
'Jika saja kau mengatakan itu beberapa tahun yang lalu Farah, aku pasti akan kembali padamu, tapi saat ini semua sudah terlambat, aku sudah menikah,' batin Satya.
Satya melangkah masuk ke dalam apartemen yang lampunya masih menyala, meski terlihat begitu sepi dan sunyi, tapi lampu menyala menjadi arti jika sang penghuni rumah masih terbangun.
'Apa Fatimah masih terbangun? apa dia tidak tidur untuk menungguku?' batin Satya bertanya-tanya.
Satya terus melangkah masuk ke dalam kamar mencari Fatimah yang dia yakini masih terjaga, tanpa ada niat untuk memanggilnya, Satya khawatir jika dia memanggil Fatimah maka dia akan merasa besar kepala, bagaimanapun Satya harus tetap terlihat dingin dan menyebalkan di hadapan Fatimah, meski sisi baik dalam diri Satya meyuruhnya untuk berhenti, tapi sisi gelap dalam diri Satya masih saja gencar menghasut Satya agar dia tetap melanjutkan apa yang sudah dia rencanakan.
Satya terus saja melangkah mencari Fatimah di setiap sudut kamar, tapi Satya tak menemukannya, hingga sampailah dia di depan kamar mandi, dengan ragu Satya mencoba membuka pintu, jantung Satya berdetak lebih kencang dari biasanya saat tangannya perlahan mendorong pintu kamar mandi, hingga pintu terbuka da Satya bisa melihat jika di sana tak ada siapapun.
"Astaga, sejak tadi jantungku udah lari maraton khawatir jika Fatimah masih ada di sini, ternyata kamar mandi ini kosong," lirih Satya saat dia melihat jika kamar mandinya kosong tak bertuan.
Melihat setiap sudut kamar kosong tak ada Fatimah di sana membuat Satya semakin bingung dan khawatir, Fatimah baru beberapa jam berada di apartemen, dia pasti tidak tahu setiap sudut apartemen yang saat ini dia tempati, karena itulah Satya mencari keberadaan Fatimah, kini dia keluar dari kamar mencoba mencari Fatimah di tempat yang lain, mata Satya tertuju pada dapur yang ada di sebelah kanan dari kamarnya, tanpa banyak pertimbangan Satya langsung berjalan cepat mendekat ke arah dapur, kemudian mencoba mencari Fatimah di sana.
"Di sini juga tidak ada, ke mana Fatimah?" gumam Satya seraya melirik ke berbagai arah, hingga matanya tertuju pada ruang tamu di mana lampunya masih menyala.
Dengan langkah lebar Satya kembali berjalan mendekat ke arah ruang tamu dan menemukan Fatimah yang ternyata tertidur di sofa yang ada di sana.
"Fatimah tidur di sini, apa dia tadi menungguku hingga ketiduran?" Satya terus saja berbicara sendiri melihat keadaan Fatimah yang tertidur di ruang tamu.
'Bagaimana ini? apa aku harus memindahkannya? atau aku biarkan saja seperti ini?' batin Satya kembali berkomentar.
__ADS_1
Melihat Fatimah begitu lelap dalam tidurnya Satya tak mai berfikir telaulm, bagaimanapun juga, saat ini Fatimah tertidur di sana juga karena menunggu dirinya, Satya akan memindahkan Fatimah.
Perlahan tapi pasti, Satya mengangkat tubuh Fatimah dan membawanya masuk ke dalam kamar meletakkan Fatimah di atas spring bad berukuran cukup besar yang ada di ruangan itu.
Berada di dekat Fatimah degan posisi yang sangat dekat membuat sesuatu dalam diri Satya terbangun dan meronta, jika saja Satya tidak ingat dengan dendam yang sudah dia rencanakan, mungkin saat ini dia sudah menghabiskan malam ini dengan berolahraga.
'Sial, selalu saja seperti ini, padahal Fatimah sedang tidur tapi si joni masih saja bangun,' batin Satya mengutuk dirinya yang mudah terpancing oleh Fatimah.
Satya yang tak ingin semakin tersiksa memilih untuk melangkah keluar secepat mungkin setelah meletakkan Farah di atas spring bad, tanpa basa basi Satya masuk ke dalam kamar yang lain untuk menghindari Fatimah.
'Untung saja aku bisa menahannya, jika tidak aku pasti akan mengahbisinya malam ini,' Satya kembali membatin merasakan sesuati dalam dirinya memberontak.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur dari pada harus terus memikirkan hal yang menyebalkan itu," ujar Satya yang kini langsung merebahkan badan di atas spring bad yang cukup nyaman meski tak seluas spring bad di dalam kamar utama.
"Kenapa di sini tidak terdengar adzan ya?" gumam Fatimah saat dia terbangun dan menatap jam dinding yang tergantung cantik di atas tembok tepat di depan Fatimah tidur.
Rasa heran menyelimuti hatinya, apartemen semewah ini tapi tidak terdengar suara adzan, hal itu membuat Fatimah merasa heran sekaligus bingung, tapi apa yang dia rasakan tak menghambat kewajibannya sebagai seorang muslim, Fatimah yang sudah biasa menjalankan sholat lima waktu selalu terbangun dengan sendirinya saat waktu subuh tiba, berbeda jika ada yang membangunkannya.
"Tunggu, kenapa aku bisa ada di sini? bukankah semalam aku tidur di ruang tamu?" gumam Fatimah saat dia sadar jika dia tidak berada di ruang tamu tempat dia tertidur semalam.
"Apa Satya yang memindahkan ku?" Fatimah mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi semalam.
__ADS_1
"Mungkinkah? tapi Satya rusak pernah bersikap baik padaku, mungkinkah dia mau memindahkan ku, atau aku mengigau dan jalan sendiri ke sini? tapi rasanya tidak mungkin, Satya tidak mungkin memindahkan ku? tapi jika bukan Satya aKu tidak mungkin pindah," Fatimah kembali berucap.
Gilirannya beroerang sendiri mencari sebuah jawaban yang mungkin benar.
"Tapi sejak aku bangun aku tak melihat barang hidung Satya," Lirih Fatimah saat kembali masuk ke dalam kamar.
"Sudahlah, lebih baik aku bersih-bersih dulu. Setelah itu masak, bagaimanapun juga sekarang aku seorang istri, karena itulah aku harus menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri," sambung Fatimah yang langsung berjalan menuju dapur untuk memasak.
Sedang di dalam kamar lain Satya baru terjaga, semalam dia benar-benar tak bisa tidur nyenyak, al hasil mata Satya menghitam seperti panda, padahal hari ini Satya harus pergi ke kantor untuk meeting penting bersama client.
'Ceklek'
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Fatimah yang tengah menyiapkan sarapan, kopi hitam di campur susu asli sudah dia buat untuk berjaga-jaga jika Satya datang.
"Oh, ternyata Mas Satya tidur di kamar itu," lirih Fatimah yang hanya bisa dia dengar sendiri.
Melihat Fatimah sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Satya membuatnya sedikit merasa bersalah.
"Minum kopinya dulu Mas!" ujar Fatimah.
Meski dalam hati Fatimah masih ada sejuta tanya, dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Letakkan saja di situ!" sahut Satya seraya melangkah masuk ke dalam kamar jntuk mandi.
Fatimah hanya bisa menghela nafas melihat sikap Satya yang masih saja dingin padanya, tapi setidaknya dia bisa bernafas lega, karena Satya tidak sejahat yang Fatimah fikirkan, buktinya semalam dia memindahkan Fatimah yang tertidur di sofa, meskipun itu hanya prasangka yang Fatimah harap benar nyata.