Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Hanya Prediksi


__ADS_3

"Sebenarnya beberapa hari ini aku merasa mual dan pusing, apalagi di pagi hari," tutur Fatimah sambil menundukkan kepala.


"Apa itu tandanya kamu sedang hamil?" tanya Satya seraya mengangkat pelan dagu Fatimah agar dia bisa melihat wajah cantik sang istri.


"Entahlah Mas, aku sedang mengeceknya," jawab Fatimah sambil menunjukkan taspeck yang ada di tangannya.


"Loh, kenapa harus pakai alat ini? memangnya di rumah sakit tidak ada alat untuk mengecek kehamilan?" satya kembali bertanya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan Fatimah di rumah sakit.


"Kata dokternya aku harus menggunakan tepack ini dulu, kalau sudah tahu positif atau tidaknya aku baru bisa pergi ke rumah sakit," jelas Fatimah.

__ADS_1


"Kalau begitu lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu!" ujar Satya sambil merangkul pundak Fatimah, mengajaknya duduk di ruang keluarga,


"Apa sekarang masih mual dan pusing?" tanya Satya yang terlihat begitu khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.


"Sudah jauh lebih baik, aku merasa mual dan pusing itu ketika baru bangun tidur di pagi hari saja Mas, jika sudah mengeluarkan semua isi dalam perut, rasa sakit itu langsung hilang," Fatimah kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimanapun juga Satya memang berhak tahu keadaan dirinya yang sebenarnya.


"Aku tidak akan pergi jauh lagi Fatimah, jika saja aku tahu keadaamu itu, aku pasti akan meninggalkan pekerjaanku demi dirimu," ujar Satya yang kini sedang duduk merapat ke arah Fatimah. Kemudian merangkul Fatimah penuh cinta.


"Mas mau makan atau mau Fatimah buatkan minum?" tawar Fatimah saat dia baru sadar jika sang suami belum makan atau minum apapun saat pulang ke rumah.

__ADS_1


"Makan atau minumnya nanti aja dulu, yang terpenting keadaanmu sekarang," jawab Satya yang memang terlihat masih enggan untuk makan ataupun minum.


"Aku baaik-baik aja Mas, jangan terlalu mengkhawatirkan aku," terang Fatimah yang tak ingin melihat Satya terus khawatir padanya dan Satya hanya diam tak berniat membalas ucapan Fatimah.


"Mas kenapa pulang tidak kemberitahu aku dulu? bukannya kemarij bilangnya pulang sore atau malem baru nysmpek, tapi kenapa tiba-tiba Mas Satya ada di sini?" serentetan pertanyaan yang sejak tadi di tahan oleh Fatimah akhirnya keluar, rasanya sangat lega seteoah mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam fikuran dan hati Fatimah sejak tadi.


"Mas sengaja pulang lebih awal tujuannya ingin membuatmu terkejut, tapi ternyata kamu yang jembuqtku lebih terkejut lagi," jawab Satya yang memang berniat untuk mrmberi kejutan pada Fatimah, tapi niatnya gagal, semua itu karena kabar prediksi kehamilan Fatimah.


"Tapi apa yang aku katakan masih prediksi Mas, entah benar atau slah aku tidak tahu," ujar Fatimah yang kini menunduk dengan ekspresi penuh kekhawatiwn, jujur saja jauh di dalam lubuk hati Fatimah yang paling dalam dia takut jika apa yang di prediksi dirinya dan Bibik salah.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu di fikirkan! hamil atau tidak aku tidak akan pernah menyalahkanmu, apa lagi memaksamu, karena sejatinya seorang anak bukanlah kehendak kita untuk menentukan kapan kita punya anak atau kita bis di ercaya untuk mendapatkannya, jadi jika kamu masih belum hamil, jangan takut apa lagi sampai putus asa, yang penting terus berusaha membuatnya, urusan jadi atau tidak bukan kehendak kita," Satya mencoba menjelaskan sekaligus memberi tahu kepada Fatimah agar dia tidak perlu khawatir ataupun sedih jika hasilnya tidak sesuai harapan.


__ADS_2