Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Belajar Agama Bersama Fatimah


__ADS_3

Keduanya sudah sampai di parkiran mall yang terlihat sedikit lebih ramai dari biasanya.


"Ayo jalan!" ajak Mama Satya yang langsung meraih tangan Fatimah dan mengajaknya masuk ke dalam mall yang terlihat begitu ramai.


"Enaknya kita ke mana dulu ya?" ujar Mama sambil menggandeng tangan Fatimah dan menoleh ke arah kiri dan kanan, terlihat jelas jika saat ini Mama tengah bingung dengan apa yang akan dia pilih.


"Bagaimana kalau kita pergi ke bagian baju?" tawar Mama.


"Boleh Ma," jawab Fatimah yang memang jarang sekali pergi ke mall dan sangat terlihat jika Fatimah masih merasa asing dengan mall yang saat ini mereka kunjungi.


Keduanya berjalan melihat deretan baju yang menurut Mama sangat bagus, tapi berbeda dengan Fatimah, dia melihat semua baju yang berjajar dengan tatapan biasa saja, malah cenderung kurang suka.


"Kenapa kamu hanya diam?" tanya Mama saat melihat Fatimah hanya diam tidak ikut memilih baju sama seperti apa yang di lakukan oleh dirinya.


"Aku tidak memakai baju seperti ini Ma," jawab Fatimah jujur, dia tidak ingin sang Mama berfikir yang tidak-tidak dan pada akhirnya akan menimbulkan sebuah masalah jika dia hanya diam atau berpura-pura suka dan benar-benar memilih baju yang ada di hadapannya itu.


"Astaga, aku sampai lupa jika kamu berhijab," seru Mama yang langsung mengerti maksud dari sang menantu.


"Maaf, Ma," ujar Fatimah yang merasa tidak enak hati pada sang Mama yang justru tersenyum ke arahnya.


"Jangan minta maaf! karena kamu tidak salah, harusnya Mama yang minta maaf, karena Mama tidak peka dengan apa yang ada di hadapan Mama, harusnya Mama faham jika kamu yang memang berhijab tidak akan membeli baju ketat seperti ini, dan seharusnya Mama bisa berubah," ujar Mama sambil menunduk mengingat apa yang seharusnya dia kerjakan sejak lama, tapi masih saja tidak dia kerjakan.

__ADS_1


"Maksud Mama apa?" tanya Fatimah yang justru penasaran dengan apa yang baru saja di ungkapkan oleh sang Mama mertua.


"Bagaimana kalau kita duduk di food court?" tawar Mama yang memang butuh tempat untuk bercerita dan bertukar pendapat dengan Fatimah, hal yang sejak dulu di inginkan oleh Mama yg tapi masih belum punya keberanian untuk itu.


"Boleh, aku ikut ke mana Mama pergi, asal tidak ke sumur aja," jawab Fatimah sambil nyengir kuda, dia terlihat lucu juga bagi orang yang baru melihatnya.


"Mana berani aku ajak kamu ke sumur, kalau sampai terjadi bisa di gorok aku sama Satya," sahut Mama seolah Satya begitu mencintai Fatimah, seandainya Mama tahu bagaimana sikap Satya pada Fatimah, mungkin dia tidak akan berkata seperti itu.


"Mama bisa saja," Fatimah tidak berani bercanda terlalu jauh dengan Mama yang memang seharusnya tetap dia hormati meski dia memiliki sifat semenyenangkan itu, saat ini sikap Mama tidak seperti orang tua, tapi lebih seperti seorang gadis desa.


"Kamu mau makan apa?" tanya Mama sesaat setelah kami sampai dan duduk yang di siapkan di food court.


"Aku mau es jeruk sama kentang saja Ma," jawab Fatimah yang memang kurang suka makanan yang terlalu berat jika sudah sarapan ataupun makan Nasi.


