Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Makan Bersama Satya Fi Restaurant


__ADS_3

Lima menit berlalu, Fatimah mulai bosan, dia yang sejak tadi duduk manis di sofa kini mulai merasa bosan, Fatimah langsung berdiri mengelilingi setiap sudut ruangan, memperhatikan apa saja yang ada di setiap sudut tanpa terkecuali.


"Ternyata ruangan Mas Satya sangat besar dan Fatimah merasa tidak bosan berkeliling di ruangan itu karena setiap sudut memiliki hal yang unik untuk diperhatikan.


Satya membutuhkan waktu setengah jam untuk menyelesaikan rapatnya.


"Apa kamu sekarang merasa senang?" tanya Satya saat melihat Fatimah tengah asyik memperhatikan sebuah lukisan seorang gadis berukuran sedang yang nampak dari samping, dia terlihat sedang memetik sebuah bunga di tempat yang sepertinya pernah Fatimah datangi.


"Ini lukisan siapa?" tanya Fatimah.


"Itu lukisan seorang gadis yang pertama kali masuk ke dalam relung hatiku tanpa permisi, dan menolakku tanpa hati," jawab Satya.


Fatimah yang mendengar jawaban Satya semakin merasa bingung, kenapa dia cerita cinta pertamanya pada Fatimah yang sudah menjadi istrinya.


"Apa gadis itu sampai sekarang masih ada?" Fatimah yang penasaran kembali bertanya.


"Tentu saja," jawab Satya acuh, dia menjawab pertanyaan Fatimah dengan santai sambil meletakkan berkas yang tadi dia bawa.


"Kamu mau pulang atau mau menginap di sini?" tanya Satya saat melihat Fatimah hanya diam mematung di tempatnya.


"Eh, iya, kenapa?" sahut Fatimah yang tengah mematung di hadapannya.


"Kamu melamun?" tanya Satya.


"Tidak," jawab Fatimah cepat.


Satya tahu dengan pasti jika Fatimah sedang melamun dan dia memikirkan gadis yang ada di dalam foto.

__ADS_1


'Dasar bodoh, gadis itu kamu Fatimah, apa kamu tidak tahu? atau kamu pura-pura tidak tahu?' batin Satya sambil menatap lekat ke arah Fatimah yang kini juga ikut menatapnya.


Keduanya saling menatap dan terbawa suasana hingga jarak di antara keduanya begitu dekat, ego dan gengsi yang biasanya mendominasi Satya kini hilang entah ke mana, semuanya menghilang, keduanya terus mendekat hingga mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing, Fatimah yang mengerti apa yang akan terjadi perlahan menutup mata, begitu pula dengan Satya yang ikut menutup mata mencoba menikmati setiap hal yang terjadi.


"Tuan,"Satu suara mampu meluluh lantahkan suasana romantis yang sudah tercipta, baik Satya maupun Fatimah, keduanya langsung menjauh mendengar suara Daniel yang tiba-tiba terdengar.


"Aku akan mengganti posisimu jika kau akan mengulanginya lagi." Satya yang jengkel langsung mengancam Daniel yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.


"Maaf Tuan, saya tadi buru-buru, berkas yang Tuan bawa belum sepenuhnya selesai di tanda tangani oleh clien kita, dan saya harus segera mengambil berkas itu dan meminta tanda tangan yang kurang," Daniel yang sedang terdesak langsung mengatakan semuanya.


Tadi saat rapat Satya kurang fokus, fikirannya tertuju pada Fatimah yang sedang sendirian di ruangannya, hingga Satya pergi begitu saja membawa berkas yang dia sendiri lupa untuk meminta tanda tangan cliennya.


"Ambillah! dan cepat minta tanda tangan mereka!" titah Satya yang baru ingat jika berkas itu tidak seharusnya dia bawa dengan keadaan kosong, harusnya berkasnya sudah di tanda tangani oleh cliennya.


Suasana sedikit canggung setelah kejadian tak terduga, hingga Satya yang tidak ingin terlalu lama berada dalam kecanggungan memutuskan untuk mengajak Fatimah pergi dari ruangan itu.


