
"Kenapa di kunci?" lirih Satya saat dia berusaha membuka pintu kamar Fatimah.
Satya yang memang merasa lelah terpaksa berjalan kembali ke ruang keluarga karena tak ada sahutan dari dalam kamar, dan pintu kamar Fatimah di kunci dari dalam.
"Loh, kok kembali ke sini? apa Fatimah tidak ada?" tanya Ibu Halimah saat dia melihat Satya berjalan kembali ke ruang tamu.
"Kamar Fatimah di kunci, Bu," jawab Satya.
"Apa kamu sudah mengetuk dan memanggilnya?" tanya Ibu Fatimah.
"Sudah, tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar," jawab Satya yang tadi memang sudah berusaha memanggil Fatimah yang tak kunjung menyahuti ucapannya.
"Mungkin Fatimah tertidur, dia terbiasa mengunci pintu saat tidur, aku fikir kebiasaan itu akan hilang setelah menikah, tapi ternyata tidak," gerutu Ibu Halimah yang merasa kebiasaan sang Putera cukup menyusahkan Satya sang suami.
"Tunggu disini! biar Ibu ambilkan kunci cadangannya!" titah Ibu Halimah.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Ibu kudian berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
Sedang Ibu Halimah berjalan keluar dari ruang keluarga meninggalkan Satya yang kini duduk manis di depan sofa.
Lima menit Satya menunggu Fatimah yang tak kunjung datang, hingga akhirnya dia berjalan membawa kunci cadangan yang sengaja di simpan di kamarnya.
__ADS_1
"Ini kunci cadangan kamar Fatimah, mulai sekarang kunci ini jadi milikmu, kamu bisa menggunakannya, jadi tidak perlu bingung jika kamarnya di kunci oleh Fatimah," ujar Ibu Halimah yang kini menyodorkan kunci ke arah Satya.
"Terima kasih, Bu," sahut Satya seraya berjalan meninggalkan sang Ibu menuju kamar di mana Fatimah tengah tertidur lelap.
"Iya," jawab Ibu Halimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Satya berjalan menuju kamar Fatimah dan membuka kunci kamarnya, kemudian menyimpan kunci yang di berikan Ibu Halimah agar bisa di gunakan saat dia mbutuhkan suatu saat nanti.
'Ternyata dia tertidur,' batin Satya menatap lekat ke arah Fatimah.
Entah mengapa kini jantungnya berdetak lebih kencang dari sbeelnya, rasa cinta yang dulu pernah ada dan sempat menghilang tertutup rasa benci yang menguasai dirinya.
Satya kembali menatap Fatimah lekat hingga rasa kantuk yang kini menguasai dirinya membuat Satya sadar jika apa yang dia lakukan saat ini bukanlah hal yang baik, karena bisa di pastikan si joni akan bangun dan minta di puaskan.
Satya sengaja tidur di samping Fatimah, dia tidak ingin tidur di sofa yang ada di kamar Fatimah, karena ukuran sofa di kamar Fatimah jauh lebih kecil dari pada sofa yang ada di kamarnya.
Cukup lama keduanya terlelap dalam mimpi masing-masing, hingga tanpa sadar Satya yang kini tengah bermimpi memeluk sebuah guling ternyata telah memeluk Fatimah yang juga terletak di sampingnya.
'Kenapa rasanya berat sekali,' batin Fatimah merasakan sesuatu yang menimpa perutnya, Fatimah merasa ruang geraknya terbatasi dan dia sama sekali tak bisa membalikkan badan karena sesuatu yang menimpa perutnya itu.
Perlahan tapi pasti mata Fatimah mulai terbuka dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang menimpa perutnya saat ini.
__ADS_1
'Hah, tangan,' Fatimah kembali membatin setelah melihat sebuah tangan berada di atas perutnya, merasa ada yang aneh Fatimah kembali menutup mata.
