
"Mas, siapa Farah?"tanya Fatimah sesaat setelah Satya menghabiskan satu porsi makanan yang ada di atas meja.
"Kenapa kamu bertanya tentang Farah?"sahut Satya yang tidak langsung menjelaskan atau menjawab siapa Farah sebenarnya.
"Dia hanya masa laluku," jawab Satya singkat padat dan jelas, Satya terlihat enggan untuk menceritakan tentang Farah kepada Fatimah, karena menurutnya Farah bukanlah orang yang penting lagi baginya.
"Jika dia memang masa lalumu, kenapa password apartemen dan nomor PIN di kartu ATM yang kamu berikan masih menggunakan tanggal lahirnya? " Fatimah yang merasa belum puas dengan jawaban yang di berikan Satya kembali bertanya, berharap Satya mau menjelaskan apa yang baru saja dia tanyakan.
"Aku lupa belum menggantinya, lagi pula aku terlalu sibuk untuk mengurus hal sepele seperti itu," jawab Satya enteng, seenteng kapas.
"Aku baru tahu jika Mas Satya sesibuk itu," sahut Fatimah yang terlihat kurang suka dengan jawaban yang di berikan oleh Satya.
Tanpa banyak bicara ataupun menjawab ucapan Fatimah Satya yang merasa Fatimah tidak akan percaya dengan ucapannya memilih untuk Memberi bukti.
" ikut aku!" Ujar Satya yang langsung meraih tangan Fatimah menganggapnya dan menuntun Fatimah berjalan ke arah pintu apartemen.
Satya langsung mengganti kode apartemen dengan tanggal pernikahan keduanya kemudian melepas pegangan tangan nya dan melenggang pergi meninggalkan Fatimah yang masih berdiri menatap kosong ke arah pintu di mana Satya mengganti kodenya.
Satya yang terlihat enggan membahas Farah memilih beristirahat di dalam kamar dan bermain game mengabaikan keberadaan Fatimah.
Saat dia memang menikahi Fatma atas dasar dendam tapi dia memiliki pengalaman buruk dengan sebuah perselingkuhan Setia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak akan pernah selingkuh Apapun yang terjadi karena dulu dia pernah melihat sang ayah berselingkuh dengan orang lain dan Satya bisa merasakan betapa sakitnya sebuah pengkhianatan, dia juga pernah melihat berapa hancurnya kehidupan seorang wanita yang diselingkuhi oleh pasangannya.
__ADS_1
Meski Satya masih belum tahu mau di bawa ke mana pernikahannya ini dia tetap tidak akan pernah kau berselingkuh dari Fatimah karena janji tetaplah janji, bagaimanapun keadaannya saat dia akan tetap menepatinya.
Jika Satya sedang menikmati permainan game di ponsel pintarnya, maka berbeda dengan Fatimah yang kini sedang membersihkan meja makan dengan berbagai prasangka yang mulai menyusup ke dalam hati dan pikirannya, ada begitu banyak pertanyaan yang belum mampu dijelaskan ataupun dijawab oleh Satya, Karena itulah Fatimah hanya bisa menyimpan dan terus bertanya-tanya dalam hatinya tanpa bisa mengungkapkan dengan kata, karena menurutnya percuma mengatakan semuanya pada Satya karena pada akhirnya Satya tidak akan pernah menjawab ataupun memberikan penjelasan atas pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Satya.
'Ceklek'
Usai membersihkan dapur dan bekas makan di meja makan Fatimah berjalan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
" Mas Satya sedang apa? " tanya Fatimah sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar dan melihat sang suami sedang duduk bersila menata ponsel dengan tatapan serius.
"Bukan urusanmu, " jawab Satya yang langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar menuju kamar yang lain.
