
"Ibu,"sapa Fatimah saat melihat sang Ibu berdiri di dapur menyiapkan sarapan bersama sang asisten rumah tangga.
" Loh, sudah bangun, Nak," sahut Ibunda Fatimah dengan senyum yang terlihat sumringah.
"Sudah, Bu," jawab Fatimah yang kini juga menampakkan senyum di wajahnya.
"Nak Satya mana?" Ibu kembali bertanya karena dia tak melihat Satya sang menantu tak ikut bergabung dengan dirinya saat ini.
"Dia masih istirahat Bu," jawab Fatimah, dia sengaja mengatakan jika Satya sedang beristirahat agar sang Ibu tidak curiga atau berfikir macam-macam tentang pernikahan yang menurut Fatimah sedikit aneh itu.
"Owalah, harusnya kamu ikut istirahat seperti Satya, bukannya malah ke sini," ujar Ibu.
"Tidak apa-apa Bu, Fatimah tidak mengantuk ataupun lelah, jadi, biar Fatimah di sini saja membantu Ibu." Sangkal Fatimah yang memang merasa tidak lelah.
"Apa kamu tidak membuatkan kopi untuk suamimu?" tanya Ibu.
"Aku tidak tahu Mas Satya suka kopi atau tidak," jujur Fatimah, dia tadi sempat menawarkan kopi pada Satya, tapi Satya malah tidak menjawab dan memilih mengusir Fatimah dari kamar.
"Satya suka kopi hitam yang di campur susu sapi asli, dan Mama sudah menyiapkan susu, agar kamu bisa membuatkan suamimu kopi kesukaannya," sela Mama Satya yang ternyata masih belum pulang karena rencananya Ibunda Fatimah dan Mama Satya akan mengantarkan keduanya pindahan ke rumah baru yang memang sudah Satya siapkan jika dia sudah punya pasangan.
"Mama belum pulang?" sahut Fatimah setelah dia menoleh ke arah sang Mama yang baru saja datang bergabung dengannya.
__ADS_1
"Belum, Mama dan Ibumu sudah sepakat akan mengantar kamu dan Satya pergi ke rumah baru kalian," jawab Mama Satya dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Rumah baru?" Fatimah mengulangi kata-kata Mama Satya, dia memang tidak tahu dengan rencana pindah ke rumah baru.
"Kenapa? Apa Satya tidakberitahumu sebelumnya?" tanya Mama Satya.
"Tidak, dia tidak menceritakan apapun padaku Ma," jelas Fatimah.
"Mungkin dia belum sempat menceritakannya," bela Ibu Fatimah yang mengerti jika Fatimah dan Satya baru bertemu saat mereka melangsungkan akad nikah jadi sangat wajar jika Satya dan Fatmmahasib butuh banyak waktu untuk mengenal satu sama lain, atau berbicara banyak hal agar mereka bisa lebih dekat.
"Baiklah Bu, kalau begitu aku ke atas dulu." Pamit Fatimah melangkah pergi meninggalkan dapur menuju kamar.
"Ini kopi untukmu, Mas," ujar Fatimah sesaat setelah sampai di dalam kamar.
"Mas," sejak tadi Fatimah mencoba mengumpulkan keberanian untuk membicarakan hal yang memang harus di bicarakan lebih dahulu.
"Hm," sahut Satya tanpa merubah posisi ataupun menoleh ke arah Fatimah yang sekarang memilih duduk tak jauh dari tempat Satya duduk.
"Apa setelah ini kamu berencana untuk pindah ke rumah baru?" tanya Fatimah dengan nada penuh kehati-hatian.
Mendengar pertanyaan Fatimah membuat Satya terpaksa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" bukannya langsung menjawab dan menjelaskan semuanya, Satya malah balik bertanya, sungguh menyebalkan.
"Mama baru saja mengatakan padaku jika kita akan pindah hari ini ke rumah baru yang sudah kamu siapkan," Fatimah yang memang butuh penjelasan Satya menerangkan apa yang terjadi.
"Aku memang berencana seperti itu, memangnya ada apa? apa kamu ada masalah dengan rencanaku itu?" Satya kembali bertanya, kali ini dia menatap Fatimah dengan tatapan yang tak bisa di artikan, sedang Fatimah yang di tatap malah merasa salah tingkah.
"Ibuku baru saja sembuh, dan aku ingin merawatnya, lagi pula kita baru saja menikah karin, kenapa harus buru-buru pergi, aku masih ingin merawat Ibu," jelas Fatimah dengan mata yang berkaca-kaca dia berucap.
"Aku ingin kita pindah sekarang, dan kamu sebagai istri harus ikut bersamaku, karena aku imammu saat ini," tegas SatyaSatya, Fatimah hanya diam mematung menatap penuh rasa aneh ke arah Satya yang terlihat tegas dan tak terbantahkan.
"Bisakah kau mengerti keadaanku? selama ini aku berada di pesantren dan aku tidak punya banyak waktu bersama Ibuku, sekarang di saat aku memiliki kesempatan untuk menemani hari-hari Ibu, kamu mau memaksaku keluar dari rumah ini," kali ini Fatimah benar-benar ingin menangis dan mengungkapkan segala rasa yang ada dalam hatinya, Laki-laki yang memang belum dia kenal sifatnya itu menyakiti hatinya tepat di hari pertama setelah akad nikah.
"Mas Satya, aku mohon padamu, izinkan aku tinggal di sini beberapa hari lagi, setidaknya seminggu, setelah itu Mas Satya bisa mengajakku pindah ke rumah baru," pinta Fatimah dengan ekspresi wajah penuh kepedihan dia berucap, berharap Satya mau menuruti permintaannya.
Satya terdiam menatap lekat ke arah Fatimah yang terus menatap Satya dengan tatapan penuh kepedihan, bagaimanapun juga Satya masih memiliki hati meski rasa dendam yang dia miliki cukup besar dan menguasai hatinya.
"Baiklah, mau atau tidak kamu harus menyetujui keputusan yang akan aku berikan," Satya memberi jeda untuk setiap kalimatnya.
"Aku akan izinkan kamu tinggal di sini tiga hari lagi, setelah itu kita akan pindah ke rumah baru, jangan menawar ataupun membantahnya!" tegas Satya.
Fatimah semakin bingung melihat sikap Satya, sebenernya dia menikahi Fatimah karena menyukainya atau malah sebaliknya? sikap Satya membuat Fatimah ragu jika Satya menikahinya karena memang ingin berumah tangga dengannya dan menyukai Fatimah.
__ADS_1
"Aku lapar, apa makanannya belum siap?" Satya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal lain.
"Aku lihat dulu," sahut Fatimah melangkah pergi meninggalkan kamar dan kembali berjalan meninggalkan kamar menuju dapur untuk membantu memasak agar cepat selesai dan Satya bisa segera makan, meski Fatimah merasa aneh dengan sikap yang di tunjukkan Satya, dia tetap menjalankan tugasnya.