Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Berkunjung Ke Rumah Ibu.


__ADS_3

"Dan sekarang Ibu merasa waktunya sudah tepat, Ibu ingin kamu memakai atau menyimpannya, kamu bisa mempergunakannya jika suatu saat kamu dalam kesulitan, " sambung Ibu Halimah.


Ibu Halimah mengambil satu cincin, satu gelang, dan satu kalung, dengan gerakan pasti ibu Halim memakaikan satu set perhiasan yang baru saja diambil kepada Fatimah.


"Kenapa perhiasannya banyak sekali, ibu? "Tanya Fatimah saat melihat perhiasan yang ibunya berikan bukan hanya satu set tapi 5 set perhiasan yang terkumpul menjadi satu dalam satu kotak berukuran sedang yang baru saja diambil oleh ibu Halimah.


"Ibu membelinya sejak dulu, ibu selalu membeli satu set perhiasan setiap tahun setelah usaha Ibu maju, karena itulah Ibu punya lima set perhiasan untukmu simpanlah! dan gunakan jika kamu membutuhkan!" sahut Ibu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Terima kasih, Ibu," ucap Fatimah setelah semua perhiasan yang di berikan oleh Ibunya terpasang.


"Kamu cantik sekali, Nak, perhiasan itu benar-benar pas dan terlihat cantik ketika kamu memakainya," seru Ibu Halimah memuji kecantikan Fatimah, sedang Fatimah hanya tersenyum menanggapi pujian sang Ibu.


"Terima kasih, Ibu," jawab Fatimah sambil tersenyum senang melihat ke arah Ibu.


Keduanya saling berpelukan menyalurkan segala rasa sayang yang mereka miliki.


"Oh ya, Satya mana?" tanya Ibu setelah dia sadar dan ingat pada Satya yang kini juga menjadi puteranya.


"Mas Satya sedang bekerja Ibu," Jawab Fatimah sambil terus menampakkan sebuah senyuman yang sukses membuat Ibu Halimah tersenyum senang karenanya.


"Kenapa dia tidak di ajak ke sini, Nak?" Ibu kembali bertanya.


"Bukankah tadi Fatimah sudah katakan kalau Mas Satya sedang kerja Ibu, kapan- kapan aku ajak ke sini." Jelas Fatimah.


"Baiklah, kalau begitu lebih baik sekarang kita makan dulu!" ajak Ibu Halimah.


"Ibu masak apa hari ini?" kali ini Fatimah yang bertanya.

__ADS_1


"Ibu masak semur jengkol dan daging sapi, ayo makan! " Jawab Ibu Halimah yang tak ingin membuang waktu dan langsunge mengajak sang Puteri uhh untuk makan bersama.


Menu paling enak dan nikmat adalah, menu yang di makan bersama dengan keluarga.


Cukup lama Fatimah berada di rumahnya, hingga dia merasa lelah memilih untuk tidur sejenak menghilangkan rasa lelah yang sejak tadi dia rasakan.


"Bu, aku mau istirahat dulu" Pamit Fatimaah, sedikitpun Ibu Halimah tak bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Fatimah datang ke rumah sendirian, jika Satya sibuk bekerja kenapa dia tidak mengantarkan Fatimah dan berangkat bekerja setelah mengantar Fatimah.


"Istirahatlah!" sahut Ibu Halimah sambil mengusap lembut lengan Fatimah.


Dengan langkah pelan dan pasti Fatimah berjalan masuk ke dalam kamar, di mana tempat yang dulu pernah menjadi tempat yang paling dirindukan saat dirinya berada di pesantren, tempat di mana Fatimah mengutarakan segala keinginan dan harapan dirinya kepada sang Ilahi.


"Rasanya aku masih saja merindukanmu Aku ingin berada di sini jauh lebih lama tapi keadaan tidak pernah mau berpihak padaku untuk tinggal jauh lebih lama di sini, " lirih Fatimah seraya menatap seluruh isi kamar, sedang sudut hati Fatimah merasa kosong dan hampa setelah masuk ke dalam kamar, meski rasa Rindunya masih tetap sama, tapi ada perasaan lain yang mengusik hati Fatimah, perasaan yang tidak pernah bisa di lukiskan ataupun digambarkan, Mungkinkah Fatimah sudah jatuh cinta kepada Satya? Atau dia malah ingin pergi dari sisi Satya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja muncul dalam benaknya, sikap Satya semakin hari semakin dingin bukannya mencair dan menghangat ataupun mulai menyukainya, Fatimah justru merasa jika Satya Tidak Pernah mencintainya ataupun menginginkan keberadaan dirinya di sisinya.


