
Sudah seminggu berlalu, sejak kematian sang ibu, Fatimah menjadi gadis yang lebih sering diam, dia jarang sekali tersenyum atau bahkan banyak bicara seperti sebelumnya.
"Nona!" Suara sang asisten rumah tangga terdengar memanggil Fatimah yang kini sedang duduk menatap langit di balkon rumahnya, hari memang masih pagi tapi Fatimah sudah bangun menikmania mentari seraya mengenang sang ibu, sedang Satya pergi mulai bekerja seperti biasanya.
"Ada apa, Bik?" Sahabat Fatimah jangan subur dan berjalan mendekat ke arah sang asisten rumah tangga yang kini sedang berada di belakangnya.
"Ada beberapa orang yang datang dan mengaku pemilik rumah ini, mereka meminta Bibik memanggil nona untuk menemui mereka di ruang tamu," jawab asisten rumah tangga Fatimah.
"Apa? mengaku sebagai pemilik rumah ini, siapa mereka, Bik?" sahut Fatimah dengan ekspresi wajah penuh rasa terkejut dan khawatir yang terlihat jelas di wajahnya.
"Saya tidak tahu Nona," jawab sang asisten yang memang tidak mengenal siapa orang yang datang.
"Lebih baik Mbok pergi ke dapur saja! siapkan camilan dan minuman untuk mereka, sebentar lagi aku akan menyusul dan menemui mereka.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi, Non." Pamit sama asisten yang kini berjalan menjauh meninggalkan Fatimah yang kembali masuk ke dalam kamar.
"Ada apa Fatimah?" tanya Satya saat dia melihat Fatimah masuk kembali ke dalam kamar setelah menemui seseorang yang dia yakini jika orang itu sang asisten rumah tangga.
"Di bawah ada orang yang mengaku menjadi pemilik rumah ini, Mas," jelas Fatimah.
"Apa? mengaku menjadi pemilik rumah ini, kamu yang baru saja, di rumah ibumu yang itu artinya akan menjadi rumah sebagai anak satu-satunya," sahut Satya dan ekspresi wajah penuh keterkejutan dan keheranan yang tidak bisa ditutupi olehnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berbohong Mas Satya, lebih baik kita temui mereka sekarang," ujar Fatimah yang tidak mungkin berani menghadapi orang-orang yang datang ke rumahnya sendirian.
"Tunggu sebentar!" Satya langsung meraih baju ganti yang ada di kasur dan dengan tergesa-gesa dia melepas handuk yang melingkar indah di pinggang, sekaligus menjadi benda satu-satunya yang menutupi tubuh.
"Aarhhhhh ...." Teriak Fatimah saat melihat saat dia melepas handuk dengan gerakan spontan dan cepat Fatimah langsung berpaling memunggungi Satya yang justru terlihat biasa saja.
"Kenapa berteriak?" Tanya saja yang terlihat biasa saja malah justru merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Fatimah.
"Kenapa Mas Satya main buka baju gitu aja?" tanya Fatimah dengan kedua tangan yang masih Satya menutupi wajahnya agar tidak melihat Satya yang sebenarnya sudah memakai baju saat ini, meski baru memakai celana saja.
"Kenapa kamu malah tanya seperti itu? Bukankah sudah biasa jika dalam satu ruangan terdapat suami istri gimana salah satunya sedang tidak memakai baju, apa itu salah?" Menjawab pertanyaan Fatimah dia malah balik bertanya dan menanyakan sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh Fatimah.
" Kenapa malah diam?" Sambung Satya saat melihat Fatimah hanya diam tak menggubris ucapannya.
Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapan Satya membuatnya tersenyum karena saat ini Fatimah terlihat lebih lucu dari biasanya.
"Ayo!" sahut Satya yang langsung meraih tangan Fatimah kemudian mengajaknya berjalan menuju ruang tamu menemui tamu yang sejak tadi menunggu mereka.
"Siapa mereka? Aku tidak pernah melihat mereka dan kenapa mereka bisa mengaku jika rumah ini adalah milik mereka?" Bisik Fatimah pada saat dia yang kini berjalan tepat di sampingnya.
Fatimah melihat dua orang laki-laki bertubuh besar dan kekar sedang duduk di ruang tamu dengan satu tas hitam yang berada di meja.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar tidak pernah mengenal mereka?" Satya mencoba memastikan jika orang-orang yang ada di ruang tamu adalah orang asing yang belum pernah ditemui oleh Fatimah sebelumnya.
"Aku tidak mengenal mereka dan bahkan aku tidak pernah bertemu sekalipun dengan mereka," jawab Fatimah jujur selama ini dia memang berada di dalam pesantren dan tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang kini ada di ruang tamunya.
"Apa kamu yakin? Coba ingat-ingat lagi! Apa mungkin kamu melupakan sesuatu? Mereka bukan saudaramu, Kan?" Satya mencoba meyakinkan Fatimah jika orang-orang yang ada di ruang tamu memang benar-benar orang yang tidak mereka kenali atau orang asing, Satria tidak ingin terjadi kesalahpahaman di antara keluarga Fatimah seperti sebelumnya, karena itulah Satya mencoba untuk memastikan jika orang-orang yang ada di ruang tamu bukan saudara Fatimah.
"Aku tidak pernah bertemu dengan mereka, bahkan di hari pernikahan kita pun hampir seluruh keluarga kita diundang dan aku sama sekali tidak pernah melihat wajah mereka," jawab Fatimah yang memang tidak pernah bertemu dengan tamu yang datang saat ini.
Satya tak lagi bertanya ataupun meminta Fatimah untuk mengingat siapa orang-orang yang saat ini ada di hadapan mereka itu.
"Apa apa benar Anda yang bernama Fatimah?" tanya salah satu orang yang datang ke rumah Fatimah.
"Benar, maaf sebelumnya, siapa kalian?" tanya Fatimah sambil mengerucutkan dahi bingung melihat orang asing yang kini duduk dengan santainya di ruang tamu milik Fatimah.
"Perkenalkan, nama saya Erik dan ini rekan saya Firman, kamu anak buah dari Tuan Sanjaya yang telah membeli rumah ini satu Minggu yang lalu," jelas seseorang yang memperkenalkan diri dengan nama Erik.
"Jual, saya merasa tidak menjual rumah ini, memangnya kalian membeli rumah ini dari siapa?" sahut Fatimah
"Aku membelinya dari seorang wanita paruh baya yang bernama Husna," jawabnya tegas penuh kepercayaan diri.
Fatimah yang memang tidak tahu apa-apa hanya diam sambil terus memikirkan wanita yang di maksud tamu itu, Fatimah terus saja memikirkan siapa dan seperti apa sebenarnya kehidupan sang Ibu selama dia ada di pesantren, tapi Fatimah yang memang berada di pesantren dan jarang sekali di rumah membuat Fatimah bingung karena dia sama sekali tidak tahu tentang rumah yang di tempati oleh sang Ibu, sedang Satya yang tahu sedikit banyak bagaimana keadaan keluarga Fatimah memilih diam dan melihat apa yang akan di lakukan oleh Fatimah untuk melawan tamu yang tiba-tiba datang fan mengaku pemilik rumah yang saat ini di tempati oleh Fatimah.
__ADS_1
"Ini adalah bukti jika Tuan kami sudah membeli rumah ini," ujar tamu itu seraya menunjukkan sertifikat rumah yang kini ada di tangannya.