
"Ayo silahkan di makan!" ujar Ummah.
"Buya ke mana, Ummah?" tanya Fatimah saat tak melihat sosok laki-laki paruh baya yang menjadi idolanya dulu.
Fatimah begitu mendambakan seorang suami seperti Buya, perhatian, sabar, penuh lemah lembut dan yang terpenting laki-laki itu paham benar dengan agama dan tugas-tugasnya sebagai seorang suami.
"Buya sedang memeriksa perkebunan yang ada di luar kota," jawab Ummah.
"Oh," sahut Fatimah yang mengerti jika tugas Buya memang banyak hingga membuatnya sibuk dan jarang sekali berada di rumah.
"Mas Satya mau makan apa?" tawar Fatimah yang kini sudah mulai terbiasa melayani Satya di meja makan.
"Ambilkan apapun yang menurutmu enak," jawaban yang sedikit berbeda dari biasanya.
Biasanya Satya hanya akan mengatakan terserah saat Fatimah bertanya.
Mendengar jawaban Satya, Fatimah langsung mengambilkan menu yang mungkin di sukai oleh Satya.
"Ini makananya, Mas." ujar Fatimah seraya meletakkan satu porsi makanan ke arah Satya.
Satya menerima makanan yang diberikan oleh Fatimah, kemudian memakannya dengan lahap.
Ruang makan seketika menjadi hening saat semua orang yang ada di sana tengah menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Ummah dan santri kepercayaannya.
"Setelah ini Mbak Fatimah mau ke mana?" Tanya Zia sesaat setelah dia menghapuskan makanan yang ada di hadapannya.
Fatimah yang memang berencana memberikan makanan untuk teman-temannya di kamar dengan jawaban yang akan diberikan.
__ADS_1
"Kita akan membelikan makanan untuk teman-teman Fatimah di kamar." Satya yang mengerti dengan kebingungan Fatimah memilih untuk menjawab pertanyaan Zia.
"Mbak Fatimah mau membelikan makanan di mana?" tanya dia yang memang masih merindukan sisa Fatimah yang dulu pernah menjadi sahabat sekaligus kakaknya.
"Sebenarnya tadi aku mau belikan bakso yang ada di persimpangan jalan sebelum masuk ke arah pesantren." Jawab Fatimah dengan ekspresi tak enak hati karena jawaban Satya dan dirinya pasti akan membuat Ummah merasa tak enak hati karena dia yang tadi mencegah langkah Fatimah dan mengajaknya makan siang bersama.
"Tapi aku akan pergi nanti saja, karena saat ini aku masih ingat mengobrol banyak dengan Ummah dan Neng Zia," sambung Fatimah yang memang masih merasa rindu dengan sejuta nasehat yang biasa diberikan oleh rumah juga sikap manja yang selalu dilakukan oleh Zia.
"Jika kamu memang mau membeli makanan lebih dulu, kamu bisa pergi Fatimah." Sela yang tahu dengan pasti jika dialah penyebab Fatimah menghentikan langkahnya yang hendak memberikan makanan untuk teman-temannya di kamar.
"Tidak Ummah, Fatimah masih ingin di sini dan mengobrol dengan Ummah juga Neng Zia," sahut Fatimah yang tak ingin cepat pergi dari tempat yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman dan aman untuknya berlindung.
"Aku pergi dulu. Masih ada beberapa hal yang harus aku urus, aku akan menjemputmu nanti jika kamu ingin pulang," ujar Satya yang memang memiliki janji dengan anak buahnya sebelumnya, dia memilih pergi meninggalkan Fatimah dari pada terus berada di sana dan menemani Fatimah yang tengah mengobrol dengan orang-orang yang belum dia kenal sebelumnya.
"Mas Satya mau ke mana?" tanya Fatimah.
"Ummah, Neng Zia dan Mas Fariz, aku permisi dulu." Pamit Fatimah seraya menarik lengan Satya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Mbak, nanti aku tunggu di ruang keluarga ya," pesan Zia sebelum Fatimah melangkah lebih jauh.
