
"Sejak kapan kamu mau pakai hp itu?" tanya Ibu Halimah yang bingung dengan apa yang di lakukan oleh puterinya, pasalnya sejak dulu Fatimah kurang menyukai ponsel karena itulah ponsel yang saat ini di pegang oleh Fatimah terlihat masih bagus dan mulus tanpa goresan.
"Sejak sekarang," jawab Fatimah enteng tanpa beban, padahal jawabannya semakin membuat Ibu Halimah penasaran.
"Kenapa sekarang kamu tiba-tiba mau pakai ponsel itu?" Ibu Halimah kembali bertanya, kali ini dia bertanya bukan karena penasaran tapi karena merasa aneh dan curiga, Ibu Halimah justru merasa khawatir jika Fatimah memakai ponsel itu lagi karena hubungannya dengan Satya sedang tidak baik-baik saja, meskipun tadi Ibu Halimah melihat dengan jelas jika tadi sikap Fatimah dan Satya terlihat baik-baik saja.
"Aku memakai ponsel ini lagi agar aku bisa menghubungi Ibu kapanpun saat aku merindukan Ibu, dan Ibu juga bisa langsung menelfonku kapanpun Ibu inginkan atau butuhkan," Fatimah menjelaskan alasan dirinya tiba-tiba memakai ponsel, sedangkan dulu Fatimah sangat malas untuk memakainya.
Mendengar penjelasan sang puteri Ibu Halimah tersenyum senang, begitu perhatian dan sayangnya sang puteri padanya, meski Fatimah tidak tinggal bersamanya sejak kecil karenaFatimah memang berada di pesantren sejak kelas lima SD, tapi kasih sayang dan perhatian Fatimah sebagai seorang puteri tak berkurang sedikitpun, dia justru semakin perhatian pada sang Ibu.
"Terima kasih kamu sudah perhatian sekai sama Ibu, semoga kamu semakin bahagia, Nak," do'a Ibu Halimah selalu bisa membuat Fatimah terenyuh.
"Amin, do'akan Fatimahagar bisa hidup jauh lebih baik dan jauh lebih bahagia lagi Ibu," ujar Fatimah yang kini sudah merubah posisinya yang tadinya duduk kini tidur di pundak sang Ibu mencoba meringankan segala masalah yang sebenarnya masih di rasakan olehnya.
"Nona Fatimah!" panggil sang asisten rumah tangga yang baru saja datang.
"Bibik, bagaimana? apa kartunya sudah ada?" tanya Fatimah setelah melihat sang Bibik datang dan berdiri tegak di belakangnya.
"Sudah Nona, sesuai pesanan Nona," jawab Sang Asisten sambil memberikan satu kartu berwarna merah pesanan Fatimah.
"Terima kasih, Bik," ujar Fatimah setelah dia menerima kartu yang tadi di berikan oleh sang asisten rumah tangga.
__ADS_1
Fatimah masih memiliki beberapa uang cash, uang yang dia dapat dari teman-temannya saat datang ke pesta pernikahannya, selain itu Fatimah yang memang tidak terlalu suka jajan di pesantren membuat Fatimah memiliki cukup banyak tabungan yang bisa dia gunakan sekarang.
"Berhati-hatilah ketiak kamu memegang ponsel! ingatlah jika saat ini kamu sudah punya suami!" pesan sang Ibu yang tidak ingin Fatimah terpengaruh dengan kecanggihan ponsel yang saat ini di pegang oleh Fatimah.
"Aku akan berhati-hati Ibu, dan aku akan mengingat jika saat ini aku sudah punya suami," sahut Fatimah yang cukup membuat Ibu Halimah tenang, setidaknya Fatimah sudah lebih dewasa dan mengerti posisinya saat ini.
"Bu, Fatimah balikke kamar dulu ya." Pamot Fatimah yang merasa jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Baiklah, hati-hati!" sahut Ibu Halimah yang kembali memberi peringatan pada Fatimah.
