
"kenapa reaksi Mas Satya biasa saja? Apa barang seperti ini sebenarnya terlihat biasa saja hanya saja aku yang terlalu heboh saat melihatnya," tanya Fatimah saat Satya melihat barang yang diberikan Satria dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Dia memang sengklek dan tak ada satupun yang bisa merubah kesengklek'an yang Kakakku miliki," jawab Satya dengan jawaban biasa saja.
Melihat reaksi yang diberikan Satya justru semakin membuat Fatimah terkejut, barang yang sebenarnya hanya dimiliki oleh seorang wanita dan biasanya seorang laki-laki baik juga alim akan merasa risih atau justru melihat lingeri yang diabaikan dengan tatapan yang luar biasa.
"Kalau kamu memang menyukai baju itu, pakai saja! Aku tidak melarang kamu untuk memakainya," ujar Satya dengan ekspresi wajah yang masih sama tetap biasa saja.
"Benarkah? Aku akan sangat suka memakai baju ini karena bisa dipastikan aku tidak akan pernah merasa gerah, karena baju ini terlihat begitu tipis dan juga kekurangan bahan, aku yakin jika aku memakai baju ini di luar rumah atau di luar kamar pasti akan ada banyak pasang mata yang tertuju padaku," ujar Fatimah dengan senyum yang kini terlihat menyeramkan.
"Coba saja! Kamu boleh memakainya hanya di kamar ini saja, jika kamu memakainya di luar kamar ini maka bisa dipastikan keesokan harinya kamu tidak akan pernah bisa berdiri atau bahkan duduk karena aku akan membuatmu terkapar tak berdaya di atas ran**ng," ujar Satya dengan tegas dan tak terbantahkan dia berucap.
Fatimah yang sangat awam dalam urusan ran**ng hanya mengerutkan dahi bingung mendengar ancaman Satya yang benar-benar tidak bisa dia mengerti, Fatimah benar-benar tidak tahu entar kapan seperti apa yang dimaksud oleh Satya, karena selama ini Fatimah hanya tahu jika berperang di atas ran**Ng menghasilkan sebuah kenikmatan bukan penyiksaan atau rasa sakit yang bisa membuat seseorang terkapar, karena itulah Fatimah bingung dengan ancaman yang diberikan oleh Satya saat ini, tapi Satya yang malas untuk meneruskan perdebatan dengan Fatimah memilih untuk membersihkan diri ke dalam kamar mandi meninggalkan Fatimah yang masih saja duduk di atas kasur dengan baju kekurangan bahan yang ada di pangkuannya.
"Sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal yang tidak penting, lagi pula aku tidak akan pernah memakai baju ini sekalipun nanti jika bajuku di sini telah habis," gumam Fatimah yang merasa jika dia hanya bingung dengan sendirinya, padahal saat dia bersikap biasa saja dan sama sekali tidak terpengaruh dengan lingerie yang diberikan oleh Satria.
Fatimah memilih menyimpan lingerie yang di berikan oleh Satria, kemudian kembali ke atas kasur setelah memasukkan lingerie ke dalam koper, sebenarnya sejak tadi Fatimah berniat untuk mengambilkan baju ganti untuk Satya, tapi niatnya urung saat dia baru saja sadar jika saat ini dia sedang berada di rumah Mama Satya, bukan rumahnya sendiri, karena itulah Fatimah lebih memilih untuk duduk di kasur sambil melihat ke arah ponsel yang dia bawa, memeriksa beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
"Pesan dari Neng Zia," gumam Fatimah saat melihat pesan masuk yang ada di ponselnya.
Tanpa berfikir kedua kali, Fatimah langsung membuka pesan yang ada di sana kemudian membacanya dengan seksama.
"Assalamualaikum Fatimah, apa benar ini nomor mbak Fatimah?" tanya Zia yang tertuai di dalam pesan singkat yang ada di ponsel miliknya.
"Iya, ini nomer aku, Neng," jawab Fatah dengan senyum yang tersungging di wajahnya, Fatimah merasa sangat senang karena sudah bisa berkomunikasi kembali dengan Zia sahabatnya, setelah beberapa hari nomernya menghilang karena Fatimah baru saja ganti kartu, sekarang Fatimah merasa lega karena bisa menghubungi sahabatnya lagi.
"Fatimah, kakakku memberi tahu jika apartemen miliknya dekat dengan apartemen yang sekarang kamu tempati, apa benar?" tanya Zia yang masih saja mengobrol lewat pesan whatss app.
"Kenapa tidak tinggal di rumah saja? bukankah apartemen itu kecil?" tanya Zia yang memang belum pernah masuk ke apartemen meski sang Kakak sudah lama punya apartemen, Zia selalu beralasan jika apartemen itu sempit dan tidak punya banyak ruang untuk di tempati, sedang Zia yang terbiasa berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain di dalam lingkungan pondok Putri merasa kurang suka tinggal di apartemen.
"Tidak juga, Neng, menurutku cukuplah jika di tinggali diua orang, apa lagi pengantin bar UU seperti aku," Fatimah terus menjawab pertanyaan Zia yang menurutnya lucu dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
"Khem,"
Suara deheman Satya cukup mengalihkan pandangan Fatimah yang sejak tadi menatap ke arah ponsel yang menyala di tangannya.
__ADS_1
"Mas Satya, ada apa?" sahut Fatimah yang langsung melempar ponsel yang tadi dia bawa ke sembarang tempat, apa yang di lakukan oleh Fatimah seperti seseorang yang sedang ketakutan karena ketahuan selingkuh, dan karena itulah Satya memicingkan mata menatap curiga ke arah Fatimah, tapi Satya masih menahannya, bagi Satya percuma jika dia bertanya, lebih baik dia langsung mengeceknya sendiri.
"Kenapa kamu tidak menyiapkan baju ganti untukku?" tanya Satya.
Sikap Satya membuat Fatimah lega, sejak mendengar deheman Satya, Fatimah khawatir jika Satya marah atau banyak bertanya saat Fatimah sibuk menatap ponselnya dengan senyum yang tidak jelas.
"Aku tidak tahu di mana letak baju gantimu, Mas, bajuku saja masih tergeletak di sana," jawab Fatimah sambil menunjuk ke arah pojok ruangan di mana baju milik Fatimah berada, tadi Fatimah memang mbawa koper, meskipun isinya hanya dia setel baju ganti dan satu setel baju tidur, Fatimah tetap membawanya dengan koper, karena jika dia membawa baju-baju itu dengan tas, maka bisa di pastikan tidak akan rapi, yang ada akan kusut, karena itulah Fatimah mm emilih membawa bajunya dengan koper, biar aman batinnya.
"Baiklah, ikut aku! biar aku tunjukkan di mana letak bajunya." Tutur Satya yang kini hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya, sejak tadi Fatimah hanya menunduk dan baru sadar dengan apa yang ada di depan matanya.
'Astaga, mata suciku sudah tercemar,' batin Fatimah saat melihat pemandangan langkah yang bisa dia lihat secara real, sungguh jantung Fatimah berdetak lebih kencang dari biasanya saat melihat punggung mulus milik Satya yang terlihat tanpa cacat terpampang jelas di depan mata.
'Seprrtinya badan Mas Satya terlihat kekar dan berisi,' batin Fatimah yang justru melebar ke mana-mana.
'Dug'
Fatimah yang baru saja sadar jika batinnya sudah berfikiran aneh langsung menunduktanpa melihat ke depan, dan akhirnya dia menubruk punggung Satya yang tiba-tiba berhenti.
__ADS_1