Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Aku Harus Cepat!


__ADS_3

"Siapa yang datang, Mas?" tanya Fatimah sesaat setelah Fatimah memakai baju.


"Mama," jawab Satya singkat.


"Ini baju dari Mama, katanya di suruh pakai besok!" sambung Fatimah sambil melempar baju yang baru saja di berikan oleh Mama.


"Kenapa harus pakai baju ini?" tanya Fatimah merasa bingung dengan apa yang baru saja di berikan oleh sang Mama.


"Entahlah, kalau kamu ingin tahu, tanya saja sendiri ke orangnya!" sahut Satya acuh.


Perasaan yang tadi membuncah kini terjun ke bawah seolah menghilang tanpa jejak.


Fatimah yang mendengar jawaban Satya memilih diam mematung di tempatnya tanpa reaksi sedikitpun.


"Kemarilah!" titah Satya saat melihat Fatimah hanya berdiri di depan Satya tanpa bergerak.


"Mau ngapain ke situ?" bukannya menurut, Fatimah malah banyak bertanya pada Satya yang kini justru merasa gemas dengan sikap sang istri.


Tanpa banyak kata ataupun bertanya Satya langsung menarik lengan Satya agar dia ikut tidur di sampingnya.


"Diam dan tidur! jika kamu banyak bergerak, maka bisa aku pastikan esok kamu gak bakal bisa bangun dari tempat tidur," ancam Satya yang merasakan gerakan Fatimah, dia memamg sedang berusaha untuk pergi dan melepaskan diri dari pelukan Satya saat ini.


Mendnegar ancaman Satya membuat Fatimah diam seribu bahasa, dia tidak lagi melawan ataupun berusaha melepaskan diri dari pelukan Satya.


'Kenapa dia meluknya erat Banget?' batin Fatimah yang memang merasa sedikit sesak karena Satya memeluknya terlalu erat.


"Mas, aku sesak," lirih Fatimah yang mengeluh karena merasa sesak dengan pelukan yang di berikan Satya.


Sekali lagi Satya tidak menjawab ucapan Satya, dia memilih diam dan melonggarkan pelukannya agar Fatimah bisa sedikit lebih lega.


Malam indah penuh kehangatan bagi kedua insan yang tidur dengan saling berpelukan, meski di luar cuaca sedang dingin dan tak bersahabat, tapi kedua insan itu tengah meneguk hangatnya bahtera rumah tangga, hingga pagi menjelang.


"Bik," sapa Fatimah, seperti biasa, Fatimah selalu menyapa sang Bibik untuk membuatkan kopi susu dan menyiapkan sepiring camilan untuk suaminya.

__ADS_1


"Pagi ini Nona mau buat camilan apa?" tanya Bik Mina yang selalu melihat Fatimah datang ke dapur untuk membuat kopi dan beberapa camilan untuk Satya dan semua isi rumah.


"Pagi ini aku ingin membuatkan pisang goreng Bik," jawab Fatimah.


"Sini biar Bibik bantu buatkan," tawar Bik Mina yang merasa jika dia juga punya kewajiban untuk membuatkan camilan di pagi hari.


"Loh, Fatimah kok ada di sini?" suara Mama Nia terdengar mengejutkan Fatimah yang sedang serius menggoreng pisang yang telah di baluri tepung sebelumnya.


"Aku sedang membuat pisang goreng untuk Mas Satya Ma," jawab Fatimah.


"Bukankah kemarin Mama sudah bilang kalau hari ini kita akan pergi menjemput Papa," ujar Mama Nia merasa heran dengan menantunya itu, bukannya bersiap-siap agar terlihat sempurna di hadapan sang Papa mertua.


"Bukankah kita berangkat jam delapan nanti Ma?" tanya Fatimah yang merasa jika saat ini masih pagi dan Fatimah masih memiliki dua jam setengah untuk bersiap.


"Apa kamu tidak ingin terlihat sempurna dan cantik maksimal di depan Papa mertuamu?" tanya Mama Nia yang memang merasa aneh dengan menantunya itu.


"Aku akan segera bersiap setelah ini Ma," sahut Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Apa sudah ada yang matang?" bukannya langsung mengambil Mama Nia malah bertanya.


"Sudah Ma, ini juga tinggal tiga potong lagi yang belum di goreng," jawab Fatimah.