Fatimah hanya bisa mengalah nafas mencoba memperbesar rasa sabar yang dia miliki, melihat sikap saat dia yang semakin ajuh dan seenaknya sendiri memberi rasa sakit tersendiri dalam hati Fatimah, sebuah pernikahan yang penuh dengan keindahan dan cinta kini hanya menjadi angan belaka, takdir Tengah mempermainkan Fatimah dia yang sejak awal berusaha menjadi gadis yang baik agar mendapatkan seorang laki-laki yang baik pula terasa sia-sia karena takdir mempertemukan dia dengan seorang laki-laki yang sangat sulit untuk dimengerti, sikapnya terkadang baik dan sering juga bersikap buruk Acuh Tak Acuh pada Fatimah.
Getar ponsel yang ada di sebelah Fatimah menyadarkannya dari lamun panjang yang tak pernah usai, sebuah kenyataan yang jauh berbeda dengan harapan membuat Fatimah ingin menyerah tapi saat dia sadar dan teringat pada sang ibu saat itulah rasa sabar dan kekuatannya kembali muncul, Fatimah tetap diam dan bersabar hanya karena sang Ibu, dia tak ingin sang Ibu mengetahui keadaannya dan Fatimah juga tak ingin menjadi beban pikiran sang ibu yang kini sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu," lirik Fatimah saat melihat nama yang tertera dalam ponsel yang menyalah dan bergetar di sampingnya.
Dengan gerakan cepat Fatimah segera mengubah ekspresi wajahnya, dia tidak ingin sang Ibu tahu kesedihan ataupun kegundahan yang tengah melanda hatinya.
"Ibu, ada apa?" Tanya Fatimah dengan seutas senyum yang dia Tunjukkan berharap sang Ibu tidak curiga dan menganggap dirinya bahagia juga baik-baik saja di apartemen saat ya saat ini.
__ADS_1
"Apa seorang ibu harus membutuhkan alasan jika ingin menghubungi putrinya?" sahut Ibu yang ikut tersenyum melihat senyum Fatimah.
" tidak Ibu, Aku senang Ibu menelpon," ujar Fatimah tanpa menghilangkan senyum di wajahnya, semua itu dia lakukan karena saat ini sang Ibu Tengah melakukan panggilan video.
" Satya ke mana? Apa dia belum pulang? atau Dia sedang berada di tempat lain? "Tanya sang ibu saat melihat putri kesayangannya itu sedang duduk sendiri di atas spring bed yang terlihat sangat nyaman.
"Mas Satya sedang berada di kamar mandi Bu," jawab Fatimah, dia mulai pintar berbohong pada sang ibu.
"Ibu pikir dia ke mana, Apa kamu sudah makan, nak?" Ibu Halimah kembali bertanya.
"Sudah Bu, bahkan Fatimah menghabiskan dua porsi makanan hari ini," jawab Fatimah.
Ibu Halimah tersenyum senang mendengar jawaban Fatimah yang sudah menghabiskan dua porsi makanan malam ini, jika Fatimah selamat itu makannya maka itu artinya Fatimah sedang merasa bahagia dan senang berada di apartemen Satya.
"Apa saja masih lama di kamar mandi?" Ibu Halimah kembali bertanya, entah mengapa dalam hatinya terselip sebuah kegelisahan dia ingin memastikan jika Fatimah dan Satya baik-baik saja, dan Fatimah tidak sedang berbohong padanya.
" tunggu sebentar Bu! Biar Fatimah panggilkan Mas Satya dulu. " Fatimah sengaja menjeda panggilan video yang sedang berlangsung, semua itu dilakukan Fatimah agar sang Ibu tidak melihat jika Fatimah tidak pergi ke kamar mandi melainkan ke kamar lain yang ditempati oleh Satya saat ini, Fatimah tidak ingin sang Ibu tahu jika Satya selalu menghindar darinya dan memilih tidur di tempat lain dibandingkan tidur di sampingnya.
Dengan langkah cepat Fatimah berjalan menuju kamar Satya untuk memberitahukan jika sang Ibu sedang menelpon.
Tok ... tok ... tok ....
__ADS_1
"Mas Satya!" panggil Fatimah.
"Mas!" Fatimah kembali memanggil saat Satya tidak menjawab panggilannya, sebenarnya Fatimah merasa sedikit takut, dia takut mengganggu Satya, tapi sang Ibu jauh lebih penting dari rasa takut yang sedang dia rasakan.