
Makan siang yang Satya inginkan tidak bisa sepenuhnya terjadi, Satria yang tiba-tiba datang membuat mood Satya menghilang.
"Kamu tidak makan?" tanya Satya saat melihat Fatimah hanya diam melihat Satya dan Satria makan.
"Tidak, kalian saja yang makan," jawab Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Ayo makan bersamaku!" ajak Satya.
Makanan yang ada di wadah Satya memang cukup banyak, cukup untuk berdua.
"Eh, tidak usah Mas, aku masih kenyang," sahut Fatimah yang tidak ingin mengurangi jatah milik suaminya itu.
"Kamu fikir aku apa sampai bisa menghabiskan makanan sebanyak ini, makanan ini terlalu banyak untukku," ujar Satya Sambil meraih tangan Fatimah dan menuntunnya agar ikut makan bersamanya saat ini.
Fatimah tersenyum melihat betapa perhatiannya Satya saat ini, dengan penuh rasa bahagia dia ikut makan di wadah yang sama dengan Satria.
"Permisi, Tuan," kali ini suara Daniel sang asisten terdengar menengahi keasyikan makan semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Ada apa, Daniel?" tanya Satya.
"Ada delivery makanan untuk Tuan Satria," jawab Daniel.
Sebenarnya Satria sudah pesan makanan tadi, tapi makanan yang dia pesan bukan makanan utama, melainkan makanan penutup atau bisa di bilang disert.
"Bawa masuk!" sahut Satria yang langsung di turuti oleh Daniel.
Dengan langkah lebar Daniel berjalan keluar dari ruangan mengambil makanan yang telah di antar oleh kurir, kemudian kembali masuk ke dalam ruangan memberikan makanan yang dia bawa pada Daniel yang sudah menunggunya.
"Terima kasih," jawab Daniel dengan senyum yang merekah di wajahnya.Makan siang yang Satya inginkan tidak bisa sepenuhnya terjadi, Satria yang tiba-tiba datang membuat mood Satya menghilang.
"Kamu tidak makan?" tanya Satya saat melihat Fatimah hanya diam melihat Satya dan Satria makan.
"Tidak, kalian saja yang makan," jawab Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.
__ADS_1
"Ayo makan bersamaku!" ajak Satya.
Makanan yang ada di wadah Satya memang cukup banyak, cukup untuk berdua.
"Eh, tidak usah Mas, aku masih kenyang," sahut Fatimah yang tidak ingin mengurangi jatah milik suaminya itu.
"Kamu fikir aku apa sampai bisa menghabiskan makanan sebanyak ini, makanan ini terlalu banyak untukku," ujar Satya Sambil meraih tangan Fatimah dan menuntunnya agar ikut makan bersamanya saat ini.
Fatimah tersenyum melihat betapa perhatiannya Satya saat ini, dengan penuh rasa bahagia dia ikut makan di wadah yang sama dengan Satria.
"Permisi, Tuan," kali ini suara Daniel sang asisten terdengar menengahi keasyikan makan semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Ada apa, Daniel?" tanya Satya.
"Ada delivery makanan untuk Tuan Satria," jawab Daniel.
Sebenarnya Satria sudah pesan makanan tadi, tapi makanan yang dia pesan bukan makanan utama, melainkan makanan penutup atau bisa di bilang disert.
"Bawa masuk!" sahut Satria yang langsung di turuti oleh Daniel.
Dengan langkah lebar Daniel berjalan keluar dari ruangan mengambil makanan yang telah di antar oleh kurir, kemudian kembali masuk ke dalam ruangan memberikan makanan yang dia bawa pada Daniel yang sudah menunggunya.
"Terima kasih," jawab Daniel dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Aku tadi sengaja membeli disert ini untuk kita makan sekalian, silahkan di makan!" ujar Satria yang telah membeli beberapa buah segar, salad dan brownies cokelat kesukaan Satya, meski keduanya sering terlihat bertengkar dan tidak akur, tapi percayalah Satya dan Satria saling menyayangi, keduanya saling membantu satu sama lain, meskipun kata-kata Satya sering terdengar tidak bersahabat, tapi Satria tidak pernah menganggapnya serius, jika bukan karena kebaikan kedua orang tua Satya, mungkin saja saat ini Satria tidak akan bisa hidup layak seperti saat ini, mungkin dia akan terlunta-lunta di jalanan, karena hanya kedua orang tua Satya lah yang menerimanya dengan sangat tulus.
"Apa aku boleh memakan saladnya?" Fatimah tidak berani langsung memakan disert yang di letakkan di atas meja, dia memilih bertanya lebih dulu dari pada langsung memakannya.
"Tentu saja, makanlah!" jawab Satria yang kini mengambil buah apel sebagai makanan penutup. Sedang Satya langsung memotong brownies dan melahapnya tanpa ada kata.
"Enak juga punya istri atau adik ipar yang pintar memasak seperti kamu," seru Satria.
"Kalau pengen gitu, nikahlah Kak! biar ada yang merhatiin," sahut Satya sambil melahap brownies di tangannya.
__ADS_1
"Semuanya sudah makan siang, aku pamit pulang ya Mas," pamit Fatimah yang merasa jika tugasnya sudah selesai.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Satria yang memang merasa sudah kenyang memilih untuk segera pergi agar sang adik bisa mengantar Fatimah pulang.
"Kak Satria!" panggilan dari bibir Satya cukup menghentikan langkah Satria.
"Kenapa?" sahut Satria seraya menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Satya yang memanggilnya.
"Aku akan pulang nanti, bisakah Kakak temui clien kita jam tiga sore ini?" tanya Satya.
"Di mana?" Satria balik bertanya.
"Di cafe depan," jawb Satya.
"Ok, nanti aku akan temui mereka, suruh Daniel datang ke ruanganku untuk menjelaskan apa yang akan di bahas nanti," jawab Satria.
"Daniel akan ikut aku rapat sebebtar, nanti kala urusannya sudah selesai, dia akan aku suruh ke ruanganmu," jawab Satya yang mendapat anggukan sebagai jawaban, kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang Satya menuju ruangannya sendiri.
"Aku akan tunggu dia di ruanganku," ujar Satria melangkah pergi meninggalkan ruangan Satya.
"Kamu tunggu di sini! jangan ke mana-mana! kalau haus di mejaku ada air putih dan kamu bisa meminumnya," tutur Satya yang di angguki oleh Fatimah, tanda jika dia mengerti dengan apa yang di katakan oleh Satya saat ini.
"Aku rapat dulu, kalau ada apa-apa telfon aku!" titah Satya.
"Apa aku bisa melihat-lihat ruanganmu?" tanya Fatimah yang takut bosan jika hanya duduk diam di atas sofa.
"Lihat saja sesukamu!" jawab Satya yang terlihat biasa saja dan tidak merasa terganggu dengan permintaan Fatimah.
Senyum cerah terlihat jelas di wajah Fatimah yang pasti akan meras bosan jika hanya diam di sofa tanpa melakukan hal lain.
"Aku tinggal dulu." Pamit Satya setelah mengambil beberapa berkas kemudian melangkah pergi meninggalkan Fatimah yang masih duduk di sofa.
"Iya, semangat kerjanya Mas!" sahut Fatimah yang hanya mendapat senyuman dari Satya sebagai jawabannya.
__ADS_1
Fatimah sejenak terdiam memperhatikan setiap detail ruangan Satya yang terlihat begitu mewah, ternyata aku menikah dengan orang tajir, sungguh aku tidak pernah menyangka akan hal ini, jodoh yang di kirim untuk Fatimah memang jodoh yang terbaik.