Fatimah yang merasa lelah dengan semua pertanyaan yang terus saja muncul perlahan merasa mengantuk dan akhirnya terlelap dalam mimpi yang mungkin saja indah.


Sejak tadi pagi Satya merasa tidak tenang, membiarkan Fatimah pergi sendiri tanpa dirinya bukanlah hal yang baik dan tidak bisa di biarkan, bagaimana reaksi sang Ibu mertua jika tahu kalau putri kesayangannya itu pulang sendiri tanpa dirinya? apa yang akan dia fikirkan tentang Satya yang tidak mengantar Fatimah?


"Rey!" panggil Satya pada asisten pribadinya.


"Iya, Tuan," sahut Reyno yang merupakan asisten pribadi yang selalu setia menemani Satya kapanpun.


"Aku akan pulang dan wakilkan aku di pertemuan berikutnya!" titah Satya yang merasa harus menyusul Fatimah sebelum sang mertua benar-benar memprotes nya.


"Baik, Tuan," sahut Reyno yang tak pernah bisa menolak keinginan sang majikan.


Satya langsung melenggang pergi meninggalkan Reyno sendiri di ruangannya. Reyno adalah orang kepercayaan Satya yang selalu setia padanya.

__ADS_1


"Aku harus segera sampai di sana," batin Satya yang kini berjalan menjauh dari kantor menuju parkiran untuk memakai mobil kesayangan yang tidak pernah bisa tergantikan.


Mobil terus melaju membelah jalan raya menuju rumah Fatimah yang memiliki jarak cukup jauh dari kantor Satya, hingga sampailah di sebuah rumah yang terlihat tenang dan tentram meski bentuk rumahnya tak sebagus milik Satya, tapi masih sangat layak untuk di tinggali.


"Permisi Bu," suara Satya terdengar dari luar ruangan.


"satya, ada ala?" tanya Bibik Husna yang baru saja membuka pintu.


"Harusnya tamu itu di suruh masuk Bik, bukan malah di serga dengan pertanyaan," sahut Satya yang cukup membuat Bibik Husna sadar jika apa yang dia lakukan bukanlah hal yang benar.


"Astaga, Bibik lupa, masuklah!" Bibik Husna yang menyadari kesalahannya dan langsung melebarkan pintu yang tadi dia buka sedikit.


"Ibu dan Fatimah di mana, Bik?" tanya Satya sesaat setelah dia masuk ke dalam kmar.


"Fatimah tidur di kamarnya, sedang Mbak Halimah ada di ruang keluarga," jawab Bibik Husna.


Tanpa banyak bicara lagi Satya langsung melangkah menuju ruang keluarga untuk menemui sang Ibu mertua. Dari kejauhan terlihat jika sang Ibu mertua sudah ada di ruang keluarga.


"Ibu," sapa Satya yang langsung meraih tangan sang Ibu mertua yang terlihat terkejut dengan kedatangan Satya yang tiba-tiba.


"Loh, Satya sudah pulang bekerja?" tanya Ibu Halimah yang bingung melihat sang menantu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Aku tadi sudah bekerja, dan kefikiran Fatimah yang tadi pulang sendiri, karena itulah aku menyusul Fatimah ke sini," jelas Satya.


Mendengar penuturan sang menantu cukup membuat Ibu Halimah lega, ternyata Satya peduli kepada putrinya.


"Fatimah sedang beristirahat di kamar, kamu bisa menyusulnya. Pergilah! dan temui dia di kamarnya!" titah Ibu Halimah yang mengerti jika sang menantu pasti ingin segera melihat Fatimah, karena itulah dia memerintahkan Satya untuk menemuinya langsung di kamar.

__ADS_1


"Baik, Bu, kalau begitu Satya pamit pergi dulu," pamit Satya yang langsung melangkah menuju kamar sesuai dengan perintah yang baru saja dia berikan.


__ADS_2