Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Dia Pilihan Ibu


__ADS_3

"Baiklah Mbak, aku akan membantu Mbak Halimah menjelaskan semuanya pada Fatimah," sanggup Bik Husna.


Sungguh manusia berhati batu, Bik Husna trga membohongi Fatimah yang notabennya adalah keponakan dirinya sendiri, dia juga merencanakan hal yang buruk pada Ibu Jalimah, padahal selama ini Ibu Halimah sudah membantu Bik Husna dengan setulus hati, tapi rasa iri dan dengki memang mampu menutup mata hati orang, begitu juga dengan mata hati Bik Husna.


Cukup lama Fatimah tertidur lelap dan menikmati saat-saat paling berharga dalam hidupnya, yaitu ketika dia bisa berada begitu dekat dengan surganya, yaitu sang Ibu.


"Sudah bangun, Nak?" suara Ibu Halimah terdengar, meaki lirih namun terdengar begitu jelas di telinga Fatimah, karena suasana yang sepi membuat suara Ibu terdengar.


"Apa Fatima tidur cukup lama?" selidik Fatimah yang merasa tidur cukup lama hingga lehernya terasa sakit karena posisi tidur yang salah.


"Tidak, kamu tidur hanya sebentar, tidurlah lagi jika kamu merasa belum puas!" sahut Ibu dengan senyum lembut yang mampu membuat semua anak merasa iri padanya.


"Ibu, aku mau sholat dulu." Pamit Fatimah yang langsung berdiri menuju kamar mandi mengambil air wudhu' kemudian keluar dari ruangan menuju mushollah yang memang di sediakan oleh pihak rumah sakit.


Langkah Fatimah terasa begitu berat mengingat semua hal yang telah terjadi, bagaimana dan seperti apa dirinya nanti jika sang Ibu benar-benar pergi menghadap sang pencipta.


'Bruk'


Tanpa di sengaja Fatimah menabrak seorang pria berpakaian putih dengan kacamata yang menempel di wajahnya.


"Maaf," ucap Fatimah yang sadar jika dia memang salah karena tak melihat lurus ke depan saat berjalan, Fatimah sadar jika dia yang melamun.


"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati!" ucap pria itu.


"Terima, kasih, sekali lagi saya minta maaf," Fatimah kembali meminta maaf pada pria yang berdiri di hadapannya, Fatimah yang mengerti jika dia tidak bisa menatap seorang pria yang bukan muhrimnya memilih menunduk dan tidak menatapnya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan minta maaf lagi! lebih baik hati-hati!" sahut pria yang merasa jika gadis di hadapannya ini bukankah gadis biasa, dia pasti lulusan dari pesantren dan memiliki ketaatan yang cukup membuat sang dokter penasaran.


'Siapa gadis itu?' batin Faris sambil berjalan kembali meninggalkan Fatimah yang ikut berjalan ke arah yang berbeda.


"Dokter, ada pasien yang baru datang, dia butuh bantuan dokter untuk memeriksa keadaannya," ujar seorang suster yang baru saja berlari mendekat ke arah sang dokter.


"Hm," sahut sang dokter yanh kini berjalan mendekat ke arah Suster dan berjalan beriringan mendekat ke arah ruangan di mana pasien sudah menunggunya.


******


"Fatimah, kemarilah!" suara Ibu terdengar memanggil Fatimah yang sedang melantunkan ayat-ayat suci, sudah menjadi kebiasaan Fatimah untuk mengaji setelah melaksanakan sholat, terutama jika baru selesai sholat maghrib seperti saat ini.


"Iya, Ibu, ada apa?" tanya Fatimah yang langsung berjalan mendemat ke arah sang Ibu setelah menaruh kembali peralatan mengajinya.


"Apa yang di katakan Ibumu benar Fatimah," sahut Bik Husna yang barusaja keluar dari kamar mandi dan langsung menyahuti ucapan Ibu Halimah.


"Kenapatidak bisa menemuiku Ibu, Bibik? aku tidak akan menghabiskan waktu bejam-jam jika ingin bertemu, lagi pula aku hanya ingin tahu saja bagaimana calon suamiku itu," Fatimah mengutarakan apa yang ada dalam benaknya saat ini.


