
"Apa memang ada tempat seperti itu, Ma?" tanya Fatimah yang memang belum pernah datang ke salon yang sama dengan apa yang di katakan sang mama.
"Sudah, kamu tenang saja! Mama pasti akan mengajakmu ke tempat yang pasti nyaman dan tak ada laki-lakinya di sana," sahut Mama.
Dengan langkah dengan penuh semangat Mama mengajak Fatimah berjalan masuk ke sebuah salon yang terlihat sedikit lebih mewah dari pada soal-soal yang ada di tempat lain.
"Talita!" sapa Mama sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan salon yang terlihat begitu ramai sekali.
"Nyonya Nia," sahita seorang gadis yang terlihat seumuran denganku datang dengan gaya rambut modern dan pakaian modis yang cukup menegaskan jika dia adalah gadis sosialita dan trendy.
"Apa kabar?" sambung seorang gadis yang di panggil Talita oleh Mama yang ternyata bernama Nia, selama ini Fatimah tidak pernah tahu siapa nama asli dari mama Satya, dia hanya memanggilnya Mama tanpa tahu siapa nama aslinya.
"Aku baik, aku ke sini bersama menantuku, memperkenalkan ini Fatimah istri dari Satya menantuku," Mama Nia mengenalkan Fatimah sebagai mantunya kepada Talita.
"Wah si tampan sudah punya pasangan, kenapa mamanya tidak mengundangku saat pesta pernikahan?" Sahut Talita dengan ekspresi wajah kecewa yang Fatimah tahu dengan pasti jika ekspresi itu dibuat buat oleh Talita.
"Maaf aku lupa untuk mengundangmu, lagi pula aku masih punya satu putra lagi nanti jika dia sudah menikah aku pasti akan mengundangmu," ujar Mama Nia.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menunggu undangannya," sahut Talita.
"Ngomong-ngomong hari ini Nyonya Nia mau perawatan seperti apa?" Tanya Talita dengan ekspresi penuh keramahan dia menawarkan perawatan kepada Nyonya Nia.
"Aku ingin perawatan komplit seperti biasanya, dan menantuku juga, apa kamu masih menyediakan ruang khusus untuk kami berdua?" Tanya mama Nia yang memang sudah sebulan ini tidak ke salon karena kesibukannya mempersiapkan pernikahan Satya.
Awalnya Mama Nia memang tidak setuju dengan rencana Satya yang tiba-tiba ingin menikah dan mengatakan langsung kepada Mama Nia, padahal selama ini saatnya tidak pernah menunjukkan jika dirinya punya kekasih ataupun seorang gadis yang sedang menjadi pacarnya, tapi sebulan sebelum pesta pernikahan Satya sudah menjelaskan kepada sama mama jika dia tengah melamar seorang gadis untuk dijadikan istri, meskipun waktu itu Satya hanya mengatakan jika dia ingin menikah tanpa tahu dengan pasti kapan pernikahan itu akan dilaksanakan.
Ketidak setujuan mamaniah bukan tanpa alasan, selain mama Nia tidak pernah tahu gadis mana yang akan dinikahi oleh Satya, mama Nia juga khawatir dengan Satria yang tabelnya menjadi kakak Satya, pasalnya Satria masih belum menikah tapi Satya tiba-tiba saja meminta Mama Nia untuk mempersiapkan sebuah pernikahan, meskipun sebenarnya Satria bukan kakak kandung dari Satya, tapi bagi Mama Nia Satria sudah seperti anaknya sendiri.
Satria merupakan anak dari adik Mama Nia tapi sejak kecil dia ikut Mama Nia bahkan Mama Nia lah yang merawatnya sampai besar karena ibu kandung dari Satria sudah meninggal, tapi meski Satria tahu jika dia bukan anak kandung dari mama Nia, Satria tetap menganggap seperti ibu kandungnya sendiri, karena setelah mama kandungnya meninggal sang ayah justru menikah lagi dan melupakan keberadaan Satria.
