Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Meminta Yang Sam Seperti Fatimah


__ADS_3

"siapa juga yang menyuruh kalian menungguku? Aku tidak minta untuk ditunggu," sahut Satya yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, padahal dia memang berada di posisi yang salah saat ini.


"Maaf, tadi agak lama soalnya mas Satya harus membersihkan diri dulu di kamar mandi baru bisa ke sini," salah Fatimah yang merasa jika memang suami dan dirinyalah yang berada di posisi yang salah, karena itulah tanpa diperintah ataupun diminta Fatimah langsung meminta maaf agar suasana ruang makan kembali menjadi tenang.


"Sudah, jangan bertengkar di hari baik seperti saat ini, lebih baik kalian cicipi dulu masakanku dan kalian harus tahu ini masakan pertama kali Mama sejak Mama berhenti memasak waktu SMA dulu," ujar Mama Nia dengan penuh semangat dia berucap, pasalnya tadi Mama Nia sudah sempat mencicipi makanan yang baru saja dia buat ke rumah meskipun tidak murni dirinya sendiri yang membuatkan tapi ada campur tangan Fatimah yang sebenarnya bisa membuat semur daging itu terasa nikmat dan matanya pas, tapi mama Nia terlihat begitu bangga dan bahagia karena makanan yang dia masak bisa diterima di mulut orang lain.


"Bagaimana rasanya?" tanya Mama Nia dengan ekspresi wajah penuh penasaran dia menatap satu persatu anggota keluarganya yang tengah mencoba mencicipi masakannya.


"Aku tidak percaya jika ini masakan Mama," jawab Satria.


"Enak Ma," sahut Satya.


"Kenapa kamu tidak percaya segala? ini benar-benar Mama yang masak," bela Mama Nia yang merasa tidak suka dengan jawaban Satria.


"Benarkah? apa Mama serius? masakan ini murni masakan Mama?" tanya Satria yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang Mama.


"Ishhh, ini memang tidak murni masakanku, tadi Fatimah yang membantuku memasak," akhirnya Mama Nia menyerah sudah, dia memang memasak makanan yang katanya terasa enak, tapi makanan itu di masak bersama Fatimah, tidak murni dari masakannya sendiri.

__ADS_1


"Sudah ku duga," kali ini Satya yang buka suara, sejak awal Satya sudah menduga jika masakan yang dia makan bukan asli masakan sang Mama, apa lagi tadi Fatimah sempat cerita jika dia membantu Mama memasak.


"Tapi tadi Fatimah hanya sedikit membantuku, selebihnya aku memasak sendiri, benar, Kan Fatimah?" Mama Nia masih terdengar ingin mengakui jika masakan yang tengah di nikmati itu merupakan masakan dirinya.


"Iya, benar, Mama memasaknya dengan penuh semangat dan cinta, aku hanya sedikit membantunya," jawab Fatimah sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Mama yang di tanggapi dengan tawa oleh seluruh anggota keluarga, termasuk Mama Nia.


Makan malam kali ini terasa begitu berbeda, tak ada lagi makan malam hening yang biasa terjadi, canda tawa dan kehangatan menghiasi seluruh ruang makan.


"Semua terasa berbeda saat ada kamu Fatimah," ujar Satria setelah menyadari apa yang terjadi memang benar suasana rumah merubah sejak Fatimah masuk ke dalam rumah itu.


"Kenapa hanya diam saja?" tanya Sang Mama saat melihat Satya hanya diam tanpa reaksi.


"Terus aku harus jawab apa Ma?" Mama Nia balik bertanya saat mendengar sang Mama kembali bertanya.


"Setidaknya kamu bilang kalau kamu mau bahagiain Fatimah gitu, atau setidaknya kamu jawab saja kalau kamu sanggup bikin Fatimah bahagia dan tidak akan menyakitinya," ujar Mama Nia.


Fatimah hanya diam tak menjawab ataupun menyahuti pembicaraan sang Mama dan suaminya, mengingat sikap Satya yang masih dingin dan kaku mampu membuat hati Fatimah mencelos, ingin rasanya Fatimah menangis sekuat mungkin dan mengatakan semua keluh kesahnya pada Sang Mama, tapi apalah daya, dia tak ingin membuka aib sang suami, terutama aib itu di buka dan di ceritakan pada sang Mama mertua.

__ADS_1


"Sayang, aku akan bahagiain kamu dan aku juga akan menjaga kamu agar ada satu orang pun yang bisa menyakitimu ataupun menggodamu," Satya yang sangat mengerti dengan watak sang Mama langsung melakukan apa yang diminta oleh mamanya itu, karena jika Satya tidak segera melakukannya maka bisa dipastikan jika Mama Nia akan terus memaksanya untuk melakukan apa yang dia inginkan.


"Nah, kalau kayak gini kan enak dengernya, Mama lihatnya juga bikin adem, sekarang tinggal kamu Satria, kapan kamu akan menikah dan mengenalkan gadis pilihanmu pada mama?" Tanya Mama Nia saat menyadari jika Satria tidak pernah membawa seorang gadis ke rumah dan mengenalkannya kepada Mama Nia sejak dia putus hubungan dengan Intan sudah menjadi mantan pacarnya.


"Jangan terburu-buru mah! Masih ada banyak waktu, lagi sekolah kau masih muda aku tidak ingin salah pilih kalau bisa sih, aku mau nyari yang kayak Fatimah," jawab Satria yang cukup memicu pertengkaran dengan Satya.


"Dasar plagiat istri saja harus nyari kayak punyaku," sahut Satya.


"Apa salahnya sih Satya? lagi pula apa yang dikatakan Satria juga ada benarnya, jika dia mendapatkan gadis yang sama seperti Fatimah maka rumah ini akan jauh lebih menyenangkan juga membawa kebahagiaan, karena faktor yang mendapatkan gadis yang memiliki sifat dan sikap berbanding terbalik dengan Fatimah maka Mama khawatir akan terjadi perselisihan juga pertengkaran nantinya," bela Mama Nia yang merasa jika apa yang dikatakan oleh Satria memang ada benarnya dan Mama Nia berharap Satria bisa menemukan gadis yang sama dengan Fatimah.


"Mana ada gadis yang sama, Tuhan itu menciptakan satu gadis dengan sifat dan wajah seperti Fatimah, anak kembar saja bisa mirip wajahnya tapi memiliki sifat yang berbeda apalagi orang lain," sahut Satya yang merasa sedikit jengah dengan apa yang dibicarakan oleh sang Mama juga sang kakak.


Semua orang terdiam mendengar ucapan Satya, karena apa yang dikatakan oleh Satya memang memiliki kebenaran sembilan puluh sembilan persen, karena memang kebanyakan orang sama seperti apa yang dikatakan oleh Satya, tidak ada yang sama dalam wajah dan sifat seseorang semuanya pasti punya perbedaan meski perbedaan itu hanya sedikit.


"Aku permisi dulu." Pamit Satya setelah makan selesai.


Sikap Satya berubah tidak pernah hangat seperti dulu setelah putus dengan Farah, dia bersikap ramah dan manis saat berada di hadapan sang mertua, dan Mama Nia yang mulai terbiasa dengan sikap dingin Satya yang terlihat biasa saja menghadapinya.

__ADS_1


__ADS_2