Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Tokoh Buku


__ADS_3

"Mas," panggil Fatimah.


Saat ini Fatimah dan Satya sedang berada di dalam kamar, keduanya berada di sana sejak pagi setelah sarapan, Mama dan Ibu Halimah berfikir jika Fatimah dan Satya sedang menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal lebih dalam dan menghabiskan hari pertama setelah pernikahan, tapi kenyataannya Fatimah dan Satya hanya diam di dalam kamar tanpa aktifitas apapun, jika Satya sibuk mengurus bisnisnya lewat ponsel pintar dan laptop yang menyala di hadapannya, maka berbeda dengan Fatimah yang kini sedang merasa bosan, dia hanya diam menatap lurus ke arah balkon di mana hanya ada pintu kaca besar yang menjadi pembatas.


"Hm," sahut Satya singkat, dia benar-benar terdengar berbeda lgi dengan Satya yang ada di meja makan tadi.


'Apa suamiku ini memiliki kepribadian ganda ya?' tanya Fatimah dari dalam hatinya.


"Katakan! ada apa?" Satya yang merasa jika Fatimah ingin mengatakan sesuatu mencoba memaksanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku bosan, jika aku ingin ke tokoh buku, apa boleh?" tanya Fatimah.


"Pergilah!" jawab Satya singkat, dia terdengar seperti tidak begitu peduli dengan apa yang Fatimah lakukan.


"Kau mengizinkanku?" bukannya langsung pergi Fatimah malah bertanya.


"Hm, pergilah sebelum aku berubah fikiran," Satya tak ingin banyak berdebat, mengancam Fatimah agar dia segera pergi sebelum moodnya berubah dan akhirnya Satya berubah fikiran tidak mengizinkan Fatimah pergi.


"Baiklah, aku pergi." sahut Fatimah beranjak dari sofa di mana sejak tadi dia duduk,Fatimah berjalan mengambil tas selempang yang biasa dia pakai saat bepergian, kemudian mendekat ke arah Satya meraih tangannya.


"Mau ngapain?" tanya Satya merasa aneh dengan Fatimah yang harusnya berjalan keluar malah mendekat dan mengulurkan tangan.


Fatimah tidak menjawab pertanyaan Satya, dia hanya menggerak-gerakkan tangan memberi tanda pada Satya jika dia harus meraih tangan Fatimah.


"Aku tidak bawa uang cash," ujar Satya seraya memalingkan wajah melihat ke arah laptop yang masih menyala.


"Aku tidak minta uang padamu, aku mau pamit dan salim padamu," jelas Fatimah yang mengerti jika saat ini Satya salah faham dengan apa yang ingin dia lakukan.

__ADS_1


"Oh," ujar Satya yang kini meraih tangan Fatimah lalu membiarkannya mencium punggung tangannya.


"Aku pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Fatimah melangkah pergi meninggalkan kamarnya dengan Satya yang langsung meraih ponselnya sesaat setelah Fatimah melangkah pergi.


"Iya, Tuan," ujar seseorang dari seberang.


"Ikuti Fatimah dan laporkan apapun yang dia lakukan!" titah Satya pada seorang laki-laki yang ada di seberang telfon.


"Siap, Tuan," sanggup laki-laki dari seberang yang langssung melajukan mobilnya ke rumah Fatimah, untung jarak antara dia dan rumah Fatimah tidak terlalu jauh, jadi dia bisa sampai lebih cepat dari biasanya.


Satya berjalan keluar dari kamar sambil menenteng dua alat komunikasi yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.


"Satya!" panggil sang Mama yang baru keluar dari kamar, tadi Fatimah lolis dari pandangan para penghuni rumah yang bisa di pastikan akan mengajukkan pertanyaan yang cukup membuat Fatimah kesulitan untuk pergi.


"Iya, ada apa, Ma?" sahut Satya yang kini menoleh ke raha sang Mama yang berjalan mendekat ke arah Satya.