Fatimah dan Sang Mama mengikuti langkah pemikilik salon menuju tepat berada ruangan yang terpisah dengan yang lain, seruangan begitu sepi tanpa ada yang satu orang pun disana kamu hanya ada tiga orang pegawai wanita yang tengah mempersiapkan berbagai macam alat untuk memanjakan pelanggannya.
"Silakan, nyonya!" Talita mempersilahkan mama untuk masuk dan Fatimah mengikutinya dari belakang.
Perawatan yang Mama Nia lakukan sungguh sangat lengkap mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya dirawat gak lupa juga rambut Fatimah yang panjang lurus tergerai kini berubah menjadi curly, lurus di atas dan keriting di bawah, melihat perubahan rambut Fatimah membuat mama Nia terkejut, karena penampilan baru Fatimah membuatnya terlihat semakin cantik dan menawan.
__ADS_1
"Setia pasti akan senang melihat perubahanmu, Sayang," seru Mama Nia sambil mengusap lembut kepala sang menantu yang tengah duduk di depan kaca sedang dia berdiri di sampingnya.
"Tapi aku akan tetap memakai kerudung Mama, apa tatanan rambut seperti ini tidak akan rusak jika aku memakai kerudung?" Tanya Fatimah yang merasa khawatir jika rambut yang sudah di tata sedemikian rupa akan rusak saat dia memakai kerudung.
"Tentu saja tidak, perawatan di sini memiliki harga yang cukup lumayan dengan kualitas yang tentunya sangat bagus, kamu tidak usah khawatir rambutmu ini akan tetap seperti ini meski kamu memakai kerudung dan akan kembali seperti semula setelah dua minggu," jelas mama Nia yang cukup membuat Fatimah merasa lega karenanya.
"Syukurlah jika begitu,"ujar Fatimah dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Tapi senyuman yang terlihat di wajah Fatimah tiba-tiba memudar tanpa sebab yang pasti, karena itulah Mama Nia yang sedang memperhatikan wajah cantik jelita sang menantu langsung bertanya ketika ekspresi wajahnya berubah.
"Kenapa kamu berubah bersedih seperti itu, Fatimah?" Refleks yang Mama bertanya saat melihat ekspresi wajah Fatimah berubah.
"Apa Mas Satya akan menyukai perubahan rambutku ini, Ma?" Tanya Fatimah yang merasa ragu dengan reaksi yang akan diberikan oleh Satya nantinya.
"Kamu tidak perlu khawatir, karena mama yakin Satya pasti akan menyukai perubahan model rambutmu itu, jika nanti dia protes atau memarahimu maka panggil mama! Biar mama yang mengatasinya," Mama yang sangat mengerti dengan watak Sang putra menjamin jika Fatimah tidak akan dimarahi oleh Satya, karena Satya bukanlah anak yang membangkang ataupun suka melawan orang tua meski dia terlihat dingin dan kaku tapi Satya sangat patuh dengan perintah orang tua, meskipun terkadang Satya yang merasa jika pendapatnya jauh lebih baik dari yang lain dia sedikit tegas dan tak terbantahkan.
"Terima kasih Ma, karena mama aku bisa merasakan perawatan di salon seperti ini," ujar Fatimah sambil mengusap lembut punggung tangan sang Mama yang kini tengah berada di pundak kanan Fatimah.
__ADS_1
"Sama-sama, terima kasih juga karena sudah mengajari mama banyak hal, Mama sadar ada banyak yang tidak Mama ketahui tentang apa itu artinya kehidupan hingga Mama mengenal kamu yang tidak secara langsung sudah menyadarkan mama, jika hidup ini bukan hanya soal dunia," sahut Mama Nia dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Keduanya terlihat begitu bahagia hari ini hingga saatnya mereka pulang, senyum keduanya tak pernah luntur.