Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Mulai Posesif


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya Dok? apa janinnya baik-baik saja? bagaimana dengan calon anak kami? apa dia sehat?" Saat dia terlihat tidak sabar mendengarkan penjelasan sang dokter hingga dia terus bertanya tanpa jeda, sedangkan dokter yang sangat mengerti dengan sifat Satya yang memang sudah terkenal di rumah sakit itu hanya bisa tersenyum menanggapinya.


"Mas, harusnya kalau tanya itu satu-satu, jika Mas bertanya seperti itu bu dokter pasti kebingungan untuk menjawabnya," sela Fatimah yang merasa jika apa yang baru saja dilontarkan oleh suaminya itu adalah hal yang sungguh tidak wajar, tidak seharusnya Satya bertanya dengan pertanyaan beruntun seperti yang baru saja diajukannya.


Tapi Satya tetaplah Satya, dia sama sekali tidak menggubris ucapan Fatimah dan tetap fokus menatap lurus ke arah dokter seolah menunggu jawaban atas apa yang baru saja dia tanyakan.


"Semuanya baik-baik saja, Tuan Satya tidak perlu khawatir karena janin dan ibunya sama-sama sehat, tapi meski seperti itu Tuan Satya harus menjaga pola makan istri tuan, dan jangan bekerja terlalu berat karena hal itu bisa mempengaruhi perkembangan janin," jelas Dokter yang tadi memeriksa Fatimah.


" Baguslah Jika seperti itu, Bagaimana dengan berhubungan apa saya masih bisa melakukannya?" Pertanyaan yang sebenarnya mampu membuat siapapun merasa malu dan terkejut tak terkecuali dengan Fatimah yang langsung melebarkan mata merasa terkejut dengan pertanyaan yang baru saja dikatakan oleh Satya, tapi ekspresi wajah Fatimah jauh berbeda dengan ekspresi wajah Satya yang justru terlihat antusias menunggu jawaban dari sang dokter yang kini tersenyum ke arah Satya. Ini bukan pertama kalinya sang dokter mendengar pertanyaan dari calon ayah seperti Satya, Karena itulah dia terlihat biasa saja dan justru tersenyum menanggapi pertanyaan yang muncul dari bibir Satya.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada larangan untuk berhubungan selama hamil, hanya saja tidak sekarang, Tuan bisa melakukannya dua minggu lagi dan harus pelan," jelas sang dokter.


"Baiklah, Terima kasih atas penjelasannya, saya permisi." Pamit Satya yang langsung pergi setelah Dokter menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh di lakukan selama hamil, Dokter juga menuliskan resep untuk Fatimah.


Satya dan Fatimah berjalan keluar dari rumah sakit menuju mobil yang sudah terparkir cantik di depan pintu keluar.


" hati-hati!" Ujar Satya kini terlihat begitu berbeda dari biasanya, dia yang biasanya cuek dan dingin kini terlihat lebih perhatian dan justru terkesan posesif, sejak keluar dari ruangan Dokter, Satya terus berjalan di samping Fatimah sambil merangkul pundaknya, Fatimah hanya hamil tapi Satya memperlakukannya seperti seorang wanita yang tengah sakit keras.


"Diamlah! Ikuti saja apa yang aku katakan dan Jangan membantah!" Sahut Satya terdengar tegas dan tak terbantahkan.

__ADS_1


Meski Fatimah merasa sedikit kurang nyaman dengan perlakuan Satya saat ini tapi dia tetap melakukan apa yang Satya perintahkan, saat ini Satya Tengah membuka pintu mobil untuk Fatimah sembari memegang tangan Fatimah erat agar dia tidak terjatuh ataupun terpeleset padahal sebenarnya tidak akan terjadi apa-apa meski Satya tidak melakukan hal itu.


"Kita pergi ke rumah mama!" Titah Satya sesaat setelah sang sopir mulai melajukan mobil nya.


"Kenapa kita harus pulang ke rumah mama, mas?" tanya Fatimah yang merasa aneh dengan perintah Satya, tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu Satya memerintahkan sang sopir untuk pergi ke rumah mama.


"Aku tidak mungkin bisa menjagamu dia puluh empat jam, dan aku tidak mungkin bisa mempercayakan orang luar untuk menjagamu selama aku pergi, karena itulah lebih baik untuk sementara waktu kita tinggal di rumah mama agar kamu ada yang mengurus," jawab Satya dengan ekspresi wajah serius dia menjawab pertanyaan Fatimah dengan begitu entengnya tanpa ada beban yang terlihat di wajahnya.


"Aku hanya hamil Mas, tidak sakit keras, Meski aku ditinggal sendiri di rumah semua pasti akan baik-baik saja," ujar Fatimah yang merasa jika Apa yang dilakukan oleh Satya cukup keterlaluan dan berlebihan.

__ADS_1


"Biarkan aku melaksanakan peranku sebagai seorang suami dan calon ayah, tugasmu hanya menurut dan lakukan apa yang aku katakan karena semua yang kulakukan adalah hal yang terbaik untukmu saat ini," sahut Satya yang menegaskan jika Fatimah tidak bisa menolak apa yang sudah diputuskan untuknya, senang Fatimah hanya bisa menghembuskan nafas kasar kemudian berpaling menoleh ke arah jalan raya mencoba melapangkan dada dan mengerti apa yang dilakukan oleh Satya adalah hal yang baik untuknya.


__ADS_2