"Iya, Ibu," Fatimah kembali menjawab, kali ini dia menjawa dengan suara yang jauh lebih keras karena dia menjawab ucapan sang Ibu sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
'Ceklek'
'Tumban Mas Satya tidur jam segini? tidurnya di kasur lagi,' batin Fatimah saat melihat Satya tidur di kasur.
"Jangan tidur di sampingku!" suara Satya mengejutkan Fatimah yang baru saja mendekat ke arah kasur dan bersiap untuk tidur di samping Fatimah.
"Hah? apa?" sahut Fatimah sambil mengerutkan dahi heran bercampur bingung dan terkejut mendengar larangan yang keluar dari bibir Satya.
"Aku bilang tidur di tempat lain, dan jangan tidur di sampingku!" Satya kembali mengatakan apa yang tadi sempat dia katakan.
__ADS_1
Sungguh saat ini Fatimah merasa seperti dunia terbalik, harusnya dia yang melarang Satya tidurdi sampingnya saat Satya melalukan kesalahan, sama seperti yang di lakukan kebanyakan pasangan suami istri, tapi kali ini berbeda, bukan sang istri yang mengusir dari atas tempat tidur, tapi sang suami yang mengusir istrinya agar tidur di tempat lain.
"Terus aku harus tidur di mana, Mas?" tanya Fatimah, dia bingung harus tidur di mana jika Satya melarangnya todur di kasur yang sebenarnya miliknya sendiri.
"Terserah," jawaban yang sungguh membuat Fatimah cukup sakit hati.
'Kenapa aku di usir dari tempatku sendiri? ini tempat tidurku dan ini rumahku, kenapa jadi Mas Satya yang lebih berkuasa? harusnya aku yang lebih berhak atas tempat tidur itu,' batin Fatimah merasa aneh dengan apa yang terjadi, tapi Fatimah yang patuh tak mampu untuk melawan, dia memilih berjalan mendekat ke arah lemari dan mengambil bed cover yang ada di sana sebagai alas untuknya tidur.
Fatimah yang terbiasa tidur di lantai selama di pesantren membuatnya terbiasa, tapi yang membuatnya merasa tak biasa bukan karena tempat di mana dia tidur, tapi larangan yang di ungkapkan oleh Satya cukup membuat Fatima nelangsa.
Malam dingin terasa semakin dingin saat Fatimah hidup dengan lelakiberhati dingin seperti salju, rumah tangga harmonis penuh cinta yang pernah di dambakan oleh Fatimah kini tinggal kenangan dan angan belaka, karena jodoh Fatimah bukan dia yang bersikap manis dan bukandia yang punya segudang cinta, tapi Fatimah menikah dengan Satya yang dia tahu berhati dingin.
Malam semakin larut, rasa kantuk kini mulai menyerang, meski Fatimah baru saja selesai memasang kartu baru di ponselnya, diaterlelap karena kantuk yang tak tertahankan, dan ponsel yang sejak tasi dia pegang kini tergeletak tak berdaya di samping Fatimah tidur.
Berbeda dengan Fatimah yang kini sudah terlelap dalam mimpinya, Saty justru merasa ada yang aneh dengannya, bukannya merasa nyaman dan tenang, Satya justru merasa tidak tenang mengingat jika saat ini Fatimah sedang tidur di lantai.
'Apa aku sejahat itu ya?' batin Satya saat dia ingat betapa kerasnya Satya memerintahkan fatimah agar tidur di lantai sedang dirinya tidur di kasur empuk yang bahkan milik Fatimah.
Satya tak bisa tidur, dia hanya membolak balikkan badan merasa gelisah dengan apa yang terjadi.
'Apa aku suruh pindah saja ya? kasihan juga kalau harus tidur di bawah,' sisi baik dalam diri Satya sedang menguasainya dan mencoba menggoyangkan kekerasan hati Satya sat ini.
__ADS_1
"Fatimah!" panggil Satya, tapi yang di panggil tidak menyahuti panggilan Satya, hal itu cukup membuat rasa khawatir dalam diri Satya muncul tanpa di perintah.