Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Dasar Bumil


__ADS_3

"Jika menang ada ambil saja! tapi saya tidak punya galau untuk mengambilnya, jadi jika anda melihat buahnya, anda bisa memanjat untuk mendapatkannya," Jelaskan pemilik rumah yang mampu membuat mata Satya yang sejak tadi sebenarnya sedikit mengantuk langsung melebar.


'Astaga, ini sudah jam sebelas malam, dan aku harus manjat pohon semalam ini,' batin Satya langsung mengeluh mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh pemilik rumah, tapi dia tetap harus melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya itu semua dia lakukan demi calon bayi yang pasti akan keluar jika waktunya tiba.


"Baik, Bu, Terima kasih," sahut Satya sambil memaksakan senyum yang terlihat manis meski hatinya terus saja menggerutu.

__ADS_1


"Apa Mas yakin bisa manjat pohon itu?" tanya Fatimah sambil melihat pohon jambu air yang memang sedikit lebih tinggi dari pohon yang lain.


"Jika aku tidak yakin, apa ngidammu itu bisa dirubah? Bagaimana kalau kita membeli jambu air di supermarket saja?" Satya memanfaatkan pertanyaan Fatimah untuk bernegoisasi dan berharap istrinya itu berubah pikiran, karena sejak awal dia memperhatikan pohon jambu air yang ada di hadapannya itu sedang tidak berbuah hanya ada beberapa buah yang terlihat dan letaknya pun cukup berada di atas pohon yang sedikit lebih tinggi itu.


Fatimah tidak lagi menjawab pertanyaan Satya, dia justru menunduk merasa bingung dengan apa yang harus dia katakan, pasalnya saat ini dia memang benar-benar menginginkan buah jambu air yang sejak turun tadi terlihat merah menggoda meski hanya satu biji dan berada di bagian paling atas dari pohon itu, tapi di sisi lain Fatimah tidak ingin membahayakan saat dia yang kini merasa ragu untuk memanjatnya, sungguh saat ini Fatimah berada Dilema yang begitu membingungkan apa yang harus dia pilih dan apa yang harus dia jawab atas pertanyaan yang diajukan oleh Satya saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas," sahut Fatimah yang langsung menghabiskan jambu air yang ada di tangannya itu dengan beberapa gigitan, sungguh rasanya terasa begitu nikmat dan manis tiada tara dan Fatimah tidak pernah memakan buah jambu air seenak ini sebelumnya entah itu rasanya yang memang benar-benar enak dan manis atau ada pengaruh Kang janin yang ada dalam perutnya, Fatimah tidak memperdulikannya yang terpenting saat ini dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Pulang yuk!" Tanpa banyak berkata lagi Fatimah langsung mengajak saat dia pulang saat setelah Dia menghabiskan jambu airnya, dia langsung berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya setelah itu menyadarkan diri menikmati rasa jambu air yang masih saja tersisa dalam mulutnya.


"Ahhh, leganya," seru Fatimah seraya mengusap-usap lembut parutnya dan memejamkan mata, sedang Satya hanya menggelengkan kepala menanggapi sikap Fatimah, kemudian Satya langsung melakukan mobil kembali pulang, dan tanpa di duga, dalam hitungan detik Fatimah langsung tertidur nyenyak dengan seutas senyum yang tersungging di wajahnya.

__ADS_1


'Dasar Bumil, ada-ada saja,' batin Satya menatap sekilas ke arah Fatimah yang terlihat nyenyak, kemudian kembali fokus menatap jalan yang ada di hadapannya.


__ADS_2