"Sebelumnya Fatimah tidak boleh berfikir buruk atau berfikir yang tidak-tidak tentang Mama, apa Fatimah janji untuk memenuhi apa yang baru saja Mama katakan?" tanya Mama Satya sebelum dia memulai pembicaraan yang serius.


"Tentu saja, Mama," Fatimah menjawab ucapan sang Mama dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, kalau begitu dengarkan baik-baik!" titah Mama yang langsung di turuti oleh Mama.


"Mama adalah anak tunggal dari seorang pengusaha textil yang cukup tersohor di kota ini, karena itulah kedua orang tua Mama sering pergi meninggalkan Mama di rumah sendiri, Bik Mina adalah gadis dua puluh tahun yang nekat bekerja di kota dan kebetulan kita bertemu, Mama di rawat Bik Mina dan selama itu Mama sama sekali tidak belajar agama terlalu jauh, yang Mama tahu hanya sholat, puasa dan, zakat, melihatmu memakai kerudung dan bertutur kata halus membuat pintu hati Mama terketuk untuk mengenal agama Mama lebih jauh, apa Fatimah mau mengajari Mama?" Mama Satya memang ingin sekali mengenal agamanya lebih jauh, hanya saja dia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya dan meminta Fatimah untuk mengajarinya.

__ADS_1


"Tentu saja Mama, aku akan memberitahukan segala hal yang aku tahu sekarang juga," sahut Fatimah penuh semangat, dia tidak pernah menyangka jika Mama mertuanya begitu suka padanya dan bahkan sekarang meminta untuk di ajari agama lebih jauh, sungguh Fatimah merasa Lega.


Mama Satya dan Fatimah mengobrol banyak hal tentang agama hingga keduanya lupa niat awal mereka pergi ke mall.


"Sudah cukup untuk hari ini Fatimah! jika kita terus membahasnya maka bisa di pastikan kita tidak hanya berbincang tanpa melakukan apapun di sini," ujar Mama Satya yang merasa jika sekarang sudah tiba waktunya memake over sang menantu agar puteranya terkejut dengan penampilan Fatimah yang baru.


"Mama benar, memangnya setelah ini kita mau ke mana Ma?" tanya Fatimah.


"Bagaimana kalau kita ke salon?" usul Mama Satya.


"Mau ngapain ke salon, Ma?" tanya Fatimah yang memang belum pernah ke salon sebelumnya.


"Merawat diri Fatimah," jawab Mama Satya.


"Tapi Fatimah tidak bisa Ma," ujar Fatimah yang merasa jika dia memang tidak bisa ke salon.


"Kenapa?" tanya Mama Satya yang merasa heran dengan ucapan Fatimah yang mengatakan jika dia tidak bisa ke salon, padahal biasanya seorang gadis ataupun seorang wanita pasti akan merasa senang bahkan ada yang gemar ke salon untuk merawat diri, tapi Fatimah sangat berbeda dengan gadis atau kebanyakan wanita yang pernah di temui oleh Mama Satya.


"Fatimah tidak bisa membuka aurat, termasuk kerudung di tempat umum, karena Fatimah tidak bisa membiarkan yang bukan muhrim melihatnya apa lagi kalau sampai menyentuhnya," ujar Fatimah yang terkadang melihat seorang laki-laki juga ada yang menjadi penata rambut atau bahkan perias di salon.


Mendengar penuturan Fatimah membuat Mama tersenyum senang, sungguh Satya amatlah beruntung memiliki Fatimah sebagai istrinya.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir! Mama punya tempat khusus yang memang hanya ada Mama di ruangan itu, dan semua pekerjanya wanita kok, Fatimah tidak perlu khawatir!" ujar Mama.


Selama ini Mama Satya memang sangat gemar merawat diri, semua itu di lakukan agar Papa Satya tidak berpaling pada gadis atau wanita lain, karena itulah Mama Satya terlihat begitu muda bahkan sangat jauh berbeda dengan umur aslinya.


__ADS_2