Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Ucapan Terima Kasih Satya


__ADS_3

"Bak mandi dan air hangatnya sudah siap, Mas Satya bisa mandi sekarang," tutur Fatimah sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi.


Satya memang merasa dirinya sudah jauh lebih baik dari pagi tadi, tapi Satya Melangkah dengan langkah pelan, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan menghilangkan rasa lengket yang sejak tadi dia rasakan.


Melihat Satya sudah pergi dan masuk ke dalam kamar mandi, Fatimah berjalan menuju almari menyiapkan baju ganti untuk Satya. Setelah menyiapkan baju Satya Fatimah kembali berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan teh hangat dan membawa beberapa camilan ke dalam kamar. Fatimah berpikir jika saat ini Satya pasti membutuhkan minuman hangat dan beberapa biskuit untuk mengisi perutnya, karena sejak pagi Satya hanya memakan beberapa sendok bubur saja, Karena itulah Fatimah memutuskan membuat teh hangat dan beberapa camilan yang bisa mengisi perut Satya.


"Apa yang kamu lakukan, Fatimah?" tanya Satya sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi dan melihat Fatimah sedang menata sesuatu di atas meja dekat sofa yang berada tepat di depan jendela besar yang menghubungkan antara kamar dan balkon. Apartemen Satya memang terletak di lantai lima Di mana kita bisa melihat pemandangan di bawah dari balkon gambar.


"Aku membuatkan teh hangat dan membawakan beberapa biskuit untukmu, Aku harap kamu makan dan meminumnya agar perutmu terasa hangat dan tidak perih karena seharian ini kamu hanya makan sedikit," jelas Fatimah.


" Kenapa kamu hanya diam dan menatapnya saja? Apa kamu tidak menyukai teh hangat dan biskuit yang aku bawakan untukmu?" Tanya Fatimah ketika dia melihat Satya hanya diam menatap lekat ke arah meja di mana Fatimah meletakkan teh hangat dan biskuit untuknya.


Satya tak menjawab ucapan Fatimah, dia langsung berjalan mendekat ke arah sofa, meminum sedikit teh hangat yang sudah di siapkan oleh Fatimah, kemudian melihat ke arah luar, langit yang gelap menandakan jika malam belum usai.


"Terima kasih, kamu sudah bersedia merawatku," ujar Satya sesaat setelah dia memakan biskuit yang di sediakan oleh Fatimah.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, semua yang aku lakukan sudah menjadi kewajiban yang memang harus aku lakukan," sahut Fatimah.


Satya tak bisa berbicara apa-apa, dia hanya diam sembari menghabiskan makanan dan minuman yang telah disiapkan oleh Fatimah.


"Sudah, biarkan aku yang membersihkannya, Mas Satya Langsung istirahat saja." ujar Fatimah ketika dia melihat Satya hendak membersihkan bekas makan minumannya.


Sekali lagi Satya tidak menjawab ucapan Fatimah dia hanya melirik sekilas ke arah Fatimah kemudian berjalan kembali ke arah tempat tidur dan merebahkan diri di sana. Fatimah yang memang mulai terbiasa hanya bisa diam memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Satya, sikap dingin Satya sudah biasa diterima olehnya.


Hari semakin malam dan kini Mentari Pagi yang mulai muncul menggantikan sang Rembulan.

__ADS_1


"Mas, sudah waktunya bangun! jika Mas merasa lebih baik bangunlah!" Suara Fatimah terdengar begitu lembut menyapa telinga Satya yang tengah terlelap dalam mimpi yang begitu indah.


"Hm," sahut Satya, menggeliat merasa terusik dengan panggilan yang baru saja dia dengar.


"Sudah subuh, apa Mas tidak mau bangun?" ujar Fatimah.


"Lima menit lagi," cuman Satya dengan mata yang masih tertutup.


"Mas, waktu sholatnya hampir habis, ayo bangun!" Fatimah tak mau berhenti, dia tetap berusaha membangunkan Satya yang terlihat masih memejamkan mata.


