
"Bik!" Panggil mama Nia yang masih saja terlihat semangat dan tak ada gurat lelah di wajahnya, meski sudah seharian ini Mama Nia pergi ke mall dengan berjalan-jalan di sana bersama Fatimah.
"Iya, Nyonya," sahut Bik Mina yang baru selesai menyiapkan bahan untuk memasak.
"Hari ini Bibik mau masak apa?" Tanya Mama Nia sesaat setelah dia sampai di dalam dapur, sedang Fatimah masuk ke dalam rumah untuk menyimpan beberapa pakaian yang sengaja dibelikan oleh sang mama, bukan hanya pakaian bahkan perawatan di salon yang sudah dia lakukan juga dibayar oleh mama mertuanya, sungguh Fatimah merasa sangat beruntung mendapatkan mama mertua seperti mamanya Satya yang begitu perhatian dan tidak perhitungan padanya.
"Hari ini rencananya Bibik mau masak semur daging, dan gurame goreng juga sambal jeruk kesukaan nyonya," jawab Bibik.
"Khusus untuk hari ini Bibik bisa beristirahat atau menyelesaikan pekerjaan lain, karena hari ini yang akan memasak aku dan Fatimah," ujar Mama Nia.
"Nyonya serius?" sahut Bibik yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Tentu saja, kapan aku pernah berbohong padamu?" Sahut Mama Nia yang mengerti dengan keraguan yang tampak di wajah sang asisten rumah tangga.
Bibik Mina yang sudah puluhan tahun bekerja bersama mama Nia dan bahkan Bibik Nialah yang merawat Mama Nia sejak dia masih SMP, Bibik Mina sangat mengerti dengan sifat dan sikap ng majikan yang memang sangat takut untuk belajar memasak, karena drama yang pernah dialami oleh Mama Nia.
Dulu saat Mama Nia ingin belajar memasak tepatnya ketika dia masih SMA, Mama Nia belajar memasak telur, kedengarannya memang hanya telur ceplok biasa, tapi reaksi yang diberikan Mama Nia ketika mendapat semburan minyak saat telur dimasukkan ke dalam penggorengan membuat Mama Nia kapok dan takut untuk kembali ke dapur dan belajar memasak lagi.
"Kenapa Nyonya tiba-tiba mau belajar memasak lagi?" Bik Mina yang merasa heran kembali bertanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Mama Nia.
__ADS_1
"Entahlah mendengar Fatimah bisa memasak membuatku tiba-tiba ingin bisa masak juga," jujur Mama Nia.
"Nona Fatimah memang gadis yang tepat untuk keluarga ini," sahut Bik Mina yang merasa jika Fatimah benar-benar gadis istimewa.
"Bagaimana, Ma? apa sekarang Mama sudah siap untuk belajar memasak?" tanya Fatimah.
"Umur panjang, baru saja di bicarakan sudah datang," seru Bik Mina.
"Bibik dan Mama membicarakan aku?" sahut Fatimah yang langsung memilih duduk di samping sang Mama yang lebih dulu duduk di kursi meja makan.
"Iya, Bibik bilang kamu kasih yang istimewa, padahal kamu baru satu hari di sini tapi kamu sudah bisa menggerakkan hati Mama agar mama mau belajar memasak kembali," jawab mama Nia.
"Ceritanya panjang, yang perlu kamu tahu saat ini hanya satu, Mama ingin belajar masak dan kamu harus menemani mama belajar memasak." Hujan Mama Nia yang tidak ingin mengingat kembali masa lalu yang membuatnya trauma dan takut untuk belajar memasak lagi.
"Baiklah, aku akan mengajari dan menemani Mama memasak, hari ini kita akan masak apa?" sanggup Fatimah yang memang merasa nyaman berada di dekat Mama Nia, selain cantik dan awet muda mamanya juga termasuk orang yang humble dan ramah juga penuh kasih sayang, karena itulah Fatimah sudah tidak tanggung lagi berada di dekat sang Mama mertua, keduanya memasak dengan kompak meskipun lebih banyak Fatimah yang memasak sedang Mama Nia hanya merepotkan Fatimah saja tapi Fatimah tidak terlalu membebani dirinya dengan apa yang dilakukan oleh sang mama.
"Akhirnya semur daging buatan mama dan kamu selesai, dan rasanya juga enak, ternyata memasak itu tidak seseram dengan apa yang aku bayangkan,"ucap Mama Nia setelah membilas tangannya dan mengeringkan dengan lap yang ada di dekatnya.
Terlihat jelas sebuah kelegaan di wajah mama Nia, rasa bahagia juga terlihat di wajahnya, akhirnya setelah bertahun-tahun Mama Nia menghindar dari dapur dan tidak berani memasak jangankan memasak makanan, memasak air pun Mama Nia tidak berani, tapi saat ini dia terlihat begitu senang karena sudah berhasil membuat satu menu makanan bersama dengan menantu nya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau setiap hari kita belajar memasak, Ma?" tawar Fatimah yang merasa jika sang Mama pasti akan suka memasak nantinya.
"Tentu saja, siapa takut? Mulai besok yang bertugas memasak aku dan kamu Fatimah, biarkan Bibik Mina mengerjakan tugas yang lain," sahut mama Nia dengan ekspresi penuh semangat dia berucap.
Melihat keharmonisan Mama Nia dan Fatimah membuat seutas senyum muncul di bibir Bik Mina yang telah lama tidak pernah melihat kehangatan di dalam dapur rumah ini, biasanya Mama Nia hanya sibuk dengan ponsel pintar yang ada di tangannya dan mengurung diri di kamar jika sang suami pergi, tapi kali ini pemandangan berbeda terlihat, Mama Nia begitu bahagia karena telah berhasil memasak satu menu makanan, meskipun memasaknya dibantu oleh Fatimah tapi mama Nia tetap merasa puas dengan apa yang diperolehnya saat ini.
"Tumben sekali pada kumpul di ruang makan?" suara Satria yang baru datang mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruang makan terutama mama Nia yang kini tengah berbahagia karena sudah berhasil memasak satu menu makanan.
"Kamu tahu tidak? Mama berhasil memasak satu menu makanan untuk makan malam kita nanti," girang Mama Nia yang cukup membuat Satria terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Apa? Mama masak, sejak kapan?" spontan Satria sesaat setelah dia mendengar penuturan Mama Nia.
"Iya, kenapa? kamu tidak percaya?" sahut Mama Nia yang sudah mengerti jika reaksi yang diberikan oleh Satria akan seperti itu.
"Apa hari ini hari istimewa? atau hari ini ada yang berulang tahun?" Satria kembali bertanya karena masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan apa yang dia lihat saat ini.
"Tidak ada, Mama hanya ingin bisa memasak saja," jawab Mama Nia.
Jika Mama Nia dan Satria sibuk tanya jawab, maka perbedaannya dengan Fatimah dan Bik Mina yang kini hanya menjadi penonton, menatap kedua orang yang tengah mengobrol, lebih tepatnya sedang melakukan tanya jawab yang tiada henti.
__ADS_1
"Wah ini suatu keajaiban," seru Satria saat menyadari jika sang Mama sedikit berubah dari kemarin.