
"Maafkan aku Mas, seharusnya aku tidak berkata seperti tadi, maaf jika memang perkataanku menyakitimu," sahut Fatimah yang kini merasa takut jika apa yang telah dia katakan bisa menyakiti hati Satya.
"Aku yang harusnya minta maaf, Fatimah, tidak seharusnya aku mengatakan hal yang seperti itu, tidak seharusnya aku meragukan kesetiaanmu dan juga tidak seharusnya aku mencurigaimu," ujar Satya.
"Aku juga minta maaf kalau aku wanita lebih dulu padamu, aku langsung datang ke sini tanpa persetujuan dan aku juga bertemu dengan Faris tanpa kau tahu," Fatimah yang mengerti jika dia juga melakukan kesalahan memilih untuk mengatakan semua kesalahannya dari pada dia harus terus diam dan membiarkan Satya berpikir jika dia memang melakukan sesuatu yang tidak baik di belakangnya.
"Sudahlah! Apa yang kamu lakukan memang wajar dilakukan, dan bahkan mungkin aku juga akan melakukannya jika aku berada di posisimu tadi, aku tahu jika kamu pasti tidak pernah memiliki niat atau bahkan berpikir untuk bertemu dengan Faris di sini, karena itulah aku memaafkanmu dan aku juga meminta maaf karena sudah menuduhmu,"Satya memang dingin dan jarang sekali terdengar meminta maaf kepada seseorang, tapi dia adalah orang yang bertanggung jawab dan yang pasti, dia tidak akan pernah menduakan Fatimah, karena kenangan masa lalu yang membuat Satya mengerti jika rasa sakit karena di khianati tidak akan pernah bisa menghilang juga tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Keduanya kembali berpelukan mencoba memberi kekuatan satu sama lain dan mencoba mengekspresikan rasa sayang dan cinta yang kini dirasakan oleh keduanya.
"Bagaimana dengan keadaan ibu?"setelah semua masalah dan kesalahpahaman yang dirasakan oleh Satya, terjawab kini giliran Satya menanyakan keadaan sang ibu.
"Aku tidak tahu, Ibu masih pingsan dan belum sadar sampai saat ini, sejak aku datang tadi keadaan ibu sudah seperti ini dan aku tidak tahu kenapa beliau bisa jadi seperti ini? padahal beberapa hari yang lalu dia sehat-sehat saja saat aku menjenguknya di rumah," ujar Fatimah yang memang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada saat ibu.
"Bersabarlah! Semua akan baik-baik saja dan ibu akan segera," sahut Satya mencoba membesarkan hati Fatimah dan memperluas rasa sabar yang harus dimiliki oleh istrinya itu karena saat ini Satya tahu jika istrinya itu telah diuji.
"Terima kasih sudah ada di sini untukku," ujar Fatimah merasa bersyukur memiliki suami seperti Satya yang mau mengerti dengan apa yang terjadi.
"Sudah, jangan berterima kasih karena apa yang aku lakukan sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang suami," sahut Satya.
"Lebih baik kita masuk dan lihat keadaan ibu," sambung Satya seraya membuka pintu dengan tangan kanan sedang tangan kirinya menggenggam erat jemari Fatimah soalnya tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Fatimah hanya tersenyum penuh rasa haru sambil berjalan mengikuti langkah Satya yang kini berjalan masuk ke dalam ruangan irisan ibu, cukup lama Satya dan Fatimah duduk di samping sang ibu yang telah terbaring sambil memejamkan mata, hingga gerakan tangan yang tiba-tiba terlihat oleh Satya.
"Fatimah, Ibu menggerakkan tangannya," ujar Satya yang cukup membuat Fatimah terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
"Ibu, apa sekarang Ibu sudah bangun?" Fatimah yang merasa tidak sabar ingin segera berbicara dengan sang Ibu langsung memberondonginya dengan sebuah pertanyaan.
Perlahan tapi pasti ibu Halimah mulai membuka mata, dan hal itu membuat Fatimah merasa begitu bahagia karena akhirnya penantian yang dia lakukan sejak tadi membuahkan hasil.
"Mas, Ibu bangun," suruh Fatimah dengan senyum yang merekah di bibirnya menoleh ke arah Satya yang kini masih setia berdiri di sampingnya.
