Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kedatangan Zia


__ADS_3

Fatimah dan Satya tertidur cukup lama, keduanya larut dalam mimpi masing-masing, hingga suara ketukan dari luar kamar mengusik ketenangan Satya, dia terbangun dan mendapati Fatimah yang ikut lelap bersamanya.


Satya dan Fatimah yang tidur berhadapan membuat Satya yang lebih dulu bangun bisa melihat dengan jelas setiap lekuk wajah Fatimah yang terlihat nyaris sempurna, semua memang indah bahkan dalam keadaan tidur tanpa make up seperti inipun, Fatimah tetap terlihat cantik dan mengagumkan.


'Satya, sadarlah! dia adalah gadis yang pernah mempermalukan dirimu, dia adalah gadis yang dulu pernah menolakmu, jangan sampai kau terlena lagi oleh paras cantik yang dia miliki! sadar Satya!' batin Satya mencoba mengumpulkan kesadaran nya yang saat ini sepertinya mulai menipis, wajah cantik Fatimah memang benar-benar menggoda hingga membuat Satya lupa akan dendamnya, meskipun sesaat.


"Fatimah bangun!" Satya mencoba membangunkan Fatimah yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Hey bangun!!" Sekali lagi Satya mencoba membangunkan Fatimah yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan panggilan Satya.


"Astaga, anak ini ngebo juga kalau tidur," gerutu Satya yang lebih memilih bangun lebih dulu.


Satya yang tak berhasil membangunkan Fatimah langsung berdiri melangkah menuju pintu kamarnya.


'Ceklek'


"Ada apa?" tanya Satya.


"Kami dari pihak MUA Tuan, sudah saatnya pengantin wanita di rias," jelas seorang wanita yang berdiri di depan pintu dengan satu koper yang ada di tangannya.


"Tunggu sepuluh menit lagi! kamu boleh menikmati hidangan yang di sediakan terlebih dahulu," titah Satya.


"Baik, Tuan," sahut sang MUA yang kini justru berfikiran yang bukan-bukan karena perintah yang di berikan oleh Satya.


"Loh, kenapa kamu balik lagi? bukannya ini sudah waktunya kamu ngerias pengantinnya?" tanya rekannya.


"Gue di suruh nunggu sepuluh menit lagi," jawab sang MUA.


"Hahahaha, mungkin Loe dateng pas mereka lagi nambah ronde kali," sahut rekannya.

__ADS_1


'Pletak'


Sang MUA hanya bisa menjitak kepala rekan sekaligus sahabatnya itu, untung saja di sekelilingnya saat ini masih sedikit sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, jika tidak Sang MUA pasti akan merasa tidak enak hati dengan pemilik acara.


"Fatimah, bangun!!!" Satya masih berusaha membangunkan Fatimah yang ternyata tak semudah bayangan Satya.


Satya tak berhenti berusaha, hingga pada akhirnya dia memilih untuk mengguncang tubuh Fatimah agar dia bisa bangun.


"Hey, bangun!!" suara Satya sedikit meninggi.


Fatimah yang mulai terusik kini berbalik dan posisi keduanya benar-benar dekat dengan wajah yang saling berhadapan, sejenak keduanya saling pandang hingga Satya sadar dengan apa yang terjadi, Satya langsung berdiri sambil menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal.


"Bangunlah! Orang MUA sudah datang," ujar Satya yang langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian berlalu meninggalkan kamar untuk mencari angin sejuk, berada di dekat Fatimah membuat darahnya berdesir, meski tujuannya menikahi Fatimah untuk membalaskan rasa sakit hati, tapi tetap saja Satya terkadang juga tergoda dengan pesona Fatimah yang tak bisa di tutupi.


'Aku harus lebih sering ke ruang rahasia untuk mengingat kembali apa yang sudah Fatimah lakukan dulu, agar aku tidak terjerat pesona Fatimah,' batin Satya yang merasa jika dia memang harus melakukan sesuatu untuk menghindar dari Fatimah.