Mama Nia mengambil pisang goreng yang tadi ada di atas meja.


"Enak, apa kamu sendiri yang membuatkannya?" tanya Mama Nia seolah tak percaya jika menantunya itu sangat pandai membuat gorengan, bukan hanya memasak lauk pauk, Fatimah juga pintar membuat menu gorengan.


"Iya, Ma," jawab Fatimah sambil tersenyum.


"Fatimah, bukankah dulu kamu itu seorang santri ya?" tanya Mama Nia mencoba memastikan isu yang pernah dia dengar.


"Iya, Ma, sejak sekolah dasar aku sudah menjadi santri," jawab Fatimah apa adanya.


"Tapi Mama ngerasa aneh, kalau kamu seorang santri, kenapa kamu pintar sekali memasak?" jujur Mama Nia yang sebenarnya selama ini mempercayai isu yang tak semuanya benar.

__ADS_1


"Kenapa Mama tanya seperti itu?" bukannya menjawab Fatimah justru bertanya seolah dia terkejut dengan kejujuran yang baru saja di katakan oleh sang Mama.


"Sebenarnya Mama sering mendengar isu dari beberapa orang yang Mama kenal kalau seorang santri itu banyak malesnya, mereka kurang suka bekerja di dapur ataupun membersihkan rumah, tapi setelah melihat kamu semuanya berbeda, kamu malah kebalikan dari apa yang merek katakan selama ini," jelas Mama Nia.


Mendengar penjelasan Mama Nia membuat Fatimah tersenyum, di wajahnya sama sekali tidak terlihat amarah, yang ada hanya senyum manis yang semakin membuat Fatimah terlihat cantik.


"Ma, tidak semua santri seperti itu, meskipun begitu aku tidak memungkiri jika ada beberapa santri yang memiliki sifat seperti itu, tapi ada pula yang rajin sepertiku, sama halnya dengan gadis yang ada di luar sana Ma, ada yang baik dan ada juga yang bersikap buruk," Fatimah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana keadaan sebenarnya di pesantren.


"Kamu benar juga, tidak semua orang buruk, begitu juga sebaliknya, tidak semua orang bersikap baik," seru Mama Nia yang hampir melupakan hal terpenting dalam sebuah kehidupan.


"Benar, Ma," ujar Fatimah.


"Ma, Fatimah pamit ke kamar dulu ya. Mau nganterin kopi dan camilannya," pamit Fatimah sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan Mama dan Bibik yang masih setia berada di dapur.


"Jangan lupa siap-siap!" Mama Nia kembali berpesan dengan nada bicara agak meninggi satu oktaf dari biasanya, sedang Fatimah yang mendengarnya hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mas," lirih Fatimah memanggil Satya yang terlihat sudah rapi.


"Kamu habis dari mana? kenapa belum bersiap?" sahut Satya saat melihat Fatimah masih memakai baju semalam yang sudah dia gunakan untuk tidur.


"Aku membuat kopi dan pisang goreng untuk Mas Satya," jawab Fatimah seraya menaruh satu nampan berisi gorengan dan kopi susu kesukaan Satya.


Melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Fatimah, amarah Satya langsung menghilang tak berbekas.


"Sekarang lebih baik kamu mandi dan bersiap untuk berangkat, nanti kita akan sarapan di luar," ujar Satya, dia merasa bersalah karena sudah berkata sedikit kasar dan nada sedikit lebih tinggi pada Fatimah yang ternyata pergi menyiapkan kopi dan camilan untuknya sebelum pergi.


"Baik, Mas, aku siap-siap dulu." Fatimah yang merasa jika dirinya akan telat dan anggota keluarga yang lain akan menunggunya jika dia tidak segera bersiap.


Secepat kilat Fatimah masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap dan pergi bersama anggota keluarga yang lain.


"Aku tunggu kamu di ruang keluarga." Suara Satya semakin membuat Fatimah kelimpungan, dia berusaha semakin mempercepat setiap gerakan Yang dia lakukan agar Satya dan yang lain tidak sampai menunggunya.


"Aku harus cepat," gumam Fatimah yang kini memilih untuk langsung menguncir kuda rambutnya tanpa menyisirnya dahulu, kemudian merapikan hijab dan baju yang di berikan oleh Sang Mama

__ADS_1


__ADS_2