Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Satya Sakit


__ADS_3

Satya tak menjawab ucapan Fatimah, dia memilih untuk memaksakan diri agar bisa duduk, tapi rasa lemas dan sakit yang dia rasakan membuat Satya tak mampu mengangkat tubuhnya sendiri, rasanya begitu berat, di tambah kepala Satya yang terasa sangat berat seperti di hantam batu beton.


"Jangan terlalu memaksakan diri, jika kamu tidak bisa mengangkat tubuhmu, kamu bisa meminta tolong padaku," ujar Fatimah yang kini meraih tangan Satya dan mulai membantunya untuk bangun.


Perlahan tapi pasti, Fatimah mencoba untuk membantu Satya bangun, dengan perlahan Fatimah mengangkat punggung Satya dan meletakkan bantal berukuran cukup besar di belakangnya, bertujuan agar Satya bisa bersandar dengan tenang dan lebih leluasa untuk minum.


"Makan dulu!" ujar Fatimah seraya mengarahkan satu sendok bubur yang tadi pagi sudah dia siapkan.


Melihat perhatian yang di berikan oleh Fatimah membuat sisi baik dalam diri Satya berbisik jika dia sudah bodoh karena telah menelantarkan sang istri yang sudah setia dan baik seperti Fatimah, tapi susi jahat dalam diri Satya masih saja bersikeras jika saat ini dia tetap harus menjalankan rencananya, kenaikan dan ketulusan hati Fatimah adalah hal yang sudah menjadi kewajibannya.


Satya enggap menanggapi suapan dari Fatimah, mulutnya terasa pahit dan rasanya sangat malas untuk makan.


"Ayolah! makan buburnya," ujar Fatimah yang merasa jika sikap Satya seperti anak kecil yang susah makan saat sakit.


"Mulutku terasa pahit Fatimah," keluh Satya yang masih saja menutup rapat mulutnya.


"Tentu saja pahit, kamu sedang sakit, jadi makanlah agar cepat sembuh," sahut Fatimah, sambil terus menyidorkan bubur yang ada di sendok ke arah Satya, sedang Satya terus saja memggelengkan kepala tanda jika dia menolaknya.


"Mas Satya, ayolah makan! kalau Mas tidak mau makan bagaimana akan sembuh?" Fatimah kembali berucap.


Melihat kesungguhan Fatimah untuk membuatkan bubur dan memintanya makan membuat Satya sadar jika dia butuh makan agar bisa cepat sembuh, perlahan Satya membuka mulut dan melahap makanan yang di sodorkan padanya.


"Pahit, Fatimah," Satya kembali mengeluh.


"Kalau manis itu gula, lagi pula mulut orang sakit itu pasti terasa pahit kalau makan," seru Fatimah, Fatimah merasa begitu gemas dengan apa yang di katakan oleh Satya, ternyata Satya jauh lebih manis dan seperti anak kecil saat sakit.

__ADS_1


"Sudah, aku kenyang," ujar Satya setelah melahap beberapa sendok bubur yang di sodorkan oleh Fatimah.


"Kalau sudah minum ini!" titah Fatimah seraya mengulurkan obat dan teh hangat yang tadi di bawanya.


"Obat apa ini?" tanya Satya sambil menatap penuh curiga ke arah obat yang di sodorkan oleh Fatimah.


"Yang jelas ini obat untuk menyembuhkan sakit, Mas," jawab Fatimah.


"Kamu tidak berniat membunuhku, Kan?" Satya kembali bertanya.


"Aku tidak sejahat itu Mas," sahut Fatimah.


Satya yang tahu dengan sifat asli Fatimah yang memang baik dan tak pernah berbuat jahat hanya diam kemudian mulai meminum obat yang di sodorkan padanya.


'Ternyata ada untungnya juga aku menikah, Fatimah memang baik dan perhatian,' batin Satya yang kini mulai memejamkan mata mengistirahatkan badan yang memang terasa sakit semua.