Fatimah yang sebelumnya tidak pernah berdandan kini terlihat begitu cantik dengan riasan natural yang membuatnya semakin anggun.


"Mbak cantik sekali, Tuan Satya sangat beruntung mendapatkan istri seperti Nyonya Fatimah," puji sang MUA.


"Jangan terlalu memuji Mbak, karena Mbak juga cantik, apa lagi kalau sudah di dan dani sepertiku, Mbak akan terlihat jauh lebih cantik," sahut Fatimah yang memang kurang suka jika di puji seperti apa yang di lakukan oleh periasnya, sebenarnya bukan kurang suka tapi Fatimah takut sombong dan meninggikan diri sendiri karena pujian yang orang lain berikan.


"Nyonya memang rendah hati dan tidak sombong, berbeda sekali dengan kebanyakan orang kaya lainnya," cicit sang perias.


"Kekayaan itu hanya titipan Mbak, dan akan hilang jika Sabg pencipta sudah mengambilnya," Fatimah terus saja berucap mengingatkan sang perias jika semua pujian yang dia berikan bukanlah hal yang patut untuk di puji.


Sang perias hanya bisa diam setelah mendengar Jawaban yang tak terduga dari Fatimah.


"Fatimah!" suara renyah Zia terdengar mengusik Fatimah yang tengah melantunkan kalimat tasbih yang dia baca dalam hati.

__ADS_1


"Neng Zia," sahut Fatimah dengan senyuman bahagia dan kelegaan yang tak terlihat sejak Fatimah pulang, selama di rumah sampai hati ini Fatimah tersenyum hanya untuk menutupi rasa sedihnya, dia memang tersenyum tapi senyuman Fatimah sangat jauh berbeda dengan senyum yang dia tunjukkan saat ini.


"Kamu cantik sekali Fat," kali ini Zia yang memuji Fatimah, dia memang terlihat sangat cantik dan siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan hal yang sama.


"Neng Zia juga pasti akan terlihat jauh lebih cantik jika di rias sepertiku," jawaban yang hampir sama dengan jawaban yang di berikan pada sang perias.


"Kamu selalu saja seperti itu," ujar Zia yang sudah mengerti dengan sifat asli Fatimah.


"Ngomong-ngomong Neng Zia ke sini sama siapa?" tanya Fatimah yang berharap Zia datang bersama Umma dan Buya.


"Aku sendiri Fatimah, Ummah dan Buya akan datang nanti sore," jawab Zia.


"Oh, aku fikir kamu dateng bareng mereka," tutur Fatimah yang terlihat sedikit kecewa karena orang yang juga dia harapkan kedatangannya ternyata tidak datang.


"Bukankah aku sudah datang? kenapa kamu terlihat kecewa? Umma dan Buya pasti akan datang nanti," ujar Zia


"Aku senang Neng Zia datang, tapi aku akan jauh lebih senang lagi jika Umma dan Buya datang mendo'akan dan memberi do'a restu untuk pernikahan ini," Fatimah menjelaskan alasannya nyang berharap Umm dan Buya datang.


"Mereka pasti akan datang nanti, karena jika mereka tidak datang, siapa yang akan mengantarku pulang?" beo Zia.


"Apa Neng Zia akan berada di sini sampai nanti sore?" tanya Fatimah dengan ekspresi wajah penuh harap.


"Hm, tentu saja, aku akan menemanimu sampai Umma dan Buya datang," jawab Zia.


"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya, Neng Zia temani aku di sini ya," pinta Fatimah.


"Tentu saja, kamu jangan khawatir!" sanggup Zia.


Seutas senyum kembali muncul di bibir Fatimah, dia merasa sangat senang dan bahagia karena ada Zia di sampingnya, setidaknya dia tidak sendiri dan ada teman untuk berbicara karena hampir seluruh keluarganya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2