Fatimah, bukankah kamu tahu kami pemakan segala makanan yang berlabel halal,"tahu teman Fatimah.


Makanan dari luar pesantren adalah makanan paling istimewa bagi para santri, karena mereka tidak bisa menikmatinya setiap hari.


"Baiklah aku akan carikan bakso yang biasa mangkal di depan pesantren untuk kalian, kalau begitu aku pergi dulu ya." Pamit Fatimah yang merasa jika dia memang harus membelikan sesuatu untuk teman-temannya.


Langkah Fatimah terasa ringan bertemu dengan teman-temannya di pesantren membuat semangat Fatimah kembali muncul dan rasa bahagia dalam hatinya juga kembali hadir, tapi kebahagiaan itu langsung saja sirna ketika dia melihat Satya yang gini duduk di aula sambil menatap ponselnya dengan serius, saat ini dia mengingat jika dia sudah menikah dengan seseorang yang memiliki sifat dingin seperti es di kutub Utara Fatimah benar-benar terjebak dengan pernikahan yang membuatnya bingung, tapi Fatimah tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan berdoa, berharap Satya akan berubah dan mencintainya suatu saat nanti.

__ADS_1


"Mas," lirih Fatimah sesaat setelah dia duduk di samping Satya yang masih fokus menatap ponselnya dan tak menyadari keberadaan Fatimah yang kini ada di sampingnya.


"Apa sudah selesai?" tanya Satya.


"Belum, aku ingin membelikan makanan untuk teman-temanku di dalam pesantren, apa Mas Satya mau mengantarku untuk membeli makanan?" Jawab Fatimah.


"Kamu ingin membeli makanan di mana?" sahut Satya seraya mengalihkan pandangannya dan menutup ponsel pintar yang sejak tadi ada di hadapannya.


"Aku ingin membeli bakso yang ada di pertigaan jalan tadi," jelas Fatimah.


Bakso yang ada di pertigaan jalan sebelum masuk ke wilayah pesantren merupakan bakso yang paling terkenal seanterol pesantren, bakso yang paling enak dan paling diburu ketika para santri bisa keluar dari pesantren.


Satya tak menjawab ucapan ataupun pertanyaan Fatimah, dia memilih langsung berjalan menuju tempat yang diinginkan oleh Fatimah dengan Fatimah yang berjalan mengikuti langkah Satya di sampingnya.


"Fatimah!" Suara lembut dan halus seperti sutra terdengar menyapa telinga Fatimah, suara yang dulu selalu menemaninya setiap hari, suara yang selalu memberikan nasehat-nasehat untuknya dan suara yang selalu penuh dengan kasih sayang.


"Ummah," sahut Fatimah yang langsung teralihkan ke arah seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri tak jauh dari tempat Fatimah berada, langkah kaki Fatimah langsung menuju ke arahnya, tanpa kata dia meninggalkan Satya yang kini justru menatap heran ke arah Fatimah yang terlihat begitu bahagia setelah melihat wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Siapa dia?" bisik Satya setelah dia ada di samping Fatimah tepat di hadapan wanita paruh baya yang di panggil Ummah oleh Fatimah.


"Dia pemilik pesantren sekaligus Ibu bagi para Santri yang ada di sini," jelas Fatimah.


"Oh," sahut Satya dengan ekspresi datar.

__ADS_1


__ADS_2