'Kenapa bisa ada tangan?' Fatimah terus saja membatin mencoba menebak tangan siapa yang mungkin ada di atas perutnya.
'Apa mungkin ini tangan Ibu?' tanya Fatimah dalam hati, dengan perlahan Fatimah mencoba meraba telapak tangannya, mencoba mencari tahu siapa pemilik tangan Yang kini bersandar cantik di perutnya.
"Besar, dan tidak lembut," gumam Fatimah yang hanya mampu dia dengar sendiri.
Fatimah merasa semakin bingung dengan apa yang sebenarnya berada di atas perutnya, jika itu tangan sang ibu maka akan berbeda dengan tangan yang baru saja dia pegang, tangan ibu yang begitu lembut dan halus sangat jauh berbeda dengan tangan yang saat ini dia pegang, tangan berotot dan sedikit kasar.
Perlahan namun pasti Fatimah mulai membuka kembali matanya yang tadi tertutup, dia mencoba melihat apa yang sebenarnya ada di atas perutnya kemudian memberanikan diri menoleh ke arah sampinh.
"Mas Satya!" Seru Fatimah saat ia menoleh ke arah samping dan mendapati Satya yang tengah terlelap dalam mimpi dan menoleh ke arahnya, saat ini Satya terlihat seperti seorang laki-laki berhati lembut dan mulia dia begitu manis, meski Fatimah berucap sedikit keras tapi satya sama sekali tidak terusik ataupun terganggu dengan suara Fatimah dia malah terlihat begitu lelap hingga membuat Fatimah merasa kasihan untuk mengusik tidurnya.
'sejak kapan Mas Satya ada di sini? dan kenapa dia tidur sambil memelukku? Biasanya dia akan tidur di tempat lain dan dia terlihat Enggan tidur disampingku, tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba tidur di sampingku sambil memelukku pula?' batin Fatimah mulai menerka apa yang sebenarnya terjadi dan sejak kapan Satya ada di kamarnya, seingat Fatimah tadi dia tidur sendirian dan Satya ada di kantor.
'sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus beranjak dari tempat tidur? atau diam seperti ini dan menunggu Mas Satya bangun?' Fatimah mulai merasa bingung, pasalnya sudah lima menit lebih dia terbangun tapi tak berani untuk beranjak dari tempat tidur karena takut mengganggu Satya yang tengah terlelap di sampingnya.
Fatimah terus saja bingung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri, hingga Satya yang tadinya terlelap dalam tidurnya kini perlahan mulai bergerak dan terbangun.
Melihat Satya mulai bergerak dan terlihat seperti seseorang yang akan bangun membuat Fatimah yang sejak tadi membuka mata spontan langsung menutup mata ketika merasakan gerakan dari tubuh Satya yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Satya yang baru saja membuka mata langsung terkejut ketika menyadari jika dirinya tidur sambil memeluk Fatimah yang tidur terlentang di sampingnya, Satya tidak menyangka jika dia akan merasa begitu nyenyak tidur sambil memeluk Fatimah, jika dia tahu lebih awal kalau tidur sambil memeluk Fatimah akan membuatnya merasa nyaman dan tidur sangat lelap dia pasti akan melakukannya sejak lama, tapi itu akan dia lakukan jika si Joni tidak bangun, jika si Joni bangun dan dia berada di posisi seperti saat ini, maka bisa dipastikan Satya tidak akan pernah bisa menahan dirinya lagi.
"Ternyata kamu jauh lebih cantik jika aku perhatikan dari sini," ujar setia sambil menatap lekat ke arah Fatimah yang terlihat tidur di sampingnya, sedang Fatimah yang sebenarnya pura-pura tidur merasa sangat bahagia karena mendapat pujian dari Satya, orang yang selalu bersikap dingin padanya itu kini memujinya, rasanya saat ini Fatimah ingin bangun dan melompat mengungkapkan rasa senangnya karena di bilang cantik.