Biasanya jika Satya sakit dia akan menghubungi dokter langganannya, memesan makanan di tempat langganannya, memaksakan diri untuk membuka pintu saat dokter dan makanan yang dia pesan sudah datang, terkadang Satya harus tidur di sofa ruang tamu saat dia merasa tak kuat berjalan jauh, tapi kali ini ada Fatimah yang busa merawatnya dengan tulus, meski Satya bersikap tidak baik pada Fatimah, dia tetap bersikap baik dan merawatnya dengan tulus, Satya yang memang memiliki prinsip tak mau menyusahkan orang tua merasa lega memiliki istri seperti Fatimah, meskipun dendam dalam hatinya belum sepenuhnya sirna, tapi Satya tetap merasa bersyukur.


'Semoga dengan kompres ini Mas Satya bisa cepat sembuh' batin Fatimah setelah meletakkan kompres tepat di dahi Satya.


Sedang Satya yang sebenarnya belum terlelap merasakan benda dingin menempel di dahinya hanya bisa diam tanpa bisa bergerak karena badannya masih merasa lemas.


Selama seharian penuh Fatimah merawat Satya dengan sepenuh hati hingga malam menjelang Fatimah masih saja sibuk merawat Satya yang kini tengah tidur, terlalu dalam mimpinya.


'Dia masih ada di sini, apa Fatimah tidak lelah sudah seharian ini dia merawatku,' batin Satya saat melihat Fatimah terlelap di sampingnya, Fatimah tidur dengan posisi kepala berada di samping Satya sedang badannya Tengah duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur.

__ADS_1


'Kenapa kamu masih bisa bersikap sebaik ini Fatimah? Padahal aku sudah bersikap buruk padamu Sejak pertama kali kita bertemu,' Satya kembali membatin menatap lekat ke arah Fatimah yang tengah terlelap di sampingnya, gerakan mata Satya kini tertuju pada jam dinding yang menempel dengan indahnya di dinding tepat di hadapan Satya.


Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam itu artinya Satya sudah tidur lebih dari lima jam, rasa sakit yang tadi dia rasakan kini benar-benar menghilang, Satya malah merasa gerah dan ingin segera mandi karena memang seharian penuh dia terbaring di atas tempat tidur.


Perlahan tapi pasti Satya mulai bangun dan berniat membersihkan diri, menghilangkan rasa gerah dan lengket yang kini dia rasakan.


"Mas, Satya mau ke mana?" suara Fatimah terdengar, dia yang tadinya terlelap merasakan gerakan di atas kasur yang sedang dia tempati, dengan mata terpejam Fatimah berucap.


"Kamu sudah bangun?" tanya Satya yang kini menoleh ke arah Fatimah yang sudah menegakkan duduknya setelah mendapati Satya merubah posisinya.


"Sudah, Mas Satya mau ke mana?" Fatimah yang merasa jika pertanyaannya belum mendapatkan jawaban kembali bertanya.


"Aku akan ke kamar mandi?" jawab Satya.


"Apa Mas Satya merasa lebih baik sekarang?" Fatimah kembali bertanya saat melihat Satya duduk dengan wajah segar tidak seperti tadi pagi.


"Aku merasa jauh lebih baik sekarang, dan aku ingin mandi," jawab Satya.


"Jangan mandi dulu! takutnya nanti Mas Satya sakit lagi kalau mandi," cegah Fatimah yang memang merasa jika Satya baru saja sembuh, jika mandi sekarang Fatimah khawatir Satya akan kembali sakit.


"Aku tidak apa-apa, aku sudah sembuh Fatimah, jadi jangan khawatir!" sahut Satya yang tetap ingin mandi meski Fatimah melarangnya.


"Kalau Mas Satya masih kekeh mau mandi, tunggu di sini! biar aku siapkan air hangat untukmu," ujar Fatimah.


Satya tak menyahuti ucapan Fatimah, dia hanya diam menetap ke arah Fatimah yang kini melanggar pergi dan masuk ke dalam kamar mandi menyiapkan air hangat dan bak mandi untuk Satya.

__ADS_1


__ADS_2