"Fatimah sudah pergi lebih dulu. Makanya sekarang aku mau menyusulnya." Jelas Satya yang tak tahu harus beralasan apa lagi, sangat tidak mungkin Satya mengatakan jika Fatimah di biarkan pergi sendirian tanpa di antar olehnya ataupun sopir yang juga ikut menginap di rumah Fatimah.


"Kenapa kamu biarkan dia pergi sendirian Satya?" seperti dugaan Satya, sang Mama pasti mengomel saat mendengar jika Fatimah keluar tanpa dirinya apapun alasannya.


"Ma, kalau Mama mengajakku debat di sini, kapan aku berangkatnya?" ujar Satya yang mengerti jika sang Mama pasti akan berdebat dengan perdebatan panjang yang akan membuat Fatima benar-benar pergi jauh tanpa bisa di ikuti olehnya.


"Sebentar, apa nanti kamu jai pindahan?" tanya Mama Satya.


"Tidak, tiga hari lagi aku pindahan, Fatimah masih ingin di sini," jawab Satya.


"Kalau gitu Mama pulang saja," ujar Mama Satya.

__ADS_1


"Terserah Mama, Satya harus pergi, jika mau pulang aku akan menghubungi sopir di rumah, Mama siap-siap saja! aku pergi dulu." Pamit Satya, di saat-saat tertentu Satya memang bersikap seenaknya sendiri dan Mama Satya yang mengerti akan sifat sang putera hanya bisa diam tanpa ada kata.


Satya yang merasa sudah ketinggalan jauh kini berjalan keluar dari rumah untuk mengejarnya dengan sang sopir yang sudah siap sejak tadi.


"Fatimah bisa mengendarai sepeda motor, sejak kapan? kenapa aku tidak tahu?" lirih Satya menatap aneh ke arah Fatimah yang kini berada di hadapannya, untung saja Fatimah mengendarai sepeda motor dengan lambat, jadi Satya bisa mengejarnya.


Motor Fatimah terus melangkah membelah jalan raya, menyusuri setiap jalan yang dulu pernah menjadi saksi betapa sulitnya Fatimah belajar mengendarai motor yang saat ini dia pakai.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati angin yang berhembus di atas sepeda motor," gumam Fatimah sambil tersenyum menatap ke arah jalan raya menikmati angin yang menerpa tubuhnya.


Motor Fatimah berhenti tepat di depan tokoh buku langganannya, tokoh buku yang sering dia kunjungi saa masih menjadi santri, Fatimah sering sekali menemani Zia membeli buku do tokoh ini, kali ini Fatimah ingin membeli sebuah novel atau buku yang mungkin bisa menemani hari-harinya yang Fatimah prediksi akan membosankan, mengingat sikap Satya yang tak bisa di tebak dan tak bisa di mengerti.


Fatimah melangkah masuk ke dalam tokoh menyusuri setiap rak buku yang tersusun rapi dengan berbagai topik. Dan Satya yang mengikuti Fatimah sejak tadi kini berada di dalam mobil menatap laptop yang terhubung dengan ponsel sang sopir yang kini berada di dalam tokoh mengintai apa yang di lakukan oleh sang majikan.


Satya terus mengamati gerak gerik Fatimah yang tengah memilih buku hingga pandangannya tertuju pada gadis yang peenah dia temui di pesta ulang tahunnya.


"Fatimah!" panggil Zia.


"Neng Zia," seru Fatimah saat melihat Zia yang juga datang ke tokoh buku.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Zia yang langsung berjalan cepat mendekat ke arah Fatimah.


"Aku sedang mencari buku Neng," jawab fatimah.


"Neng Zia sendiri di sini sedang apa?" tanya Fatimah.


"Sama, buku bacaan di rumah sudah habis aku baca semua, jadi aku datang ubtuk mencari buku baru yang bisa aku baca," jelas Zia.

__ADS_1


Keduanya begitu asyik mengobrol dan saling menyapa sampai lupa jika ada Fariz yang berdiri di belakang Zia.


__ADS_2