
"Mas mau ke mana?" suara Fatimah terdengar mengalihkan perhatian Satya yang terlihat sedang bersiap memakai baju rapi dan trandy.
"Ada meeting dadakan," jawab Satya santai sambil terus menyelesaikan memakai baju.
"Apa? meeting? sejak kapan ada yang namanya meeting dadakan? kenapa aku gak tahu?" seru Fatimah merasa aneh dengan meeting yang baru saja di katakan oleh Satya.
Satya langsung diam mematung setelah mendengar ucapan Fatimah, meski terdengar sederhana, tapi ada maksud tertentu yang terselip di dalamnya.
"Maksud kamu apa Fatimah?" tanya Satya yang langsung menoleh ke arah Fatimah yang berdiri di belakang Satya tidak jauh darinya.
Sedang Fatimah yang merasa jika Satya mengerti dengan maksud dari setiap ucapannya.
__ADS_1
"Fatimah, katakan maksud dari ucapanmu tadi!" Satya kembali meminta Satya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh Fatimah lewat kata-katanya tadi.
"Ti~ tidak ada," jawab Fatimah sambil terbata-bata, bagaimanapun Fatimah tidak mungkin mengatakan semuanya dengan jelas, semua itu karena saat ini dia masih menjadi istri Satya dan Fatimah tidak ingin Satya marah padanya.
"Jangan berbohong! bukankah kamu tahu dengan pasti jika berbohong bukanlah hal yang baik untuk di lakukan!" tutur Satya mencoba mengingatkan Satya jika apa yang baru saja di katakan olehnya bukanlah hal yang sepatutnya di katakan.
"Maaf, Mas," lirih Fatimah yang kini merasa jika apa yang baru saja dia ucapkan bukanlah hal yang baik dan bukanlah hal yang harus di lakukan dia sebagai seorang istri.
"Aku belum mendengarkan maksud dari ucapanmu, tapi kamu sudah mengatakan kata maaf yang sebenarnya semakin membuatku penasaran," jawab Satya, dia tidak langsung menerima kata maaf yang di ucapkan oleh Fatimah, tapi dia malah terus bertanya dengan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
diam dan membiarkan Satya terbawa emosi.
__ADS_1
"Apa itu artinya kamu takut kehilangan aku?" kali ini Satya bertanya seolah dia merasa jika saat ini Fatimah sangat mencintainya, sedang Fatimah hanya menunduk takut karena dia merasa jika apa yang baru saja dikatakannya memang salah, dan tidak seharusnya Fatimah mengatakan hal itu kepada Satya yang akan berangkat mencari rezeki untuk dirinya.
"Jangan takut! aku justru merasa sangat bahagia karena lewat kata-kata yang baru saja aku dengar membuatku semakin yakin, jika kamu mulai menyukai diriku, dan kamu takut kehilangan aku," ujar Satya penuh percaya diri.
Sedang Fatimah yang mendengar ucapan Satya langsung melotot sempurna sambil berharap apa yang baru saja dia dengar bukanlah hal yang nyata, melainkan hanya sebuah ilusi yang akan menghilang setelahnya.
'Cup,'
Bukannya menghilang, sebuah ilusi yang dia harapkan untuk pergi justru mendaratkan bibir manisnya tepat di pipi sebelah kanan miliknya.
"Mas," keluh Fatimah, tapi kali ini Fatimah mengeluh dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu menyukainya?" Jawab Satya sambil mengerlingkan mata menggoda Fatimah yang kini baru melihatnya.
Fatimah tak menjawab, dia terus menunduk merasa malu denganapa yang baru saja dia rasakan dan dia dapatkan, Satya benar-benar berubah membuat Fatimah merasa hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya, dia kini sering mendapatkan sikap manis dan cinta yang di berikan Satya untuknya.