Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Bertemu Kakak Satya


__ADS_3

Satya yang merasa jika Fatimah tudak akan memberi jawaban yang benar memilih langsung memilih tempat makan yang menurutnya cukup di sukai oleh Fatimah, Satya memilih masakan padang yang menurutnya cukup enak untuk sarapan pagi.


"Apa kamu suka masakan padang?" sekali lagi Satya mencoba memastikan jika Fatimah masuk atau paling tidak Fatimah mau makan masakan Padang yang menjadi pilihan untuk sarapan pagi ini.


"Terserah," satu kata yang sangat sukar untuk di dengar kembali terdengar di telinga Satya, dia tak mau memperpanjang masalah, karena itulah dia memilih diam dan tak membahas lagi menu makanan yang akan dia pilih.


Fatimah melangkah mengikuti langkah Satya masuk ke dalam rumah makan masakan Padang yang terpampang jelas di papan yang ada di atas bangunan ruang makan.


"Kamu mau ikan yang mana?" tanya Satya sesaat setelah mereka sampai di dalam ruang makan.


"Terserah," satu kata yang cukup membuat emosi Satya semakin membuncah, sejak tadi Fatimah hanya menjawab terserah jika Satya bertanya.


Satya yang merasa sedikit emosi membanting menu makanan yang tadi di sodorkan ke hadapan Fatimah, sedang Fatimah yang sejak tadi diam sambil menunduk langsung terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Satya, Fatimah langsung menoleh ke arah setia dan mengambil alih buku menu yang sempat dibanting oleh Satya.


"Permisi mas sama mbaknya mau pesan apa?" Tanya sang pelayan yang baru saja datang menghampiri sepasang kekasih yang tengah bertengkar.


"Aku mau pesan satu menu komplit, dengan hati sapi," jawab Satya tanpa memperdulikan Fatimah, dia langsung mengalihkan fokusnya ke arah ponsel yang ada di tangannya tanpa bertanya apa yang ingin dipesan oleh Fatimah.


"Mbaknya mau pesan apa?" kali ini giliran Fatimah yang ditanya oleh sang pelayan.

__ADS_1


Fatimah yang mengerti jika saat ini Satya sedang jengkel dan marah karena sikapnya memilih untuk menjawab pertanyaan sang pelayan dan diam tanpa protes pada Satya lagi.


"Saya mau pesan menu komplit dengan ayam," jawab Fatimah.


Fatimah yang tadi memiliki sejuta keberanian yang entah muncul dari mana kini tiba-tiba menciut dan takut untuk melawan Satya, dia memilih diam dan tidak meneruskan protes yang memang sudah direncanakan dalam otaknya sejak tadi, Fatimah memilih untuk menyingkirkan rasa sakit yang tadi dia rasakan dari pada harus melawan suami yang pada akhirnya akan menimbulkan dosa untuknya.


Suasana menjadi hening hingga makanan yang ada di atas meja tandas tak tersisa, tak ada satupun yang memulai pembicaraan ataupun berbicara Fatimah hanya diam seribu bahasa sambil menghabiskan makanannya sedang Satya menghabiskan makanannya sembari sesekali memeriksa ponsel yang ada di tangannya.


Satya tidak berkata apapun dia langsung berdiri saat melihat makanan yang ada di harapan Fatimah telah habis tak tersisa, Satya membayar semua makanannya kemudian kembali masuk ke dalam mobil dengan Fatimah yang terus mengikutinya dari belakang tanpa diperintahkan oleh Satya.


Ternyata Satya tidak memiliki kesabaran sebesar yang dibayangkan oleh Fatimah, dan Fatimah yang sejak tadi merasa sakit hati akan sikap Satya kini sadar jika apa yang dilakukan Satya memang sudah menjadi haknya meskipun Satya mengambil haknya dengan cara kasar tetap saja Fatimah tidak punya hak untuk melawan ataupun menghakimi apa yang telah dilakukan oleh Satya.


"Apa ini benar-benar rumah Mama?" tanya Fatimah seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya, ini rumah mama," jawab Satya tanpa menoleh ke arah Fatimah, meski dia merasa jengkel dan marah pada Fatimah tapi dia tidak bisa diam dan membiarkan Fatimah terus-terusan bertanya karena Satya sadar jika keterkejutan yang ada di wajah Fatimah saat ini memang karena dia benar-benar belum pernah datang atau diajak pergi ke rumah sang Mama oleh Satya.


Fatimah tidak lagi berbicara ataupun bertanya pada Satya, dia hanya sibuk menatap rumah makan yang ada di hadapannya setiap ornamen dan setiap hiasan juga bentuk rumah yang terlihat begitu elegan tak bisa dipungkiri atau ditutupi Fatimah sangat mengaguminya.


"Akhirnya, kalian datang juga," sambut sang Mama yang langsung membuka lebar pintu rumah sesaat setelah Fatimah dan Satya berada di depannya.

__ADS_1


"Tumben Mama menyambut kedatanganku?" tanya Satya yang merasa heran dengan sikap sang Mama saat ini, biasanya sang Mama akan menunggu dirinya di ruang tamu atau di ruang keluarga jika saya bilang akan datang ke rumah sang mama, tapi saat ini semuanya terasa berbeda Mama Satya membuka pintu dan menyambut kedatangan keduanya dengan senyum merekah dan penuh kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.


"Mama tidak menyambut kedatanganmu, Mama menyambut kedatangan menantu Mama yang paling Mama sayang ini," sahut sang Mama yang memang sejak dulu menginginkan anak perempuan hanya saja dia tidak bisa mendapatkannya.


"Ishhh, Mama sungguh tidak adil, aku anak kandung Mama kenapa jadi istriku yang lama dahulukan?"ujar Satya, dia berkata seolah dia iri pada apa yang dilakukan sang Mama pada Fatimah tapi bibirnya justru tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala seolah menandakan jika dirinya sedang bercanda.


"Mama bosan di rumah sudah banyak anak laki-laki, tapi mama tidak pernah punya anak perempuan, jadi jangan salahkan Mama kalau mama lebih menyukai keberadaan Fatimah daripada dirimu," cicit sang Mama yang juga ikut tersenyum seraya memukul pelan bahu Satya yang berjalan di sampingnya sedang sama mah merangkul alat penuh sayang Fatimah dengan lengan yang lain.


Ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah dan apa yang dilihat oleh Fatimah sungguh membuat matanya tidak berhenti berbinar menatap betapa megah dan bawahnya rumah yang ditinggal oleh sang Mama mertua.


"Wah adik ipar datang," siapa seorang laki-laki yang memiliki wajah tampan hampir sama seperti Satya tapi memiliki tubuh yang lebih tinggi dan badan yang lebih berisi.


Fatimah tidak menyahuti sapaan seorang laki-laki yang baru saja menyapanya, justru Fatimah mengurutkan dahi bingung dengan keberadaan laki-laki itu karena sebelumnya dia tidak pernah melihatnya.


"Ternyata adik iparku cantik juga, pantas saja Satya bersikeras menikah dengannya," sambungnya.


Fatimah masih saja tidak menjawab ucapan laki-laki yang sedang menuruni tangga dan menghampirinya yang kini berjalan di samping sang mama.


"Dia Satria, kakak dari Satya," jelas sang Mama yang mengerti jika saat ini Fatimah tengah kebingungan dengan keberadaan seorang laki-laki yang menyapanya, dan bersikap sok akrab pada Fatimah.

__ADS_1


__ADS_2