Melihat sang ibu yang mulai sadar membuat Fatimah ingat akan sesuatu yang telah dipesankan oleh Faris, dengan langkah cepat Fatimah keluar dari kamar dan memanggil Faris yang sebenarnya bisa dipanggil dengan alat pemanggil yang ada di samping Ibu Halimah, tapi Fatimah yang terlalu senang lupakan hal itu, jadi dia langsung berlari keluar dari ruang rawat inap sang Ibu menuju ruangan Paris yang memang berada tidak jauh dari tempat itu.
"Dokter Faris! Dokter Faris!" Fatimah mencoba memanggil Faris yang dia yakini sedang berada di dalam ruangannya dengan suara sedikit meninggi dan nafas yang tersengal-sengal karena dia berlari Fatimah terus saja mengetuk pintu ruangan Faris tanpa henti.
'Ceklek,'
Pintu kamar perlahan terbuka dan tampaklah Faris berdiri tegak di depan pintu sambil menatap heran ke arah Fatimah yang kini terlihat lelah dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang gawat?" Tanya dokter Faris sambil melihat Fatimah yang kini masih saja berdiri di hadapannya.
"Ibu, ibuku sudah sadar dokter," jawab Fatimah dengan senyum mungkin mereka di bibirnya mesti nafasnya masih saja tersengal-sengal.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu dahulu!" Ujar dokter Faris yang langsung berjalan masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Fatimah yang masih terlihat sedang mengatur nafasnya.
"Lah kenapa dokter Faris malah masuk ke dalam ruangannya?" celetuk Fatimah yang merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Faris.
"Minumlah!" Dokter Faris kembali lagi dengan beberapa alat di tangannya dan satu botol air mineral yang disodorkan kepada Fatimah.
"Terima kasih, Mas Faris memang selalu tahu apa yang aku butuhkan," pujian Fatimah yang tanpa sengaja keluar dari bibirnya tanpa bisa dihentikan, dan pujian yang baru saja dia katakan sukses membuat senyum Faris semakin merekah.
"Ujianmu sudah tidak berguna lagi bagiku Fatimah, percuma memujiku tapi kau tetap memilih orang lain," sahut Faris yang cukup membuat Fatimah mengerti dengan kesalahan yang pernah dia buat, sebuah harapan yang tertulis di atas kertas dengan pena hitam tak lagi memiliki arti ketika Fatimah memutuskan untuk mengikuti keinginan sang ibu yang menjodohkannya dengan Satya, dan karena itulah Faris merasa jika yang baru saja diberikan oleh Fatimah tidak memiliki arti apapun baginya, karena saat ini Fatimah sudah menjadi milik orang lain.
"Maafkan aku Mas Faris," lirih Fatimah yang masih bisa didengar oleh Faris yang menghentikan langkahnya saat mendengar kata maaf terucap dari bibir Fatimah.
Faris tersenyum manis ke arah Fatimah mencoba memberitahukan jika dia baik-baik saja dan dia juga tidak memiliki rasa benci atas apa yang telah terjadi dengan hubungan keduanya dan takdir yang telah terjadi.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan apa yang baru saja aku ucapkan! Lagi pula semua yang terjadi merupakan takdir yang tidak akan mungkin bisa kita ubah karena takdir itu telah tertulis sebelum kita dilahirkan, jadi jangan terlalu mengingat apa yang baru saja aku katakan! Lebih baik sekarang kamu fokus pada kesehatan ibumu," ujar Faris dengan senyum yang terlihat begitu manis menenangkan hati siapapun yang memandangnya.
Mendengar setiap kata yang terucap dari bibir manis Faris membuat senyum Fatimah kembali muncul setelah dia merasa bersalah atas apa yang baru saja dikatakan oleh Faris.
"Ibuku sudah siuman Mas Faris, apa dengan begitu ibuku sudah baik-baik saja?" Fatimah yang kini ini langsung memikirkan keadaan sang Ibu tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya bagaimana keadaan sang ibu yang sebenarnya.
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, karena aku belum melihat keadaan ibumu, jadi lebih baik sekarang kita cepat-cepat ke sana untuk memeriksanya," jawab Faris yang gini berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya menuju ke ruangan Ibu Halimah dirawat.
__ADS_1