
Meski Fatimah sudah memanggilnya berulang kali, Satya tetap diam seribu bahasa tanpa menjawab, hingga suara handle pintu terdengar mengejutkan Fatimah yang sedang berdiri menempelkan telinga dan badan ke arah pintu.
'Bruk'
Tubuh ringkih Fatimah jatuh tepat di dada Satya yang sigap menangkap sesuatu yang jatuh sesaat setelah pintu terbuka.
Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain, ada perasaan aneh yang muncul secara tiba-tiba, membuat jantung keduanya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, dan Satya yang sadar dengan perasaan yang pernah tumbuh perlahan mendekatkan wajah mencoba mengikuti kata hatinya yang ternyata masih memiliki secuil rasa untuk Fatimah, Satya terus saja mendekat hingga jarak keduanya begitu dekat hingga deru nafas Satya terasa menyapu wajah Fatimah yang kini perlahan mulai memejamkan mata, dan saat itulah Satya sadar dengan apa yang terjadi, sisi jahat dalam dirinya mulai muncul dan berbisik, alhasil Satya langsung melepas Fatimah yang tengah bersandar di lengannya.
'Bruk'
Kali ini bukan dada empuk milik Satya yang menjadi tumpuhan badan Fatimah, tapi lantai keras nan dingin yang cukup memberi rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya.
"Auu, ishhh kenapa di lepas, Maa? sakit tahu," spontan Fatimah yang merasa jika apa yang di lakukan Satya cukup membuatnya sakit.
"Apa yang kamu harapkan? aku terus memelukmu dan menc**mu?" sahut Satya yang cukup membuat Fatimah merasa malu karenanya.
Fatimah hanya bisa menunduk sambil mengusap-usap pan***nya yang terasa sakit karena terbentur dinginnya lantai.
"Katakan! ada apa kamu ke sini?" Satya yang merasa jika si Joni kembali bangun dan minta di pu**kan memilih untuk segera menjauh dari Fatimah dan menanyakan apa tujuan Fatimah datang.
"Aku ingin memberi tahu jika Ibu melakukan panggilan video, dan beliau mencarimu," jelas Fatimah.
"Mana ponselnya!" pinta Satya sesaat setelah dia berada di kamar.
__ADS_1
Fatimah menunjuk ke arah samping di mana Satya duduk, telfon Fatimah masih menyala dan terhubung meski kameranya telah di matikan.
"Kemarilah!" Titah Satya.
Fatimah yang mengerti jika saat ini Satya Tengah menjalankan peran sebagai seorang suami berjalan mendekat ke arahnya dan duduk tepat di samping Satya agar sang ibu tidak curiga atau berpikir buruk tentang pernikahan mereka.
"Apa Ibu mencariku?"tanya Satya.
"Iyaa, aku ingin melihat Bagaimana keadaanmu dan putriku di sana apa semuanya baik-baik saja?" Ibu Halimah menjawab pertanyaan setia dengan sebuah pertanyaan yang harus dijawab olehnya.
"Kami di sini baik-baik saja, Bu," jawab Satya.
" syukurlah juga semuanya baik-baik saja, Ibu harap kalian tidak bertengkar atau tanpa resolusi paham Ingatlah jika pernikahan itu saling melengkapi bukan menuntut kesempurnaan salah satu dari kalian, tanda baca ribu Halimah memberikan masukan pada Satya dan Fatimah yang telah duduk di sampingnya.
" Ibu tenang saja kami di sini baik-baik saja dan Fatimah akan aman berada di sini bersamaku," ujar Satya dan mencoba meyakinkan sang ibu mertua agar dia tidak terus bertanya tentang rumah tangga yang telah mereka jalani.
Satya merangkul bahu Fatimah sambil sesekali mencium rambutnya yang harum.
"Syukurlah jika semuanya memang baik-baik saja, Ibu merasa lega melihat kalian rukun seperti saat ini, semoga semua akan tetap baik-baik saja," Ibu Halimah mengungkapkan semua harapan yang ada dalam benaknya.
'Maafkan aku Ibu,' batin Fatimah terus berucap seiring dengan rasa penyesalan yang selalu datang pada akhirnya, semua yang di lakukan Fatimah demi kesehatan sang Ibu, Fatimah rela melepas kebahagiaan nya demi senyum sang Ibu, biarlah dia sengsara asal sang Ibu bisa bahagia.
Satya dan Fatimah tersenyum ke arah ponsel di mana terlihat wajah sang Ibu di dalamnya, tapi senyum dan kemesraan yang mereka Tunjukkan saat melakukan panggilan video langsung sirna entah ke mana, Satya langsung melepas rangkulan tangannya dan kembali bersikap dingin kepada Fatimah saat setelah sambungan panggilan video berakhir, setia yang sudah terlanjur keluar dari dalam kamar tak lagi bisa keluar dia memilih untuk langsung merebahkan diri dan memunggungi Fatimah, tidur adalah hal yang paling tepat untuk dipilih dari pada kembali pergi ke kamar lain untuk menghindar dari Fatimah.
__ADS_1
'Sikap Mas Satya seperti seseorang yang tidak mencintai atau bahkan tidak menginginkan aku ada, tapi kenapa dia menikahiku?' pertanyaan yang kesekian kalinya terus saja terucap berulang kali dalam batin Fatimah, tapi dia tak pernah bisa mengatakannya langsung pada Satya.
Fikiran Fatimah terus melayang jauh hingga dia terlelap dalam tidur yang entah sejak kapan, sungguh hari-hari Fatimah berubah begitu drastis, ketentraman dan kedamaian juga kebahagiaan yang dulu selalu dia rasakan kini seakan sirna tanpa jejak.
Malam panjang telah berlalu, kini mentari pagi mulai bersinar menggantikan tugas sang rembulan yang semalam telah bersinar.
Seperti hari-hari sebelumnya Fatimah bangun lebih awal dan memulai hari dengan menyiapkan makanan untuk sarapan Satya dan dirinya, Fatimah juga menyiapkan air untuk mandi dan segala kebutuhan Satya.
Berkelut dengan peralatan dapur juga asap merupakan hal biasa bagi Fatimah, dia mulai membiasakan diri untuk berbakti pada sang suami, meskipun Satya bersikap buruk padanya, dia tetap melakukan tugasnya dengan baik.
"Mas Satya, bangunlah! aku sudah menyiapkan air untukmu," ujar Fatimah seraya mencoba membangunkan Satya.
Tadi setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim Satya kembali beristirahat, mungkin semua itu sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
"Mas Satya!" Fatimah kembali mengulangi ucapannya, tapi Satya tetap diam tak menjawab, dia terlihat lelap tak terganggu sedikitpun, hingga Fatimah memberanikan diri untuk memegang dahi Satya yang ternyata terasa begitu panas.
'Dia demam,' batin Fatimah.
Tanpa banyak bicara Fatimah langsung mengambil kompres untuk mengompres dahi Satya, kemudian kembali melangkah ke arah dapur membuat sop dan bubur, lengkap dengan obat dan teh hangat agar Satya bisa baik-baik saja.
"Kenapa Mas Satya tidak bilang kalau sedang sakit?" tanya Fatimah seraya mengambil air kompres yang tadi dia letakkan di dahi Satya dan membilasnya.
"Aku haus," sahut Satya dengan mata yang masih tertutup.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Fatimah hanya membawa teh dan obat, tadi dia terburu-buru, karena itulah dia lupa membawa air putih untuk Satya.
"Apa kamu bisa bangun?" tanya Fatimah sesaat setelah dia sampai dari dapur dengan air putih yang ada di tangannya saat ini.