"Sebenarnya bukan karena lama atau tidak Fatimah, saat ini calon suamimu itu sedang melakukan perjalanan bisnis, dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa mengambil cuti lebih panjang di hari pernikahan kalian, dia juga melakukan semua itu demi bisa memiliki waktu lebih banyak denganmu setelah menikah, dia ingin mengenalmu lebih jauh setelah kalian menikah nanti," jelas Bik Husna yang mampu membuat Ibu Halimah percaya begitu saja dan yakin jika apa yang di katakan oleh Bik Husna itu memang benar adanya.


Tapi apa yang di katakan Bik Husna sama sekali tidak mempan untuk Fatimah, bukannya percaya, Fatimah malah berfikir yang tidak-tidak tentang calon suaminya itu.


"Bik," sela Fatimah yang kini justru menatap intens ke arah sang Bibik.


"Iya Fatimah, ada apa?" sahut Bik Husna yang kini malah menoleh ke arah Fatimah dan ikut membalas tatapannya.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar serius ingin menikah denganku san membangun rumah tangga bersamaku?" tanya Fatimah penuh selidik ke arah Bik Husna.


Fatimah memang sangat pintar dan cerdas, karena itulah dia tidak ingin salah memilih pasangan hidup.


"Dia sangat menykaimu sejak dulu, bahkan dia jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, Satya tidak pernah bermain-main dengan ikatan suci seperti pernikahan," sahut Bik Husna yang kini sedang berusaha untuk membuat Fatimah mempercayainya.


"Bik, aku hanya ingin memastikan saja jika keputusanku ini benar, aku tidak ingin salah memilih," Fatimah kembali mengutarakan alasan dirinya yang kekeh ingin bertemu dengan Satya sang calon suami.


"Dia pilihan Ibumu Fatimah, jika kamu masih ragu dengannya itu artinya kamu juga ragi dengan pilihan Ibumu, ingatlah! Ibumu tidak akan pernah memilih laki-laki buruk untuk puterinya, apa lagi untuk putri kesayangan dan satu-satunya seperti kamu," Bik Husna sudah kehabisan akal untuk membuat Fatimah percaya, dia memilih menggunakan nama Ibu Halimah agar Fatimah tak lagi berdebat dengannya.


Mendengar ucapan Bik Husna yang memang benar membuat Fatimah bungkam, dia memang tidak seharusnya meributkan hal yang mungkin akan menyakiti hati sang ibu, mempertanyakan laki-laki pilihan Ibunya bukanlah hal yang baik dan Ibunya pasti akan merasa sedih saat ini, karena Ibunya mendengar dan menyaksikan langsung sang putri berdebat seolah tak percaya dengan laki-laki pilihannya.


"Maafkan Fatimah, Ibu, sungguh Fatimah tidak bermaksud meragukan laki-laki pilihan Ibu, aku hanya ingin melihat langsung seperti apa rupa dan tutur kata laki-laki yang akan menjadi suamiku nanti, Bu," tutur Fatimah sambil menundukkan kepala, dia menyesal telah berdebat dengan sang Bibik, andai dia tahu jika pada akhirnya semua perdebatan yang terjadi akan menyakiti hati sang Ibu, maka bisa di pastikan Fatimah tidak akan berdebat, dia pasti akan memilih diam dan menerima semuanya tanpa protes.


"Sudahlah, Ibu mengerti apa yang ada dalam fikiranmu," sahut Ibu Halimah.


"Maafkan aku Bu," sela Fatimah.


"Tidak apa-apa, Nak, Ibu tidak mempermasalahkannya, yang penting kamu sudah setuju untuk menikah dengan Satya saja Ibu sudah bersyukur," ujar Ibu yang cukup membuat lega hati Fatimah.


"Aku tidak akan bertanya lagi tentang Satya, aku percaya sepenuhnya pada pilihan Ibu dan Bik Husna, semoga dengan begini kehidupan rumah tanggaku nanti akan di penuhi dengan keberkahan dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohma," Fatimah memilih untuk mengalah dan menghilangkan keinginannya untukbertemu dan mencari tahu laki-laki seperti apa yangakan menikah dengannya nanti.


"Do'a terbaik Ibu akan selalu bersamaku," jawab Ibu Halimah yang tersenyum lembut ke arah Fatimah.


"Bibik juga akan berdo'a untuk kebaikanmu dan kebaikan rumah tanggamu nanti, semoga kamu bahagia, Nak," sahut Bik Husna dengan tatapan yang di buat setulus mungkin dan ucapan selembut mungkin.

__ADS_1


__ADS_2