
"Tidak ada Ma," jawab Fatimah yang memang merasa jika tidak ada kata-kata ataupun sikap sang Mama mertua yang menyakiti hatinya.
"Terus, kenapa kamu diam?" Mama Nia mencoba menyelidiki alasan Fatimah yang tiba-tiba diam tanpa kata.
"Apa Papa bisa menerimaku seperti Mama menerimaku?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya wajar di tanyakan oleh Fatimah yang memang belum pernah mengenal satu sama lain, walaupun keduanya sudah pernah bertemu, tapi tetap saja ada rasa takut yang pasti menguasai hati Fatimah saat ini.
Mama Nia yang mengerti dengan perasaan Fatimah saat ini sengaja mendekat dan duduk tepat di samping Fatimah kemudian mengusap rambut kepala Fatimah sambil mengatakan kata-kata yang mungkin bisa membuat Fatimah tenang.
"Kamu tenang saja! Papanya Satya memang memiliki sikap sedikit dingin dan hemat berbicara, dia hampir mirip dengan Satya tapi percayalah jika sikap seperti itu hanya bersifat sementara, setelah kamu mengenal lebih jauh bagaimana papanya Satya yang sebenarnya maka kamu akan tahu jika sebenarnya dibalik sifat dingin yang kadang ditunjukkan olehnya ada sebuah kelembutan dan kehangatan yang hanya ditunjukkan kepada keluarganya," tutur Mama Nia, dia yang begitu mengerti dan memahami bagaimana sifat papanya Satya perusahaan menjelaskan semuanya kepada Fatimah sebelum dia bertemu dengan sang Papa.
"Terima kasih Ma, terima kasih karena mama sudah mau menerimaku dengan baik dan mengajariku juga menenangkan aku ketika aku tidak mengerti apapun dan merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi besok," ucap Fatimah merasa bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berfikir! lebih baik sekarang kamu temani Satya!" titah Mama Nia yang berfikir jika saat ini Satya pasti sudah menunggu kedatangan Fatimah yang seharusnya sejak tadi sudah sampai di kamar.
__ADS_1
"Kalau begitu Fatimah pamit ke kamar dulu ya, Ma." Pamit Fatimah setelah merasa selesai dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Hm, pergilah!" sahut Mama dengan senyum yang merekah di wajahnya, senyum yang mampu membuat Fatimah merasa tenang juga senang dalam waktu bersamaan ketika melihat senyuman sang Mama mertua.
Fatimah langsung melangkah menuju kamarnya setelah mendapat persetujuan dari sang Mama.
"Kamu dari mana saja?" suara Satya terdengar saat melihat Fatimah yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Aku baru saja bertemu dan mengobrol bersama Mama di ruang keluarga, kenapa Mas?" jawab Fatimah jujur, dia tidak ingin Satya berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan apa yang baru saja dia lakukan.
"Fatimah, cepat!" sekali lagi suara Satya mengejutkan Fatimah yang sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Eh, iya," sahut Fatimah yang langsung berhambur ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Satya, sedang Satya yang melihat sikap Fatimah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
'Dasar tukang ngelamun,' batin Satya yang selama ini memperhatikan apa yang di lakukan oleh Fatimah.
Cukup lama Fatimah berada di kamar mandi, hingga semua urusannya di kamar mandi telah selesai, dan Fatimah menyadari satu hal yang seharusnya tidak boleh dia lakukan.
"Astaga, aku lupa tidak bawa handuk ataupun baju ganti," gumam Fatimah saat dia sadar dengan kesalahan fatal yang tidak seharusnya dia lakukan.
Fatimah yang baru saja menerima dari kesalahan yaitu kini berjalan mondar-mundur di depan pintu kamar mandi. Badannya memang mulai menggigil karena kedinginan tapi nyalinya begitu, Fatimah merasa begitu khawatir jika dia tiba-tiba keluar dari kamar mandi menggunakan handuk milik Satya, handuk yang berukuran cukup kecil di badannya, handuk yang hanya menutupi tubuhnya dari dada hingga p**a, selain itu Fatimah juga khawatir jika Satya akan marah saat melihat handuknya dipakai oleh Fatimah.
Cukup lama Fatimah mondar-mandir di depan pintu hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengumpulkan segala keberanian yang ada dalam dirinya, agar dia bisa segera keluar dari kamar mandi yang terasa semakin dingin.
"Aku harus tetap keluar," seru Fatimah saat tubuhnya terasa semakin membeku karena kedinginan.
"Mas Satya," panggil Fatimah lirih mencoba memberanikan diri untuk meminta tolong padanya.
__ADS_1
Cukup lama Fatimah menunggu sahutan dari luar kamar, tapi semua tetap hening seperti tidak berpenghuni.
"Mas Satya!" sekali lagi Fatimah mencoba memanggil seseorang yang ada di luar kamar, tapi tetap saja tak ada sahutan, dengan langkah pasti dan penuh hati-hati Fatimah melangkah keluar sambil mengendap-endap mencoba menyembunyikan diri agar tak ada yang bisa melihatnya.