
Waktu terus berlalu, tak ada hal aneh yang terjadi pada Fatimah, hanya mood yang sering naik turun begitu di rasakan oleh Satya yang masih berusaha sabar menghadapi Fatimah.
Hoek ... hoek ... hoek ....
"Apa masih sakit, Sayang?" tanya Satya yang langsung bangkit dari tempat tidur mengikuti langkah sang istri masuk ke dalam kamar mandi mengeluarkan semua makanan yang semalam masuk ke dalam perutnya, hal itu sudah biasa saja terjadi pada Fatimah dan dia akan kembali melahap makanan sehat yang selalu di sediakan sang asisten rumah tangga.
"Mas," rengek Fatimah sambil tidur di samping Satya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Iya, kenapa Sayang?" sahut Satya menghentikan ketikan tangannya di atas laptop yang terletak di atas paha. Sedang Fatimah tidur tepat di samping laptop Satya.
"Aku pengen jambu air yang warnanya merah dan besar," jawab Fatimah.
"Apa? Jambu air?" Satya mencoba meyakinkan diri jika apa yang dia dengar benar adanya.
"Iya, aku pengen yang berwarna merah banget Mas, ishhh rasanya ada di depan mata," tutur Fatimah sambil memasang wajah memelas yang terlihat jelas di wajahnya.
Saat dia hanya terdiam sambil menghembuskan nafas secara perlahan mencoba mengumpulkan rasa sabar yang mulai menipis pasalnya saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam yang itu artinya akan cukup sulit untuk mendapatkan jambu air yang diminta oleh Fatimah saat ini, sejenak Satya berpikiran mencari cara agar bisa mendapatkan apa yang diinginkan oleh Fatimah hingga akhirnya dia mengingat sebuah supermarket yang pasti menjual setiap jenis buah dan Satya yang dikatakan juga ada jambu air seperti yang diinginkan oleh Fatimah saat ini.
"Baiklah, sekarang lebih baik kamu bersiap! Kita akan pergi ke supermarket untuk membelinya." Ujar Satya.
__ADS_1
Bukannya segera bangkit sesuai dengan apa yang diminta oleh Satya, Fatimah justru tetap diam dan tak bergerak sama sekali di atas ke tempat tidur.
"Kenapa malah diam? apa kamu tidak mau? katanya ingin makan jambu air," Satya merasa heran dengan Fatimah yang sejak tadi hanya diam tidur di atas tempat tidur tanpa memperdulikan ajakannya.
"Aku tidak ingin membeli di supermarket, tapi aku ingin makan dari pohonnya langsung dan aku juga ingin Mas yang ambil," Fatimah mengungkapkan keinginan yang semakin membuat Satya melebarkan mata merasa kaget dengan apa yang di minta oleh Fatimah sang istri.
"Apa? Mas yang harus ambil sendiri dari pohonnya?" seru Satya, Fatimah hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Astaga Sayang, kenapa harus susah-susah ambil sendiri di pohon sih? bukankah di supermarket ada banyak," keluh Satya yang merasa kesulitan jika mengambil di pohonnta langsung, lagi pula dia juga tidak tahu di mana ada pohon jambu air yang sedang berbuah.
"Aku ingin makan dari buahnya langsung Mas, tolong dong ngertiin," rengek Fatimah yang kini merubah ekspresinya cemberut.
Meski rasanya sangat berat untuk memenuhi keinginan Fatimah, tetap saja Satya bangkit dan berjalan keluar rumah untuk mencari jambu air sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Mendengar ajakan Satya membuat Fatimah langsung berdiri dan mulai bersiap untuk pergi mengikuti langkah Satya yang lebih dulu pergi.
Satya memilih menaiki mobil mencari di mana letak pohon jambu air yang memang cukup sulit di temukan di daerahnya, bagaimanapun juga, jarang sekali orang menanam pohon jambu air di halaman rumah mereka, mungkin karena ukurannya yang terlalu besar membuat sebagian besar orang malas untuk menanam di halaman rumah.
"Mas, di sana ada pohon jambu air," suara Fatimah memecahkan keheningan malam, mengalihkan perhatian Satya yang sebenarnya sejak tadi mencari keberadaan pohon jambu air yang tidak terlihat barang hidungnya.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kita beli di supermarket aja, Sayang?" sekali lagi Satya mencoba meyakinkan Fatimah untuk membeli buah itu di supermarket, tapi apalah daya, keinginan wanita yang tengah hamil tak bisa di ganggu gugat membuat Satya diam tak berkutik, dia hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan oleh Fatimah saat ini.
"Sudah sampai di sini Mas Satya masih ingin menawar, " sahut Fatimah dengan wajah di penuhi kekecewaan.
"Aku akan minta dan ambil sendiri buahnya," seru Fatimah yang langsung turun dari mobil tanpa memperdulikan Satya yang kini hanya menatap penuh heran dengan keberanian Fatimah yang selalu saja muncul di waktu yang sangat tepat.
"Tunggu, Sayang!" Satya mencoba menghentikan langkah Fatimah yang justru terus melangkah hingga sampai di depan gerbang perumahan yang terlihat sudah di kunci.
"Permisi!" teriak Satya mencoba memanggil pemilik rumah agar dia bisa meminta buah jambu air untuk Fatimah.
Sekali panggilan tak ada yang menyahuti, Satya tak putus asa, dia kembali memanggil sang pemilik rumah yang entah siapa, karena Satya dan Fatimah sama sekali tidak mengenal pemilik rumah itu.
"Iya, ada apa?" sahut pilih rumah yang langsung berjalan mendekat ke arah Satya dan Fatimah yang tengah berdiri di depan gerbang.
"Maaf sebelumnya, malam-malam seperti ini saya mengganggu istirahat Ibu," ujar Satya pada seorang Ibu-Ibu yang membuka pintu untuk keduanya.
"Ada apa?" sahutnya.
"Begini Bu, istri saya sedang hamil dan ingin sekali makan jambu air yang ada di halaman rumah Ibu, apa kami boleh memintanya?" jawab Satya.
__ADS_1
Untung saja saat ini perut Fatimah sudah terlihat membuncit, karena usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan, jadi Satya sedikit merasa lega karena dia tidak perlu berusaha meyakinkan pemilik rumah jika istrinya benar-benar hamil.