
"Mau pilih yang mana?" tanya pihak WO yang terlihat bingung saat aku tak kunjung memilih tapi malah diam sambil menatap bingung kedua gaun yang ada di hadapanku.
"Bukankah biasanya yang mengurus baju pengantin itu pihak dari butik atau yang lain, ini kenapa pihak WO mau repot-repot datang ke rumah untuk membawakan gaun untuk calon mempelai wanita?" tanya Fatimah yang merasa aneh dengan apa yang sedang terjadi.
"Kami menyediakan paket lengkap di mana bukan cuma tempat catering dan keperluan pesta pernikahan saja, tapu kamu juga menyediakan gaun juga kebutuhan lain termasuk paket bulan madu," ujar pihak Wo yang saat ini mengurus gaun pengantin Fatimah.
"Oh," satu kata singkat terdengar dari bibir Fatimah.
Fatimah mencoba mensyukuri sekaligus menerima semua yang telah di takdirkan untuknya, baik buruknya Fatimah harus menerima.
Saat ini sudah dua hari terlewati begitu saja, setelaj kedatangan pihak WO yang memintanya untuk memilih gaun yang akan di gunakan ketika akad nikah nanti, kini Fatimah duduk di teras belakaang rumah, menikmati sinar mentari sore sekaligus cahaya jingga yang menghiasi langit sebagai tanda jika malam akan segera tiba.
"Fatimah," lirih Ibu Halimah dengan tangan yang terlihat masih setia menggenggam erat jemari Fatimah.
"Iya, ada apa Bu?" sahut Fatimah sambil menatap lekat ke arah sang Ibu yang semakin hari terlihat semakin pucat tak berenergi.
"Bukankah lusa kamy mau menikah dengan Satya," ujar Ibu Halimah.
"Iya, Bu," sahut Fatimah yang kini berusaha menampakkan wajah biasa saja karena bagi Fatimah pernikahan ini bukanlah pernikahan yang dia impikan, demi baktinya pada sang Ibu, Fatimah rela menikah dengan laki-laki yang bahkan tak dia kenal sebelumnya.
"Apa kamu tidak berpamitan dengan para pengasuh dan teman-teman kamu di pesantren?" tanya Ibu.
Mendengar pertanyaan Ibu membuatku mengingat kembali rumah kedua yang selalu di rindukan tapi juga terkadang ingin di tinggalkan. Pesantren adalah rumah kedua bagi kami para santri, di sana kami menghabiskan lebih banyak waktu dari pada di rumah kami sendiri.
"Aku belum meminta izin dan restu Bu, apa bisa kita ke sana?" lirihku mengingat waktu pernikahan sudah di depan mata.
"Tentu saja bisa, bagaimana kalau kita ke pesantren sekarang?" tawar Ibu.
"Sekarang, Bu?" aku mencoba memastikan jika pendengaranku tidak terganggu, rasanya akan sangat sulit untuk mengatakan semuanya secepat ini, bagaimana dengan teman-teman sekamarnya nanti? apa mereka bisa menerima berita yang sangat mendadak seperti saat ini? yang aku tahu pasti mereka akan menuntut sebuah cerita dan bagaimana calon suamiku nanti?
__ADS_1
"Bu," jika aku tidak memberi kabar ke pesantren bagaimana?"Ftimahkembali bertanya.Fatimah mencoba mensyukuri sekaligus menerima semua yang telah di takdirkan untuknya, baik buruknya Fatimah harus menerima.
Saat ini sudah dua hari terlewati begitu saja, setelaj kedatangan pihak WO yang memintanya untuk memilih gaun yang akan di gunakan ketika akad nikah nanti, kini Fatimah duduk di teras belakaang rumah, menikmati sinar mentari sore sekaligus cahaya jingga yang menghiasi langit sebagai tanda jika malam akan segera tiba.
"Fatimah," lirih Ibu Halimah dengan tangan yang terlihat masih setia menggenggam erat jemari Fatimah.
"Iya, ada apa Bu?" sahut Fatimah sambil menatap lekat ke arah sang Ibu yang semakin hari terlihat semakin pucat tak berenergi.
"Bukankah lusa kamy mau menikah dengan Satya," ujar Ibu Halimah.
"Iya, Bu," sahut Fatimah yang kini berusaha menampakkan wajah biasa saja karena bagi Fatimah pernikahan ini bukanlah pernikahan yang dia impikan, demi baktinya pada sang Ibu, Fatimah rela menikah dengan laki-laki yang bahkan tak dia kenal sebelumnya.
"Apa kamu tidak berpamitan dengan para pengasuh dan teman-teman kamu di pesantren?" tanya Ibu.
Mendengar pertanyaan Ibu membuatku mengingat kembali rumah kedua yang selalu di rindukan tapi juga terkadang ingin di tinggalkan. Pesantren adalah rumah kedua bagi kami para santri, di sana kami menghabiskan lebih banyak waktu dari pada di rumah kami sendiri.
"Aku belum meminta izin dan restu Bu, apa bisa kita ke sana?" lirihku mengingat waktu pernikahan sudah di depan mata.
"Tentu saja bisa, bagaimana kalau kita ke pesantren sekarang?" tawar Ibu.
