Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Sarapan Bersama Mama Nia


__ADS_3

Bukannya bangga atau merasa bahagia, Fatimah justru merasa jika apa yang di katakan oleh sang Mama mertua adalah hal yang sedikit berlebihan, dia tidak sebaik ataupun sesempurna itu, Fatimah merasa jika apa yang di katakan oleh sang mertua bukanlah dirinya, karena Fatimah merasa masih memiliki sejuta kekurangan yang tidak banyak orang tahu.


"Mama terlalu berlebihan menilai ku, karena aku masih memiliki sejuta kekurangan yang mungkin tidak pernah Mama tahu," ujar Fatimah yang tidak ingin Mama Nia berharap terlalu banyak padanya.


"Mungkin kamu benar Fatimah, tapi di mata Mama kamu tetaplah gadis yang hampir mendekati sempurna, jadi, jangan berkecil hati ataupun minder dengan apa yang kamu miliki saat ini, apa lagi kamu sudah menjadi menantuku sekarang, kamu harus selalu percaya diri dan terus bersemangat seperti Mama, biar kamu awet muda," seru Mama Satya dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Mama selalu saja bisa membuat aku kembali bersemangat, terima kasih sudah memotivasi aku Ma," ujar Fatimah.


"Hari ini kamu tidak usah masak untuk sarapan! karena Mama akan ajak kamu sarapan di luar, kamu hanya perlu memasak untuk Satya nanti siang," ujar Mama yang semakin membuat Fatimah bahagia karenanya.


"Kalau kita makan di luar, Bibik bagaimana Ma?" tanya Fatimah yang mengingat jika masih ada Bibik dan yang lain di rumah ini, termasuk sopir dan tukang kebun juga tukang bantu bersih-bersih yang ada di rumah ini.


"Bibik pasti sudah masak buat sarapan dia dan yang lain, tadi Mama sempat kasih tahu beliau kalau Mama dan kamu akan makan di luar," jelas Mama Nia yang cukup membuat Fatimah merasa lega karenanya.


"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya Ma. Mau siap-siap," pamit Fatimah.


Sesaat setelah Fatimah sampai di dalam kamar, dia langsung mengambil ponsel pintar yang ada di atas nakas, tanpa basa basi Fatimah mengambil alih ponsel itu dan mengetik beberapa kata pada sang suami, dan yang membuat Fatimah merasa senang adalah Satya selalu mengizinkan Fatimah pergi bersama sang Mama.


"Pergilah dan hati-hati!" hanya dia kalimat itu yang selalu tertulis setiap kali Fatimah meminta izin pada Satya untuk pergi bersama Mama Nia.


Fatimah yang sudah mendapatkan izin dari Satya langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan kamar dengan tas selempang baru yang kemarin sempat di belikan sang Mama, setiap kali Fatimah berniat membayar belanjaan yang di beli Mama Nia dan dirinya, Mama Nia selalu menolak dan memaksa untuk membayarkannya, karena itulah uang yang di berikan oleh Satya masih utuh tak tersentuh.

__ADS_1


"Ma," panggil Fatimah setelah dia sampai di ruang tamu dan melihat sang Mama sudah siap.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Mama.


"Sudah, Ma," jawab Fatimah sambil tersenyum ke arah Mama Nia.


Bersama dengan Mama Nia Fatimah juga bisa merasakan kebahagiaan karena mendapat kasih sayang dari seorang ibu, Fatimah yang sejak kecil hidup di pesantren kasih sayang seorang ibu yang jarang sekali dia dapatkan karena datang bulan sekali untuk menjenguknya, meskipun terkadang Ibu kalimat datang dua minggu sekali tetap saja tidak bisa mengobati rindu akan semua kasih sayang seorang ibu.


Kali ini Mama Nia mengajak Fatimah sarapan di tempat favoritnya, tempat di mana dulu dia bertemu dengan suaminya saat ini yang merupakan Papa dari Satya dan papa mertua Fatimah.


"Nasi pecel, apa Mama menyukai makanan ini?" Tanya Fatimah saat melihat sang Mama menghentikan mobilnya tepat di depan kedai warung pecel yang terlihat begitu sederhana tapi ramai dengan pengunjung.


"Wah, ini kedai bersejarah sekaligus saksi ya Ma," sahut Fatimah.


'Mama enak punya sejarah saat bertemu Papa, nah aku gak pernah ketemu sebelumnya tapi udah langsung nikah aja,' batin Fatimah.


"Hey! kok ngelamun kenapa?" tegur Mama saat melihat Fatimah hanya diam mematung tanpa kata.


"Eh, tidak ada Ma, aku hanya lagi bayangin bagaimana rasanya ya?" sahut Fatimah yang membuat Mama Nia tersenyum lucu mendengarnya.


"Kamu ini lucu sekali, ngapain ngebayangin rasanya segala, bentar lagi kamu juga bakal tahu gimana rasanya," ujar Mama Nia sambil menahan tawa yang rasanya ingin pecah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Fatimah.

__ADS_1


"He he he ...." Fatimah hanya bisa nyengir kuda mendengar ucapan Mama Nia yang memang benar adanya.


Mama Nia yang merasa lucu dengan apa yang di katakan oleh Fatimah langsung mengajaknya masuk ke dalam kedai dari pada harus membayangkan hal yang sebenarnya bisa dia rasakan langsung.


"Pak pecel dua! seperti biasa ya." Seru Mama Nia yang cukup membuat Fatimah juga siapapun yang mendengarnya mengerti jika Mama Nia sering sekali datang ke kedai itu.


"Siap," sahut pemilik kedai yang langsung membuatkan pesanan Mam Nia tanpa mengatakan dengan jelas pecel seperti apa yang di inginkan Mama Nia.


Sarapan pagi ini terasa sangat berbeda dari biasanya, Fatimah yang jarang sekali sarapan pagi di luar rumah kini merasakan hal baru dalam hidupnya, Mama Nia mengajarinya banyak hal hingga Fatimah mengerti jika hidup ini masih panjang dan masih ada bantal hal yang tidak dia rasakan.


"Bagaimana rasa makanannya?" tanya Mama Nia saat keduanya sudah selesai makan san berada di jalan akan pulang.


"Rasanya enak Ma," jawab Fatimah jujur.


"Tapi yang jualan masih sama ya Ma? atau sudah ganti?" tanua Fatimah yang kini lebih penasaran dengan penjualnya dari pada rasa dari makanan yang ada di sana.


Mama Nia tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir menantunya itu, sungguh Mama Nia merasa sangat lucu, menantunya itu benar-benar bisa membuatnya tertawa setiap waktu, Fatimah tidak membahas makanannya tapi penjualnya.


"Tentu saja sudah berganti Fatimah, dia generasi ketiga, tapi rasa dari masakannya masih tetap sama, tidak pernah berubah sedikitpun, dan Mama masih sangat ingat bagaimana rasanya dulu, karena itulah Mama sering datang ke sana," jawab Mama Nia yang cukup memberi penjelasan pada Fatimah dan menghilangkan rasa penasaran yang ada di bentaknya saat ini.


Fatimah hanya tersenyum setelah mendengar penjelasan Mama, dan suasana mobil kembali hening setelah Mama Nia menjelaskan semuanya hingga keduanya sampai di rumah.

__ADS_1


__ADS_2