Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Jangan Banyak Protes!


__ADS_3

Mobil terus melaju membelah jalan raya meninggalkan rumah sakit menuju rumah Mama Nia.


"Satya, Fatimah," sambut Mama Nia yang langsung berjalan mendekat ke arahnya dan melihat putera juga menantunya datang. Mama Nia terlihat begitu bahagia dengan senyum yang tersungging indah di wajahnya.


"Siang Ma," sahut Fatimah yang langsung mendapat pelukan hangat sang Mama mertua.


Rasanya sangat membahagiakan saat mendapat perhatian dari Mama mertua yang memang memiliki kebaikan luar biasa seperti Mama Nia, dia begitu perhatian dan kasih sayang yang di tunjukkan melebihi kasih sayang seorang Ibu kandung.


"Ma, mulai hati ini aku akan tinggal di sini," tutur Satya.


"Benarkah? Mama sangat senang jika apa yang kamu katakan itu benar," seru Mama Nia yang terlihat girang saat mendengar penuturan Satya yang ingin tinggal bersama dengannya.


"Tentu saja, Satya akan tinggal di sini karena Fatimah hamil, dan Satya harap Mama bisa menjaga Fatimah selama Satya pergi," ucap Satya.


"Syukurlah, Mama jadi punya temen di sini," Mana Nia kembali berseru dengan ekspresi wajah penuh rasa bahagia dia berucap.


"Eh, tunggu!" Mama Nia langsung menoleh ke arah Satya yang berdiri di sampingnya saat dia menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Fatimah hamil?" tanya Mama Nia yang terlihat begitu terkejut saat mendengar penuturan Satya jika istrinya itu tengah hamil.


"Iya, Ma, Fatimah hamil dan baru berusia dua minggu," Fatimah mencoba meyakinkan Mama Nia agar dia percaya dan tidak merasa bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Benarkah? syukurlah, aku akan punya bayi," girang Mama Nia yang langsung melompat kegirangan kemudian memeluk erat Fatimah menyalurkan segala rasa cinta yang dia miliki untuk menantunya itu.


"Ma, jangan memeluknya terlalu erat! Fatimah sedang hamil dan pelukan Mama mungkin saja bisa membuatnya sesak," cicit Satya yang kini berada dalam mode waspada dan menjaga agar sang istri selalu nyaman.


"Ops, maaf, Mama lepas kendali," ujar Mama Nia sambil nyengir kuda, merasa jika apa yang di katakan olehnya memang bukanlah hal yang bisa di benarkan.


"Iya, Mama tahu, sudah, jangan banyak bicara! lebih baik sekarang bawa istrimu pergi ke kamar untuk beristirahat! biar Mama yang menyiapkan makan untuknya," titah Nama Nia yang langsung di turuti oleh Satya tanpa banyak protes, begitu juga dengan Fatimah yang merasa mengantuk juga lelah, Fatimah tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, saat ini dirinya sering sekali merasa mengantuk dan merasa lelah.


"Tumben Fatimah langsung tidur," gumam Satya sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi dan melihat Fatimah yang kini Sudah terlelap di atas tempat tidur, sungguh Satya merasa heran dengan apa yang terjadi pada Fatimah saat ini, karena biasanya dia akan membersihkan diri dulu sebelum tidur tapi saat ini Fatimah seperti tak peduli dengan kebersihan dirinya, dan dia lebih sering tidur dari pada melakukan kegiatan seperti biasanya. Tapi Satya tidak mau ambil pusing, dia memilih untuk ikut bergabung ke alam mimpi bersama Fatimah dari pada memikirkan perubahan sikap Fatimah yang cukup membuat Satya bingung.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu Mengusik tidur Fatimah dan Satya yang memang cukup lama terlelap dalam dunia mimpi.

__ADS_1


"Nona, Aden, ini Bibik," suara sang asisten rumah tangga samar-samar terdengar dari luar kamar.


"Biar aku yang membukanya, tetaplah tidur!" cegah Satya yang melihat Fatimah duduk dan hendak beranjak dari tempat tidur.


"Kenapa aku di suruh tetap di sini? aku sudah tidur tadi, kenapa harus tidur lagi sih?" lirih Fatimah merasa jengkel dengan apa yang baru saja di katakan oleh Satya.


"Masuklah!" suara Satya kembali terdengar mengalihkan kejengkelan yang sejak tadi di rasakan oleh Fatimah.


"Bibik bawa makanan sebanyak itu ke kamar untuk apa?" tanya Fatimah yang kini tiba-tiba melihat Bibik membawa beberapa makanan di atas nampan yang cukup besar dan setiap makanan yang di bawa oleh Bibik memiliki porsi yang cukup besar.


"Maaf Nona, saya di perintahkan Nyonya Nia untuk membawa semua makanan ini ke kamar untuk Nona Fatimah yang sedang hamil," jelas Sang asisten rumah tangga yang cukup membuat mulut Fatimah terbuka lebar karena terkejut dengan apa yang baru saja di jelaskan olehnya.


"Bik, aku bukan raksasa yang membutuhkan porsi banyak seperti itu untuk makan, lagi pula aku juga masih bisa jalan dan pergi ke ruang makan jika ingin makan, kenapa harus di antar ke sini?" Fatimah kembali mengeluh, sungguh anak dan putera sama saja, Sama-sama ekstrim saat memperlakukan seseorang yang mereka sayang.


"Sudahlah! jangan banyak protes! makan saja apa yang Bibik bawa untukmu! lagi pula semua makanan ini baik untuk kesehatanmu," sahut Satya santai tanpa ada beban di hatinya.


Fatimah hanya diam menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Satya bisa seenteng itu menyuruhnya untuk menghabiskan makanan yang di bawa oleh sang Bibik.

__ADS_1


__ADS_2