
"Bu, aku ke kamar dulu ya." pamit Fatimah setelah dia selesai menyiapkan semua makanan yang akan mereka makan untuk makan malam hari ini.
"Baiklah, Ibu juga mau ke kamar." sahut ibu yang kini berjalan beriringan bersama Fatimah menuju kamar masing-masing.
Fatimah melangkah menuju kamar berniat memberitahukan Satya jika dia sudah selesai memasak makanan yang diinginkan olehnya.
"Sebenarnya apa yang Mas setia lakukan dengan laptop dan ponsel itu? "Tanya Fatimah sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar dan melihat Satya yang fokus menatap laptop di hadapannya, Fatimah tak lagi bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Satya karena setiap kali Fatimah masuk ke dalam kamar saat dia selalu menatap laptopnya dengan tatapan yang fokus dan serius.
"Kamu tidak perlu tahu apa yang aku lakukan, yang penting aku bisa menafkahimu dan nafkah yang aku berikan padamu itu halal bukanlah uang haram," sahut Satya yang terlihat kurang suka dengan pertanyaan yang diajukan oleh Fatimah.
"Aku hanya ingin tahu apa yang kamu lakukan, kenapa kamu jawabnya seperti itu?" ujar Fatimah dengan mimik wajah lesu dia berkata, sungguh Satya tidak pernah bisa bersikap lembut dan perhatian padanya, sedang Satya hanya menoleh ke arahnya sebentar kemudian kembali fokus menatap laptop yang masih menyala di hadapannya.
Fatimah memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap makan malam dari pada memikirkan Satya yang memang memiliki sikap dingin dan cuek terhadapnya sejak pertama kali mereka berdua bertemu.
"Mas, makanannya sudah siap, apa kamu tidak ingin makan bersama? Ibu dan Bibik sudah menunggu kita di ruang makan, " ujar Fatimah ketika dia keluar dari kamar mandi dan melihat Satya yang masih saja menatap laptopnya dengan serius.
"Kamu bersiap saja lebih dulu! aku baru saja mandi dan membersihkan diri, setelah kamu siap kita turun bersama." Jawab Satia yang memang baru saja mandi dan ganti baju.
Mendengar jawaban Satya Fatimah memutuskan untuk merapikan rambut panjangnya dan memakai hijab kemudian berdiri di belakang Satya.
"Mas aku sudah siap," ucap Fatimah setelah dia berada di belakang Satya.
Satya tak lagi menjawab ucapan Fatimah dia memilih menutup laptopnya kemudian berdiri di samping Fatimah dan melangkah pergi mendahului Fatimah keluar dari kamar sedang Fatimah berjalan dengan langkah lebar mengimbangi langkah setia yang memang lebar.
__ADS_1
"Mas, bisa tidak jalannya sedikit lebih pelan?"ujar Fatimah yang merasa kesulitan mengimbangi langkah Satya.
Satya yang mendengar keluhan Fatimah langsung berhenti dan meraih tangan Fatimah sehingga keduanya berjalan berdampingan dengan langkah pelan menuju ruang makan.
"Malam, Bu, Bibik," siapa Satya saat setelah mereka sampai di ruang makan.
"Cie pengantin baru, jalan ke rumah makan aja gandengan udah kayak orang mau nyebrang," celetuk Bibik Husna ketika melihat Fatimah dan Satya datang sambil bergandengan tangan.
Fatimah dan setia hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Bibik tapi keduanya tidak berniat membalas ucapan sang Bibik.
"Apa ini masakanku?" tanya Satya setelah dia memakan satu suap opor ayam yang di ambilkan Fatimah.
"Iya, bagaimana rasanya?" sahut Fatimah dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran Fatimah bertanya.
"Enak, kamu memang istri solehah dan idaman setiap pria, selain cantik kamu juga memiliki keahlian memasak dan aku bersyukur punya istri seperti kamu Fatimah," ujar Satya.
"Apa sekarang kamu merasa senang?" tanya Satya.
"Maksud Mas Satya apa?" Fatimah menjawab pertanyaan Satya dengan pertanyaan lain.
"Apa kamu senang setelah kita berada di sini? bahkan sekarang kita akan menginap di sini, bukankah itu yang kamu inginkan?" Satya kembali menjelaskan apa yang dia maksud.
Fatimah mengerutkan dahi bingung mendengar penjelasan Satya yang cukup membuatnya bingung sekaligus sakit hati, sejak awal Fatimah yang ingin menhenguk sang Ibu, dia bahkan rela naik taxi dan tidak minta di antar oleh Satya meski sebenarnya dia punya hak untuk meminta itu.
__ADS_1
"Aku minta maaf, jika kamu tidak menyukainya kita bisa pulang sekarang, lagi pula tadi aku tidak memintamu ke sini, ataupun mengajakmu ke sini, jika kamu tidak menyusul aku pasti berada di apartemen saat ini," sahut Fatimah sambil menundukkan kepala, ucapan Satya kali ini benar-benar menyakiti hatinya, tapi Fatimah yang tak ingin melawan ataupun membantah Satya memilih untuk meminta maaf, meskipun air matanya tak lagi mampu dia bendung, Fatimah tetap berusaha bersabar.
"Di sini tidak ada sofa panjang dan besar seperti di apartemenku, aku kesulitan untuk tidur," jujur Satya.
"Kenapa jika tidak ada sofa? bukankah kamu bisa tidur di kasur itu," seru Fatimah.
Satya tak menjawab ucapan Fatimah, dia justru melangkah meraih pinsel yang tergeletak di atas meja. Kemudian berjalan ke arah balkon memutar musik dengan suara yang cukup keras tapi tidak sampai keluar ruangan karena dia memutarnya dengan ponsel.
Satya memilih menghindar dari Fatimah dari pada menjelaskan alasan dia yang memilih tidur di sofa dari pada di kasur bersamanya.
'Dasar aneh,' batin Fatimah setelah melihat Satya justru tidur di ayunan yang ada di balkon sambil menikmati musik yang tengah di putar.
"Dari pada mikirin Mas Satya lebih baik aku cek ponselku dulu." gumam Fatimah yang mengingat jika dirinya tadi sempat mengecash ponsel pintarnya.
"Astaga, aku lupa jika kartunya sudah hangus dan tak bisa di gunakan," sambung Fatimah saat dia membuka ponselnya dan terdapat notif jika kartu yang ada di dalamnya tak lagi bisa di gunakan, dengan langkah lebar Fatimah berjalan keluar kamar meminta sang asisten rumah tangga untuk membelikannya kartu yang baru agar Fatimah bisa menghubungi beberapa teman dan sahabat termasuk, Neng Zia yang sudah lama ingin dia hubungi.
"Kamu sedang apa, Nak?" sapa Ibu Halimah saat melihat sang puteri sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata di ruang keluarga.
"Eh, Ibu, aku sedang menunggu Bibik," jawab Fatimah.
"Memangnya Bibik lagi ke mana kok di tungguin?" Ibu Halimah kembali bertanya.
"Beli kartu," jawab Fatimah singkat padat jelas.
__ADS_1
"Kartu?" sahut Ibu Halimah sambil mengerutkan dahi bingung dengan kartu apa yang di maksud oleh Fatimah.
"Iya, aku meminta Bibik membelikan kartu ponsel karena aku ingin memakai hp ini," jelas Fatimah yang justru membuat Ibu Halimah semakin bingung karenanya.