"Khem," Satya mencoba menetralkan semua perasaan yang kini tengah bercampur aduk.


Selama perjalanan tak ada yang berbicara, mobil terasa begitu hening seperti tak berpenghuni, bahkan musik yang biasanya terdengar kini tak tahu entah ke mana.


"Loh, kita mau ke mana, Mas?" tanya Fatimah saat melihat sang suami berbelok ke tempat lain.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Jawab Satya yang memang berencana mengajak Fatimah pergi ke tempat makan seafood langganannya, semua itu di lakukan Satya karena Fatimah sudah berbaik hati membuatkannya makan siang.


"Seafood, di mana Mas?" Fatimah kembali bertanya saat mobil yang dia kendarai terus melaju lurus tanpa berbelok.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, jangan khawatir! aku tidak akan membuang mu di tempat yang jauh," ujar Satya yang mengira jika Fatimah berfikiran jika dia ingin membuang Fatimah di tempat yang jauh.

__ADS_1


Mendengar ucapan Satya yang salah faham pada dirinya membuat Fatimah diam seribu bahasa, dia tidak ingin berkomentar apapun dan lebih memilih diam dari pada berbicara.


Mobil terus melaju hingga sampailah di sebuah restauran yang terlihat cukup mewah dan pasti mahal dengan gambar lobster dan kepiting sebagai logo di di depan restaurannya.


"Ayo masuk!" sekali lagi Satya bersikap seenaknya sendiri, dia meraih tangan Fatimah dan mengajaknya masuk ke dalam restauran.


'Wah, megah sekali,' batin Fatimah berucap sambil menatap setiap sudut restauran yangemang di hias begitu indah dengan tema laut.


"Duduklah!" titah Satya yang kini menarik kursi untuk Fatimah.


Fatimah yang kembali di buat bingung hanya diam seribu bahasa sambil mengikuti perintah Satya, dia duduk di kursi yang di ambilkan oleh Satya.


Dan Satya ikut duduk di samping Fatimah sambil kemudian mengambil buku menu yang baru saja di berikan oleh pelayan, sungguh pelayanan di restauran ini sangat cepat, Satya memesan semua makanan yang menurutnya enak dan cocok untuknya dan Fatimah.


"Apa menu yang di pesan tidak terlalu banyak Mas?" tanya Fatimah yang merasa jika menu yang di pesan Satya terlalu banyak.


"Tidak," jawab Satya singkat dan Fatimah hanya diam mendengar jawaban singkat suaminya itu.


"Fatimah," lirih Satya, sejak menikah dia tidak pernah berbicara tentang pribadi masing-masing, entah mengapa Satya tiba-tiba ingin membicarakannya sekarang.


"Iya," sahut Fatimah.


"Sebelum menikah denganku, apa kamu pernah punya hubungan spesial dengan seorang laki-laki?" tanya Satya seraya menatap lekat ke arah Fatimah, mencoba mendeteksi apa Fatimah bohong atau tidak.


"Tidak pernah, kecuali dengan Mas Fariz, dia sahabat penaku, kami hanya saling mengirim dan bertukar surat untuk mengenal satu sama lain," jawab Fatimah jujur.


Mendengar jawaban Fatimah Yang spontan dan tatapan mata yang menandakan jika dia jujur membuat Satya bingung, kenapa gadis secantik Fatimah bisa tidak punya pacar atau kekasih sebelum menikah.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak punya kekasih atau pacar Fatimah?" Satya yang merasa maaih penasaran dan belum puas mendengar jawaban Fatimah memilih untuk kembali bertanya.


"Bagiku, sebuah kesucian dan kemurnian adalah hal terpenting dalam hidup, aku ingin mendapatkan yang terbaik untuk hidupku, karena itulah, aku berusaha yang terbaik agar suami yang aku dapat sesuai dengan apa yang aku harapkan," jelas Fatimah yang justru membuat Satya semakin bingung di buatnya.


__ADS_2