
"Apa aku bisa membantumu?" tawar Zia saat melihat sang perias kerepotan menghias penutup kepala yang di balut mahkota udah yang kini berada di kepala Fatimah.
Bagai ratu yang tengah bersiap karena akan di nobatkan sebagai ratu di wilayahnya, Fatimah benar-benar cantik mempesona, siapapun pasti tidak akan percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tentu saja boleh," sahut sang perias yang saat ini memang sedang merias Fatimah sendirian, pasalnya tadi rekan kerjanya sedang izin untuk mengisi perut yang sedang lapar dan memberi makan para cacing yang sedang do di perutnya.
"Tolong rapikan ini!" pinta sang perias yang merasa mendapat pertolongan di waktu yang tepat.
"Siap," sahut Zia yang terlihat cekatan mengambil beberapa barang untuk di pasang di kepala Fatimah.
"Maaf, Neng," lirih Fatimah saat dia merasa telah merepotkan Zia yang Fatimah tahu sejak kecil tak pernah membantu pekerjaan siapapun, Zia yang biasanya meminta tolong kini berbalik dia yang di mintai pertolongan.
"Maaf untuk apa? Apa kau punya kesalahan padaku, Fatimah?" Zia kembali bertanya saat dia merasa Fatimah terlalu berlebihan.
"Maaf, karena aku Neng Zia jadi ikut repot seperti ini," Fatimah menjelaskan kenapa dia meminta maaf.
"Astaga, aku kira kamu minta maaf kenapa, sudahlah, apa yang aku lakukan saat ini memang keinginanku, dan kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun tidak enak hati seperti itu!" ujar Neng Zia yang merasa jika Fatimah terlalu berlebihan untuk menanggapi apa yang dia lakukan untuknya saat ini, lagi pula Zia merasa senang bisa membantu persiapan pernikahan sahabatnya itu.
"Terima kasih ya Neng, sudah mau datang menemani dan membantuku," sekali lagi Fatimah membuat Zia merasa jika sahabatnya itu masih saja bersikap tak enakan seperti saat mereka di pesantren, padahal saat ini dia memang pantas untuk di istimewakan di hari yang istimewanya.
"Sudah, tidak perlu meminta maaf ataupun berterima kasih, aku tidak mau dengar kedua kata itu di hari istimewa seperti ini," ucap Zia mencoba menjelaskan pada Zia jika dirinya tidak masalah membantu merias sahabatnya itu, sedang Fatimah hanya tersenyum menanggapi setiap ucapan Zia yang memang berhati tulus itu.
__ADS_1
Fatimah telah selesai dirias, dia semakin terlihat cantik dan hampir sempurna, "Fatimah, kau sungguh cantik," Zia kembali memuji, tapi kali ini Fatimah hanya diam dan tersenyum, tak berniat untuk mendebatnya.
"Apa semuanya sudah selesai?" suara Satya yang kedatangannya tak terdeteksi membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Apa dia calon suamimu?" bisik Zia tepat di telinga dan Fatimah hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Astaga, kamu cukup beruntung Fatimah, dia tidak jelek dan cukup tampan, untung saja dia tidak tua dan jelek," Zia kembali berbisik dan Fatimah hanya tersenyum menanggapinya.
Apa yang di bicarakan Fatimah dan Zia berbanding terbalik dengan Satya yang kembali di buat terkejut dengan apa yang dia lihat, Fatimah kini jauh lebih cantik dari sebelumnya, dia juga jauh lebih anggun darri biasanya, bahkan dian terlihat lebih sempurna dari tadi saat Fatimah duduk di sampingnya saat akad nikah.
"Khem, maaf, Tuan," suara sang perias menyadarkan Satya jika saat ini dia sedang melamun.
"Sudah waktunya Tuan bersiap," jelas sang perias.
Satya tak menjawab sang perias, dia berjalaan mendekat ke arah sang perias kemudian mengambil jas berwarna senada dengan gaun yang di pakai Fatimah, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Fatimah.
Fatimah memang termasuk keluarga kaya, rumah mereka juga cukup luas, hanya saja, Fatimah tak pernah bisa menikmatinya setiap hari, semua itu karena dia harus hidup di pesantren yang memang jauh dari kata mewah, kehidupan sederhana dan apa adanya memang selalu di terapkan di sana dan Fatimah sudah terbiasa dengan hal itu.
Fatimah dan Satya terlihat begitu serasi, yang satu cantik dan yang satu tampan, keduany terlihat begitu serasi berjalan menuju singgah sana yang sudah di siapkan, merek benar-benar terlihat seperti raja dan ratu, kedunya menjadi pusat perhatian, duduk berdampingan di atas pelaminan, menyalami setiap tamu undangan.
"Fatimah, aku pulang dulu ya." Pamit Zia yang kini berjalan ke atas pelaminan dengan satu kado yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih Neng, aku benar-benar berterima kasih padamu Neng," ujar Fatimah sambil memeluknya dengan erat.
"Sudah, jangan berterima kasih! aku senang melakukan semua ini, Umma dan Buya sudah menungguku di luar, aku pulang dulu ya." Zia kembali berpamitan, Umma dan Buya memang sudah datang memberi ucapan selamat dan do'a restu untuk Fatimah.
"Aku senang Umma dan Buya bersedia datang, salam terima kasih untuke mereka," sekali lagi Fatimah mengucapkan kalimat terima kasih yang Zia sendiri kurang senang mendengarnya, karena kata terima kasih dan maaf itu umum untuk orang lain, tapi Zia sudah menganggap Fatimah seperti saudaranya sendiri karena itulah Zia merasa kedua kata itu tidak baik untuk terus di ucapkan.
Resepsi pernikahan telah usai, Fatimah yang kelelahan kini berjalan perlahan masuk ke dalam kamar, kakinya terasa mati rasa karena berdiri terlalu lama, tamu sang Ibu dan keluarga Satya juga rekan kerjanya benar-benar banyak, hingga membuat Fatimah merasakan rasa lelah yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
'Kalau saja pernikahan ini terlaksana dengan orang yang aku cintai dan sudah aku kenal sebelumnya, pasti akan sangat berbeda rasanya,' batin Fatimah saat melihat Satya masih saja asyik mengobrol di samping Fatimah, dan topik yang mereka bicarakan masih tetap seputar bisnis yang kini sedang di geluti sang suami.
"Maaf, Mas, apa aku di izinkan untuk pergi ke kamar lebih dulu? aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat," pamit Fatimah saat dia benar-benar merasa tidak kuat untuk berdiri lebih lama di samping Satya.
"Baiklah, terserah padamu," sahut Satya yang merasa jika memang sudah waktunya untuk pergi dan beristirahat.
Fatimah sejenak melotot mendengar jawaban yang menurutnya kasar itu, tapi sepersekian detik berikutnya Fatimah kembali memasang wajah biasa saja, rasanya akan sangat aneh jika Fatimah bertanya atau bahkan berdebat.
Fatimah kembali berjalan masuk ke dalam kamar sendiri. Meninggalkan Satya yang terlihat terus saja berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Alhamdulillah," ucap Fatimah yang merasa jika semuanya telah berlalu dengan baik dan serangkaian acaranya juga sudah terlaksana dengan baik.
Rasanya masih sulit untuk di terima akal sehat, tapi inilah yang terjadi dan Fatimah tak lagi bisa membuatkan air untuk yang lain.
__ADS_1