"Sekarang, Bu?" aku mencoba memastikan jika pendengaranku tidak terganggu, rasanya akan sangat sulit untuk mengatakan semuanya secepat ini, bagaimana dengan teman-teman sekamarnya nanti? apa mereka bisa menerima berita yang sangat mendadak seperti saat ini? yang aku tahu pasti mereka akan menuntut sebuah cerita dan bagaimana calon suamiku nanti?
"Kamu daftar menjadi santri di sana dengan baik-baik dan meminta izin, maka seharusnya kamu juga keluar dengan baik-baik juga, bagaimanapun dan sepdrti apapun masalahnya, kamu tidak bisa pergi dari pesantren begitu saja, bukankah kemarin kamu izin keluar dari pesantren untuk menjenguk Ibu? jadi kamu harus kembali ke sana jika ingin keluar ataupun menikah," jelas Ibu Halimah.
Apa yang di katakan Ibu Halimah memang benar, dan Fatimah yang sudah mengerti dengan maksud sang Ibu hanya menganggukkan kepala tanda jika dia suda cukup faham dengan penjelasan sang Ibu.
"Baiklah, kalau begitu Fatimah mau siap-siap dulu. Apa aku ke pesantren bersama Ibu? atau aku sendiri saja yang pergi?" melihat keadaan sang Ibu yang masih terlihat lemah, Fatima mencoba memastikan jika sang Ibu mau ikut bersamanya atau tidak.
"Tentu saja Ibu ikut, dulu kamu daftar ke sana bersama Ibu, jadi sekarang kalau mau keluar dari pesantren Ibu juga harus meminta izin untukmu," sahut Ibu Halimah.
__ADS_1
"Ibu yakin mau ikut ke peaantren? bukankah Ibu maaih lemas?" Fatimah terlihat masih ragu dengan kesanggupan sang Ibu untuk ikut bersamanya, semua keraguan itu muncul bukan tanpa alasan, Ibu Fatimah baru saja pulang dari rumah sakit dan dia belum sembuh total sedangkan perjalanan dari rumah menuju pesantren membutuhkan waktu satu jam lamanya, Fatimah khawatir jika Ibunya memaksa maka keadaannya akan lebih parah dari sekarang.
"Sudah, jangan terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak! Ibu sehat-sehat saja dan kuat ko, lebih baik kamu siap-siap saja," Ibu Halimah mencoba menunjukkan jika dirinya kuat dan Fatimah tidak perlu mengkhawatirkannya.
"Baiklah, jika Ibu memang kuat, Fatimah pergi dulu." Pamit Fatimah yang kini berjalan keluar dari kamar sang Ibu.
Perjalanan menuju pesantren cukup menguras tenaga dan waktu, Ibu Halimah memilih ubtuk tidur di perjalanan.
"Ibu, bangunlah! kita sudah sampai di pesantren," bisik Fatimah sambil mengusap lembut pundak sang Ibu.
"Hmm, kita sudah sampai ya," sahut Ibu Halimah yang langsung menoleh keluar jendela setelah mendengar bisikan sang Puteri, Ibu Halimah memang bukan tipe orang yang susah untuk di bangunkan, sangat jauh berbeda dengan Fatimah yanh justru memiliki kebiasaan yang berbeda.
Fatimah sangat sulit untuk di bangunkan, bahkan dia sering sekali kena hukum menyapu seluruh halaman di depan asramanya hanya karena telat berjamaah subuh.
Fatimah sejenak terdiam menatap sendu ke arah bangunan yang sudah enam tahun ini dia tempati, rasanya begitu berat untuk pergi dan meninggalkannya, tapi Fatimah sadar jika dia memang harus keluar dari pesantren itu karena memang sudah waktunya, meski berat tapi Fatimah harus tetap kuat.
'Seandainya waktu bisa di putar,' batin Fatimah yang kini berjalan pelan di sisi sang Ibu sambil terus menatap sendu ke arah setiap bangunan yang biasa dia tempati, hingga Fatimah sampai di rumah pemilik pesantren, rumah orang tua dari Zia, gadis cantik cerewet yang suka sekali menempel padanya, meski umurnya sudah belasan tahu yapi sifatnya masih seperti anak kecil.
"Assalamualaikum," ucap Ibu mencoba mencari tahu apa di dalam rumah masih ada orang atau tidak.
"Eh, Mbak Fatimah," bukannya membalas salam dari Ibu Halimah, Zia malah memanggil Fatimah sambil berlari ke arahnya.
"Kalau ada yang ngucapin salam di jawab dulu toh, Neng," tutur Fatimah yang merasa jika apa yang di lakukan Zia bukanlah hal yang benar.
"Waalaikum salam," sahut Zia yang cukup membuat Fatimah geleng-geleng kepala, gadis di hadapannya terlihat nyengir kuda saat menyadaari jika dirinya tengah melakukan kesalahan.
"Mbak Fatimah sama Ibu mau ketemu Ummah?" tanya Zia.
"Iya, kami mau bertemu dengan Ummah," jawabku.
__ADS_1
Zia masih terlihat senang dengan keadaanku, tanpa dia tahu jika aku datang untuk meminta izin keluar daei pesantren bukan untuk meminta izin kembali ke pesantren setelah izin pulang sepertiku saat ini.
"Tunggu di sini sebentar! biar Zia panggil Ummah di dalam." Pamit Zia yang langsung berjalan keluar dari ruang tamu dan masuk ke dalam rumah.