Satya tak merespon ucapan Fatimah, dia malah merubah posisi dan sialnya Fatimah yang berdiri di samping Satya jatuh karena kerudungnya ketarik oleh tangan Satya.


"Astaghfirullah," spontan Fatimah saat dia tertarik dan jatuh tepat di atas tubuh Satya.


Merasakan sesuatu yang kenyal dan aneh, juga deru nafas seseorang membuat mata Satya terbuka lebar menatap siapa yang ada di atasnya saat ini, keduanya saling pandang dengan waktu cukup lama hingga Fatimah yang terkejut sadar jika saat dia berada di atas tubuh Satya.


"Khem," Satya berdehem mencoba menetralkan segala rasa yang sedang berkecambuk dalam dirinya.


"Waktu sholat sudah hampir habis, bersiaplah! aku akan siapkan baju ganti untukmu," ujar Fatimah tertunduk malu, sedang Satya hanya diam dengan pandangan yang ikut menunduk menyadari jika barusan dia merasakan benda asing yang menyentuh badannya dan memberikan reaksi aneh yang tak pernah Satya rasakan sebelumnya.


Keduanya terlihat begitu canggung, hingga Fatimah memutuskan untuk pergi mendekat ke arah lemari dan mengambil beberapa baju untuknya, sedang Satya lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya sebagai orang muslim.


"Loh, Mas Satya mau ke mana?" Fatimah kembali bertanya saat melihat sang suami sudah rapi dengan baju kantor, bukan memakai baju yang tadi dia pilihkan.


"Kerja," jawab Satya singkat dengan tatapan yang masih tertuju pada kancing jas yang tengah dia kaitkan.

__ADS_1


"Apa Mas sudah sembuh?" Fatimah kembali bertanya.


"Sudah," Satya kembali menhawab pertanyaan Fatimah dengan singkat, bahkan sangat singkat.


"Mas baru saja sembuh, tidak bisakah Mas ambil libursaja untuk hari ini?" usul Fatimah yang merasa jika sang suami baru saja sembuh dan masih membutuhkan istirahato.


"Aku tidak bisa sakit atau beristirahat terlalu lama, ada banyak hal yang harus aku lakukan, jika aku beristirahat terlalu lama, kamu mau makan apa," jawaban yang cukup membuat Fatimah sadar jika hidupnya saat ini bergantung pada Satya.


Seketika Fatimah diam seribu bahasa mendengar jawaban Satya yang cukup menohok.


"Kalau begitu Mas sarapan dulu! aku sudah memasak sarapan untukmu," Fatimah yang tak ingin melawan sang suami hanya bisa diam dan memintanya sarapan tanpa bisa berbuat banyak.


Satya tak menjawab ucapan Fatimah, dia langsung berjalan menuju ruang makan dan Fatimah hanya bisa mengikuti langkahnya.


"Mas mau makan yang mana?" tanya Fatimah setelah mengambilkan nasi untuk Satya.


"Apa saja," jawaban yang membingungkan Fatimah.


'Kenapa tidak langsung bilang saja mau makan apa?' batin Fatimah yang merasa jika jawaban Satya sungguh membuatnya bingung.


Fatimah yang tak ingin diam saja langsung mengambilkan satu potong lauk di setiap menu yang sudah dia siapkan, keduanya makan dalam keheningan hingga tandas tak tersisa, tidak ada satupun yang berbicara.


"Mas," panggil Fatimah sebelum Satya berangkat bekerja.


"Hm," kata-kata yang sangat sering keluar saat Fatimah mengajak Satya berbicara.

__ADS_1


"Aku ingin pergi ke rumah Ibu, apa Mas Satya mengizinkanku?" tanya Fatimah.


"Bukankah kamu baru pindah beberapa hari ke sini, kenapa sekarang kamu mau pergi ke sana?" pertanyaan yang cukup membuat Fatimah bingung sekaligus kurang suka, Fatimah mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah Satya yang justru bersikap biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dalam dirinya.


__ADS_2