"Aku pasti nyusul ke sana neng," sahut Fatimah.
Ummah dan Fariz hanya menggelengkan kepala melihat sikap Fatimah dan Zia tanpa berkomentar apa-apa.
"Mas tolong masukkan nomor telfon Mas ke ponsel ini! biar nanti aku bisa menghubungi Mas Satya jika ingin pulang, atau sebaliknya, Mas Satya bisa menghubungiku jika urusan Mm as Satya selesai," tutur Mas Satya seraya memberikan ponsel yang sengaja dia bawa.
Bukannya langsung meraih ponsel yang ada di tangan Fatimah, Satya malah diam mematung menatap Fatimah dengan ekspresi wajah bingung.
__ADS_1
"Mas Satya!" tegur Fatimah saat dia melihat saat dia tak segera mengambil ponsel yang di sodorkan tidak segera diambil, dia justru melamun sambil menatap lekat ke arahnya.
"Sejak kapan kamu punya ponsel?" tanya Satya, dia bahkan baru sadar jika Fatimah tidak pernah memainkan ponsel atau bahkan memegangnya, tapi saat ini Fatimah menyodorkan ponsel yang entah dari mana dia dapatkan ke arah Satya.
"Apa aku belum pernah menceritakan ponsel ini pada mas Satya?" bukannya langsung menjawab pertanyaan Satya, Fatimah justru kembali bertanya pada saat dia yang kini mengerutkan dahi bingung dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Fatimah harusnya dia langsung menjelaskan bukan malah balik bertanya pada Satya.
"jawab pertanyaanku, Fatimah!" tegas Satya yang ingin mendengar penjelasan Fatimah bukan malah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Fatimah.
Fatimah yang tak ingin bertengkar karena sedang berada di pesantren memilih untuk menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya secara perlahan mencoba memperbesar rasa sabarnya.
"Ponsel ini adalah ponselku sebelum aku menikah dengan mas Satya, sejak dulu aku punya ponsel tapi tidak pernah aku gunakan, dan saat ini aku merasa memerlukannya karena itulah aku kembali menggunakan ponsel yang sudah kusimpan ini," jelas Fatimah.
"Sejak kapan kamu menggunakan ponsel itu?" tanya Satya, dia yang tidak pernah tahu tentang ponsel yang saat ini dipegang oleh Fatimah merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa Fatimah tiba-tiba ingin menggunakan ponsel yang sudah disimpannya sejak lama.
"Aku hanya merasa butuh komunikasi denganmu dan aku juga merindukan teman-temanku, selama ini aku merasa kesepian di rumah, karena itulah aku memutuskan untuk membuka kembali ponsel yang sudah kusimpan rapat di dalam kardus dan mengecasnya semalam," Fatimah kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak ingin Satya salah paham atau berpikir yang tidak tidak tentang dirinya.
Sejenak Satya terdiam mencoba mencerna setiap penjelasan yang diberikan oleh Fatimah, dan apa yang dijelaskan oleh Fatimah masih bisa diterima oleh akal logika, karena itulah Satya memilih mempercayainya dan meraih ponsel yang sejak tadi di sodorkan padanya.
"Itu nomor ponselku, kamu bisa menelponku kapanpun kau butuh dan kamu bisa menghubungiku jika nanti kamu ingin pulang sedang aku belum kembali ke sini!" ujar Satya yang kini hendak pergi meninggalkan Fatimah yang masih saja berdiri di tempatnya.
"Mas Satya, tunggu!"cegah Fatimah saat melihat Satya melangkah meninggalkannya.
"Ada apa lagi?" sahut Satya seraya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Fatimah yang berjalan sedikit cepat mendekat ke arahnya.
"Aku belum berpamitan padamu," tutur Fatimah.
"Bukankah kamu sudah berpamitan padaku tadi?"
__ADS_1