
"Ini kopinya, Mas," ujar Fatimah sambil menaruh secangkir kopi yang tadi dia buat tepat di atas meja di mana Satya duduk.
"Mau ke mana kamu?" pertanyaan yang muncul dari bibir Satya mampu mencegah Fatimah yang hendak pergi meninggalkan Satya sendiri di kamar.
"Aku mau ke dapur membantu ibu. "Jawab Fatimah yang kini berhenti melangkah dan menoleh ke arah Satya.
Satya yang tadinya berniat menghentikan langkah Fatimah dan memintanya menemani dirinya kini berubah pikiran, dia tidak ingin mengganggu Fatimah ataupun menghalangi niat Fatimah untuk membantu sang ibu.
"Masakan aku opor ayam!" pinta Satya.
"Kamu bisa kan masak opor ayam?" Sambung Satya saat melihat Fatimah hanya diam tak menjawab permintaannya.
"Tentu saja, aku akan memaksakan opor ayam untukmu jika bahan-bahannya ada di dapur," sanggup Fatimah yang memang pintar memasak, selama di pesantren Fatimah sering sekali membantu ummah memasak di dapur tak jarang Fatimah juga membantu tukang masak yang ada di pesantren, karena itulah Fatimah menjadi pribadi yang pintar memasak.
"Bagus, masakan aku opor ayam yang enak," ujar Satya.
Fatimah tak lagi menggubris ucapan Satya, dia memilih melangkah pergi meninggalkan Satya sendiri di kamar.
"Tumben sekali dia minta ditemani, biasanya juga diacuk dengan keberadaanku," gumam Fatimah yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.
"Ibu!" Panggil Fatimah sesaat setelah dia sampai di dapur.
"Ada apa kau maaf Fatimah?" sahut ibu Halimah yang langsung menghentikan pekerjaannya ketika mendengar panggilan dari Fatimah.
__ADS_1
"Apa di dapur masih ada bahan untuk memasak opor ayam?" tanya Fatimah.
"Sebentar, biar ibu periksa dulu." jawab ibu Halimah yang langsung mencari bahan-bahan masakan yang diinginkan oleh Fatimah.
"Masih ada, apa kamu mau memasak opor ayam?" tanya ibu seraya membawa bahan-bahan yang akan dimasak.
"Iya, aku akan masak opor ayam ke rumah ibu," jawab Fatimah.
"Sejak kapan kamu suka opor ayam?" Tanya ibu Halimah.
Ibu Halimah merasa heran dengan apa yang akan dilakukan oleh Fatimah, karena selama ini yang dia tahu Fatimah kurang menyukai opor ayam ataupun masakan yang berbau ayam, Fatimah memang tidak menolak makan masakan ayam, tapi dia tidak bisa makan ayam terlalu banyak ataupun terlalu sering.
"Mas Satya yang meminta di masakan ayam, Ibu," jelas Fatimah.
"Kenapa Ibu tersenyum seperti itu?" Tanya Fatimah saat melihat sang Ibu bersikap sedikit aneh menurutnya.
"Ibu hanya merasa senang jika Satya meminta kamu memaksakan sesuatu, itu artinya hubungan kalian semakin dekat dan ibu harap hubungan kalian akan lebih dekat lagi," Ibu Halimah menjelaskan alasan dirinya tersenyum.
'Ibu tidak tahu saja bagaimana sikap Mas Satya kepadaku, dia selalu bersikap manis jika ada di hadapanmu dan di hadapan Mama juga orang lain, tapi sikap Mas Satya akan berubah dingin seperti salju ketika kita hanya berdua saja,' sekali lagi Fatimah hanya mampu membatin tanpa bisa mengatakannya langsung kepada sang ibu, dia tidak ingin membuat ibunya sedih atau pun justru kepikiran dengan apa yang dia alami, karena Fatimah tahu dengan pasti jika sang Ibu masih belum sembuh, dia hanya berpura-pura sehat dan kuat saat berada di hadapan Fatimah.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Katanya kamu mau masak opor ayam, bagaimana opor ayam itu bisa matang jika kamu hanya diam seperti itu, Sayang," tegur Ibu Halimah yang melihat Fatimah justru dia mematung di tempatnya, bukannya memasak opor ayam yang kini bahan-bahannya sudah ada di hadapannya.
Fatimah tak menyahuti ucapan sang Ibu karena dia memang tidak punya kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini, jadi dia hanya tersenyum menanggapinya lalu melanjutkan pekerjaannya memasak opor ayam untuk Satya yang pasti sedang menunggunya di kamar.
__ADS_1
Memasak opor ayam bukanlah hal yang mudah ada banyak hal yang harus dikerjakan oleh Fatimah karena itulah dia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menyelesaikan masakannya.
"Bu, coba rasakan masakanku apa masih ada yang kurang atau sudah pas?" tanya Fatimah pada sang ibu dengan membawa sesendok masakannya sebagai tester untuk sang ibu.
Ibu Halimah yang sejak tadi duduk diam di meja makan sambil memperhatikan gerak-gerik sang putri yang terlihat begitu lincah memasak, Ibu Halimah sangat senang melihatnya meski Fatimah tidak tumbuh di rumah dan tidak mendapatkan pelajaran apapun tentang memasak darinya tapi Fatimah bisa menyelesaikan masakannya dengan sangat sempurna, jadi kabar burung yang pernah dengar oleh ibu Halimah tentang para santriwati yang tidak bisa memasak adalah berita bohong, karena sangat jauh berbeda dengan apa yang dia lihat saat ini, Fatimah begitu mahir memasak dan begitu memahami fungsi dari alat-alat masak yang ada di hadapannya.
"Enak, "ujar Ibu Halimah ketika dia merasakan masakan sang Putri yang ternyata begitu lezat.
"Kamu belajar masak dari mana?" Ibu Halimah mencoba mencari tahu dari mana Fatimah belajar memasak hingga dia sepintar ini.
"Aku sering membantu ummah ataupun petugas masak di kantin pesantren bu, setiap kali aku punya waktu luang atau setiap kali libur sekolah aku pasti membantu mereka, dan aku mendapatkan banyak ilmu yang tidak bisa didapatkan di sekolah," jelas Fatimah.
"Ibu bangga padamu, Nak, Ibu sangat beruntung memiliki Putri seperti dirimu," puji Ibu Halimah yang merasa begitu bangga dan bahagia karena mendapat anak seperti Fatimah.
"Justru aku yang merasa bangga dan bahagia karena memiliki Ibu sekuat dirimu dan setegar ibu," sahut Fatimah yang memang merasa bahagia karena telah memiliki Ibu seperti Ibu Halimah yang membantunya mendapatkan jati diri dan membantunya menemukan jalan yang benar dengan memasukkannya ke dalam pesantren.
'Drama,' batin bibi Husna saat melihat kedua wanita yang sangat dia benci tengah berpelukan di dapur dia yang baru saja keluar dari kamar merasa muak dengan apa yang dia lihat, kedua wanita yang begitu naif dan sok baik.
"Bibik," sapa Fatimah ketika melihat sang Bibik baru datang.
"Iya, Fatimah," sahut Bik Husna yang tadi terlihat jijik kini memasang wajah ramah penuh kasih sayang dan cinta.
"Bik, coba icipi masakan Fatimah! enak atau tidak," pinta Fatimah yang kini kembali menyendokkan opor ayam yang baru saja dia masak.
__ADS_1
Bibik Husna tersenyum menanggapi permintaan Fatimah, dia juga mengatakan jika masakan Fatimah enak, meski di dalam hatinya berkata lain tapi Bibik Husna tetap tersenyum untuk menutupi kebusukannya.